728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 28 September 2017

    #warta : Tumpang Tindih Logika di Dalam Aksi 299

    Sejumlah Ormas dan tokoh terkenal merencanakan melakukan aksi di tanggal 29 September 2017, dengan agenda menolak kebangkitan PKI dan menolak Perpu Ormas. Dari agenda aksi ini, kita akan bahas mengapa ini menjadi satu wadah yang menunjukkan logika yang tumpang tindih.

    Menolak kebangkitan PKI

    Semua kita, warga Indonesia, sudah sepakat, tidak ada tempat di negeri ini untuk lahirnya kembali PKI, dalam bentuk apapun. PKI adalah musuh negara, bertentangan dengan agama apapun, bertentangan dengan ideologi Pancasila dan bertentangan dengan cita-cita Undang-Undang Dasar 1945. Karena sudah tidak ada tempat, maka otomatis PKI sudah tidak ada, sehingga seyogianya tidak perlu ada demo untuk sesuatu yang memang tidak ada.

    Hal senada sudah disampaikan oleh tokoh-tokoh bangsa ini. Seperti yang disebutkan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu di DetikNews bahwa beliau sendiri yang akan gebug bila ada PKI di Indonesia ini. Dari pihak ulama, Ketua MUI juga menyampaikan hal senada di media Nasional Tempo, begitu juga dari Ketua PBNU mengamini hal yang sama.

    Jadi, kita yakin PKI memang sudah benar-benar tidak ada di Indonesia ini, sehingga demo menolak kebangkitan PKI, seyogianya tidak menjadi wajib dilakukan. Namun, bukan berarti kita melarang orang untuk berdemo, hanya mengingatkan, bila semua pihak yang memang pantas suaranya untuk didengar, sudah menyampaikan hal itu, maka seyogianya kita mematuhi.

    Tapi, masih akan ada selalu yang berkelit dengan membantah, kata siapa tidak ada PKI, buktinya ini dan itu, dengan menunjukkan aksesoris, foto dan video-video yang menunjukkan tanda-tanda PKI.
    Itu sebenarnya mudah sekali melacaknya. Jika Anda punya aksesorisnya, Anda tentu bisa jelaskan dari nama Anda dapatkan, lalu silahkan lapor ke polisi untuk menangkap orang yang memproduksi aksesoris tersebut. 

    Begitu juga dengan foto dan video. Bila Anda bisa mendapatkan sebuat foto dan video tentang kegiatan PKI, tentu Anda bisa menunjukkan dari mana asalnya foto dan video tersebut sehingga polisi dapat mengusut tuntas lokasi dan pelaku di dalam video tersebut.

    Masalahnya sekarang, semua aksesoris, foto dan video, hanya Anda dan kelompok Anda yang memilikinya, menemukannya dan menggunakannya sebagai bahan demo. Hanya Anda yang tahu dari mana asalnya, sedangkan orang lain tidak.

    Lalu ada pula yang malah menuduh balik ke kita, bila kita tidak setuju dengan demo berkenaan dengan PKI, kita malah disebut sebagai PKI itu sendiri. Hahaha. Logika memang terbalik. Sini saya bisikkan, jadi menurut Anda kalau ada yang melarang pihak lain minum miras, melarang orang lain berjudi, atau melarang orang lain melacur, seperti yang sering terjadi menjelang bulan puasa, apakah berarti yang sering melarang itu sesungguhnya sama dengan apa yang dilarangnya? Kita sepakat kan, tidak seperti itu logikanya?

    Kalau logika seperti itu yang kita pakai, teman saya malah punya logika yang lebih lucu. Kalau tukang siomay, suka teriak ‘siomay’, kalau tukang sol sepatu suka teriak ‘sol sepatu’. Sini saya bisikkan lagi, kalau Anda sering teriak ‘PKI’ apakah Anda juga tukang PKI?

    Menolak Perpu Ormas

    Disini akan semakin jelas bahwa logika memang terbalik-balik, tumpang tindih seperti kecoa terinjak sepatu kuda. Dengkul ada di perut, mata ada di hidung, kuping ada sayap.
    Sudah jelas salah satu point dari Perpu Ormas adalah sebagai berikut;
    (4) Ormas dilarang:
    1. Menggunakan nama, lambang, bendera, atau simbol organisasi yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama, lambang, bendera, atau simbol organisasi gerakan separatis atau organisasi terlarang;
    2. melakukan kegiatan separatis yang mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan/atau
    3. menganut, mengembangkan, serta menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila.

    Jelas disitu adalah mengantisipasi dan meredam tumbuhnya kembali, salah satunya, PKI sebagai organisasi terlarang. Negara tentu sudah mempelajari semua ancaman yang bisa mengakibatkan gangguan terhadap NKRI, maka, hal-hal seperti itu segera diantisipasi.

    Nah, jika sekarang agenda Anda untuk berdemo adalah menolak Perpu itu, bukankah itu berarti Anda justru membiarkan PKI malah tumbuh kembali?

    Hayo…

    Memang sulit kadang menjelaskan, bila logika yang kita pakai sudah terbalik-balik, tumpang tindih tidak keruan. Makanya di awal tadi saya secara implisit mengajak, sebaiknya unjuk rasa seperti ini tidak perlu dilanjutkan. Banyak cara unjuk rasa yang lebih tepat sasaran.

    Masih ingat dengan anak sekolah di salah satu pedalaman Indonesia, yang mengupload foto mereka dengan seragam tanpa sepatu, di media sosial, dengan tulisan lebih kurang, minta untuk dibelikan sepatu sekolah. Nah, unjuk rasa seperti itu justru lebih mengena dan bisa langsung dicarikan jalan keluarnya.

    Masih ingat juga bagaimana sistem yang dibangun Pemda DKI tempo hari, dengan adanya laporan warga melalui ponsel, pada saat yang sama, keluhan dapat segera diatasi.

    Jadi , mari berunjuk rasa yang tepat sasaran dan berguna. Yang intinya adalah untuk kemajuan bangsa Indonesia secara bersama-sama. Bukan demi kepentingan kelompok semata.

    Salam logika.





    Penulis   :    Jaya Surbakti    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #warta : Tumpang Tindih Logika di Dalam Aksi 299 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top