728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 05 September 2017

    #Warta : Tragedi di Myanmar, Patah Hati Karena Raisa, dan Provokasi Jin Medsos

    Pembantaian yang terjadi di Myanmar adalah kasus kemanusiaan yang sangat serius. Kita semua turut berduka atas tragedi berdarah tersebut. Tidak ada satu manusia beradab manapun yang menganggap tragedi ini sebagai sebuah lelucon. Kecuali bila dia memang tidak beradab.

    Kita semua ikut berduka. Sebagai manusia, kita merasakan luka yang sama.

    Konflik di Myanmar adalah sebuah konflik panjang yang penuh liku dan sangat kompleks. Namun dapat dipastikan bahwa itu bukanlah persoalan antar agama. Konflik ini adalah kekerasan junta militer terhadap yang dianggap sebagai pemberontak.

    Ini wilayah yang sama sekali jauh dari aroma perang antar agama. Jauh. Kalau ada yang mencoba mendekat-dekatkan apa yang jauh itu, maaf, harus saya katakan dia goblok. Iya, boleh dibaca dengan cara mengeja: go – be – lok!

    Apalagi, bila dengan momentum ini lalu pasang aksi demo bela ini bela itu. Menunjukkan betapa mudahnya Anda diprovokasi orang.

    Sejak konflik Rohingya kembali memanas, sikap pemerintahan Aung San Suu Kyi juga terlihat semakin tegas. Ini berita jelas bukan berita isapan jempol. Kemarahan pemerintah Myanmar dipicu serangan ratusan gerilyawan Rohingya yang mengepung 20 pos perbatasan di Rakhine dan membunuh belasan tentara.

    Tentara Myanmar pun diturunkan untuk melakukan operasi pembersihan demi mengakhiri pemberontakan yang dikatakan mereka sebagai “ektrimis teroris”, namun tentu dengan catatan bahwa militer telah diinstruksikan untuk melindungi warga sipil.

    Seorang komandan pasukan militer Myanmar mengatakan bahwa sasaran tentara Myanmar adalah militan Rohingya. Mulai dari tanggal 25-30 Agustus, militer telah melakukan 90 kali baku tembak besar-besaran dengan kelompok militan bernama Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) dan mengakibatkan banyak korban jiwa, termasuk sipil yang dianggap ‘pemberontak’, tentara, serta pejabat pemerintah.

    Nah, kasus pertempuran di Myanmar ini oleh sebagian orang berusaha ditarik-tarik masuk ke negeri kita. Ngerinya lagi, dengan segala cara kasus ini dikait-kaitkan ke persoalan agama sehingga mulai muncul ancam-mengancam segala, dan bahkan diarahkan ke pemerintahan Jokowi. Ini  seungguh berlebihan dan santer tercium aroma busuknya.

    Lalu mendadak ada berita Candi Borobudur akan ‘dikepung’. Dagelan macam apa pula ini. Tragedi kemanusiaan di Myanmar dengan pertikaian berdarah antara Junta Militer dan Rohingnya kok candi yang jadi sasaran. Ini ora waras atau akibat kena hipnotis jin medsos yah?

    Kicauan Beraroma Provokasi di Medsos

    Kawan saya pernah bilang ke saya, “Mike you can’t cure stupidity…”  Ternyata benar perkataan kawan saya itu. Orang-orang seperti Fadli, Fahri, Jonru, dan Titaful adalah termasuk sebagian yang sulit ‘disembuhkan’ itu.

    Mereka ini nggak sembuh-sembuh juga. Apa nanti tunggu Tuhan yang tegur dulu baru sembuh secara alamiah ya?

    Mereka meracau bak pangeran sinting yang menjadikan kasus apapun (baca: APAPUN), demi menyerang Jokowi, nyinyirin Jokowi dan pemerintah, kendatipun harga yang harus dibayar, kelak di kemudian hari, adalah pasti amat mahal. Bisa dengan pertumpahan darah. Ini berbahaya.

    Kasus Rohingya inipun terlihat mulai dipolitisasi lewat cuitan dan komentar mereka yang miring, asbun dan astok. Asal bunyi dan asal malontok (dalam dialek Manado).

    Mari kita simak beberapa asal bunyi yang  dapat menggiring opini atau dapat memprovokasi orang (terutama warga bumi datar) tentunya.

    Cuitan si Zon. Katanya begini, “Rezim ini kelihatan tak mendukung masyarakat #rohingya yg jd korban pengusiran n pembantaian. Apakah krn kebetulan mereka muslim?”

    Cuitan itu sampai tulisan ini diibuat sudah mendulang 1,878 reply, lalu diretwit sebanyak 1,037 kali serta mendapat 1,493 likes. Lumayan direspons, meskipun pernyataan ini sebetulnya menyesatkan orang.

    Lalu cuitan Fahri yang tak kalah kental aroma dodolnya. Kicaunya, “Apa susahnya Sama2 mendukung rakyat #ROHINGYA .Semoga saja Presiden dapat nama…kita Kasi…” Masih disambung  lagi dengan, “Kenapa pendukung rezim ini sinis kepada perjuangan kemanusiaan?”

    Kicauan itu direply oleh 784 orang, diretwit kembali oleh 1368 orang dan ada sekitar 1858 yang memberi likes. Entah apanya yang mereka suka dari kicauan dodol semacam itu. Memalukan.

    Tak mau kalah, si Jonru juga melayangkan twit menggelikan dan super dangkal lainnya. Ini kicauan yang membuat saya hampir mati karena ketawa nggak berhenti selama beberapa menit. Untunglah cepat-cepat saya tarik kuping sendiri sekuat-kuatnya, dan segera tersadar dan buru-buru berhenti ketawa.

    Penasaran pengen baca isi twit si Jonru seperti apa? Ayooo…penasaran atau penasaran banget nih? Mau banget atau mau muntah nih? Hua ha ha….

    Cekidot aja. Jonru: “Raisa menikah, engkau patah hati. Tapi Rohingya berdarah, kau tak peduli. Hatimu terbuat dari apa? #SaveRohingya”

    Bloonnya nggak ketulungan. Apa hubungannya orang patah hati sama kasus di Rohingya gitu lho. Saya aja patah hati tapi tetap move on kok. Di saat bersamaan saya tetap menaruh kepedihan mendalam atas tragedi kemanusiaan di Rohingya. Nggak ada hubunganya antara patah hati dan Rohingnya, Jon.

    Maaf Raisa, hatiku memang patah menjadi beberapa bagian, tetapi otakku tidak pernah patah loh ya. Masih tetap utuh dan bisa berpikir waras. Beda sama si Jontor ini.

    Kudoakan kau bahagia bersama Hamish yaaa…. Kapan kita ngopi-ngopi nih? Bila waktunya fixed, akan saya ajak beberapa penulis Seword yang fans banget sama dirimu githu lho.

    Eh, kok jadi ngomongin Raisa sih. Stop. Kita kembali ke pokok persoalan.

    Bukan hanya mereka bertiga yang terkesan memanas-manasi situai dan berusaha cari panggung dengan menunggangi tragedi Rohingya ini demi untuk menyerang, menjelekkan, atau menyindir pemerintahan Jokowi.

    Orang yang terdidik sekelas Tifatul saja toh masih ngetwit foto hoax kok. Padahal selevel dia harusnya uji kesahihan sebuah gambar atau informasi terlebih dahulu sebelum dilempar ke publik. Kecuali kalau dia memang punya maksud lain.

    Setelah terbongkar itu foto hoax, barulah dia buru-buru meminta maaf. Ia mengaku mendapat foto tersebut dari teman di Komisi III DPR.  “Saya dikirimi sama teman Komisi III, ada foto pembantaian, tidak usah saya sebutkan namanya. Ada pembantaian, foto itu banyak, lo. Saya juga sudah koreksi.”

    Foto sudah terlanjur beredar, bung. Makanya pakailah itu otak, filter informasi yang masuk ke HP Anda baru share atau posting di medsos. Masak sekelas Anda cara berpikirnya seperti itu. Bagaimana kalau sudah banyak yang terprovokasi akibat foto itu?

    Minta maafnya juga terkesan nggak tulus. Soalnya orang ini masih pakai embel-embel kalimat lucu ini sehabis meminta maaf, “Jangan terlalu baper, kalau baper pasti mati sendiri”. Sudah nyebar hoax terus masih ngeyel kayak gitu. Terbuat dari apa hati Anda, bung? Pasti dari kulit bengkoang ya?

    Ingat, semua yang kalian kicaukan bisa memprovokasi orang banyak. Ini parameternya bisa diukur. Akankah kalian siap tanggung akibatnya di kemudian hari?

    Provokasi  Atasnama SARA

    Kita jangan pernah menutup mata terhadap berbagai pertikaian dan peristiwa yang terjadi di negeri ini oleh karena propaganda dan sentiment SARA. Penembakan yang menewaskan empat mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998 ternyata berbuntut panjang dan menyulut emosi warga. Akibatnya, keesokan harinya Jakarta menjadi lautan aksi massa yang terjadi di beberapa titik. Penjarahan dan pembakaran pun tak dapat dihindarkan.

    Konflik berbau agama paling tragis dan tak terhindarkan pun pernah terjadi di negeri ini. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1999.  Konflik dan pertikaian yang melanda masyarakat Ambon sejak bulan Januari 1999 akhirnya menjadi aksi kekerasan brutal yang merenggut ribuan jiwa dan menghancurkan semua tatanan kehidupan bermasyarakat di sana.

    Konsep nilai kekeluargaan bertajuk ‘pela-gandong’ pun terkikis dan raib tanpa bekas. Padahal, Ambon itu terkenal dengan semangat kekeluargaan dan persaudaraan yang luar biasa tinggi.

    Lalu kemudian Indonesia kembali menitikkan air mata. Tragedi Sampit di tahun 2001 menjadi konflik berdarah-darah antar suku yang paling membekas dan membuat bangsa ini kembali menangis. Konflik yang melibatkan suku Dayak dengan orang Madura menjadi buah bibir di mana-mana.

    Kini, sentiman atas nama SARA kembali mulai dipakai dan dipropaganda sedemikian besar dan luas, menyapa hampir seluruh pelosok negeri ini untuk supaya terpancing. Siapapun pihak yang mengail di air keruh mestinya sadar dan segera bertobat.

    Anda harus ingat bentul. Membawa-bawa fanatisme agama dalam konteks tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rohingya adalah sangat berbahaya.

    Banyak orang jadi sangat bodoh karena fanatisme keagamaan yang dangkal dan buta. Barusan saya baca postingan seseorang yang luar biasa bodoh. Postingan bodoh.

    Isinya begini, “Pernikahan raisa hanya strategi jokowi untuk mengalihkan isu seperti first travel dan rohingnya. Pernikahan raisa tidak benar seperti yang terlihat di media. Ini sudah direncanakan sedemikian rupa antara jokowi dan media asing. Jangan mau dibodohi wahai para umat muslim indonesia”

    Kalimat geblek itu tak saya ubah sedikitpun, salah ketik dan salah tulispun tak saya koreksi. Biar ini mempertontonkan betapa bodohnya orang yang dirasuki fanatisme agama yang berlebihan.

    Ini ada dua kemungkinan sih. Orang yang posting itu (memakai nama Hendra Jonathan Shihab) adalah manusia fanatik kebablasan, atau dia adalah salah satu lelaki korban patah hati akibat menikahnya Raisa, dan dia rupanya belum sanggup menerima kenyataan bahwa Raisa telah benar-benar menikah.

    Woiii eling mas eling….Raisa itu udah mau bulan madu keliling dunia, mau asoy..asoy.… Terus ente mau ngarep apa lagi mas? Udalah. Ingat itu anak bini di rumah. Udah dibeliin beras belom buat masak besok?

    Belajarlah untuk bisa menerima, seperti saya yang sudah bisa move on hari ini. Masih banyak Raisa Raisa yang lain kok. Tak ada rotan akar pun jadi kata sebuah pribahasa. Tak ada Raisa, kursi rotan pun jadi kata kawan saya. Cieeeeee….. Kursi rotan yang lagi diduduki Isyaxx.

    Terlalu cinta Raisa itu jelas keliru. Ia sudah menikah. Cinta yang membabibuta terhadap agama atau disebut fanatisme berlebihan, sama, itu juga keliru.

    Neurog Donatella Marazitti membandingkan sejumlah pasien gangguan obsesif-kompulsif dengan sejumlah orang yang sedang jatuh cinta. Hasilnya menunjukkan bahwa baik orang-orang yang sedang jatuh cinta maupun pasien gangguan neurotik itu sama-sama mengalami penurunan 40% kadar serotonin. Jadi, jatuh cinta dan gangguan saraf ternyata memiliki ciri-ciri biokimiawi yang serupa dalam otak.

    Psikologi-pedagogi memahami gangguan obsesif-kompulsif sebagai bentuk prilaku neurotik yang menunjukkan kelemahan sistem saraf. Cirinya adalah pikiran, perkataan, perbuatan menjadi tidak rasional lagi atau irasional.

    Terlalu terobsesi pada seorang cewek itu bisa jadi bahaya, paling nggak bahaya buat diri sendiri dan cewek tersebut. Begitu juga, terlalu terobsesi pada membela agama dengan cara apapun, bisa berbahaya. Kita kadang menjadi irasional dalam berkata maupun bertindak. Ini jelas berbahaya.

    Sebuah penelitian lain dengan alat MRI oleh Helen Fisher menunjukkan bahwa pada waktu orang jatuh cinta, ada bagian otaknya yang menyebarkan pemancar saraf yang disebut dopamin. Dalam keadaan normal dopamin yang dihasilkan oleh otak dapat menciptakan semangat dan minat memprestasikan sesuatu yang berguna.

    Tetapi bahayanya, jika otak menghasilkan dopamin secara berlebihan, orang itu menjadi tidak rasional. Ia akan berubah menjadi nekat melakukan hal-hal yang penuh risiko, yang bila dalam keadaan waras tak akan mungkin mau ia lakukan.

    So, jangan terlalu terobsesi atau fanatik terhadap sesuatu, termasuk pada apa yang namanya ‘bela agama’ atau ‘bela Tuhan’. Bahaya itu. Kalian akan bertindak irasional.

    Coba lihat saja. Saking tidak rasionalnya, apa hubungannya coba Rohingya dengan Raisa? Lalu apa hubungan juga Rohingya dengan Presiden Jokowi.

    Seumur-umur saya sekolah, meskipun tidak juara dalam pelajaran sejarah saya masih paham soal sejarah. Bahwa seorang Presiden hanya bisa memimpin satu negara. Nah, Jokowi itu Presiden Indonesia bukan Myanmar, terus kenapa Jokowi yang seolah diserang dalam kasus Rohingya ini?

    Halah, sudalah nggak usah terlalu banyak bullshit lah. Kalian justru yang kehilangan prikemanusiaan atas tregdi kemanusiaan di sana. Tragedi itu lalu kalian politikkan dengan mengait-ngaitkan dengan Jokowi. Gamblang saja, kalian emang mau menjatuhkan dan menjelek-jelekkan Jokowi kan dengan memakai kasus ini?

    Dasar kutu kupret. Sekali menjadi pembenci Jokowi pasti akan terus membenci Jokowi. Lantaran itu sebagian orang kehilangan hati nurani.

    Tragedi Kemanusiaan Bukan Perang Agama

    Jokowi melalui Menlu sudah melakukan apa yang bisa Indonesia lakukan. Jadi hentikanlah bacot serta komen kalian yang tak berdasar itu. Jokowi itu Presiden Indonesia, bukan Myanmar. Ini harus kembali ditegaskan.

    Masalah tragedi Rohingnya? Nggak usah kalian sok tau, apalagi narik-narik ini sebagai tragedi agama dan melemparkan bara api di negeri ini untuk memprovokasi orang beragama di sini. Terlalu banyak bumbu perusak yang kalian sebarkan di sini.

    Seperi yang sudah saya tuliskan di atas, kasus ini sangat komprehensif. Tetapi intinya ini sama sekali bukan kasus agama. Kaum minoritas Rohingnya (apapun agamanya di situ) merasa bahwa mereka diperlakukan tidak adil. Maka lalu mereka melakukan tindakan memberontak. Menyerang aparat dan fasilitas negara.

    Junta Militer pun membalas dengan brutal dan sangat represif. Mereka membakar desa dan membunuh banyak orang. Kita mengutuki mereka.

    Tetapi sudah sangat jelas, ini persoalan dalam negeri mereka. Pertempuran di sana adalah antara Rohingnya melawan Junta Militer Myanmar. Dan yang melawan Junta Militer tidak hanya muslim Rohingnya, tetapi juga agama lainnya seperti Kristen dan Buddha yang tergabung dalam beberapa etnis berbeda, yang juga memusuhi Junta Militer Myanmar.

    Indonesia hanya bisa membantu dari segi sumbangan kemanusiaan, dan melobi PBB serta pemerintah Myanmar untuk bertindak lebih manusiawi, lain tidak.

    FPI mau kirim laskarnya ke sana? Bagus. Tapi untuk apa? Kalau untuk berperang atas nama bela agama? Lelucon siang bolong, lupakan. Kalau untuk bantu korban, kasih makan kasih minum, baru kita angkat jempol, itu oke-oke saja.

    Akhirnya, hentikan segala macam provokasi, menyebarkan hoax, apalagi menyebarkan ujaran kebencian karena saya yakin Anda sebetulnya bukan orang-orang bodoh. I can’t cure your stupidity, but at least you can hide your stupidity. Iya toh? Then, do it! Hihaaaa….




    Penulis :      Michael Sendow    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Tragedi di Myanmar, Patah Hati Karena Raisa, dan Provokasi Jin Medsos Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top