728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 26 September 2017

    #Warta : Tidak Dapat Menunjukkan Bukti, Buni Yani Kembali Marah-Marah Di Persidangan

    Pembaca Seword ingin membuktikan seseorang itu bersalah atau tidak itu sangat gampang sekali. Orang yang bersalah cenderung akan menunjukkan emosinya ketika mencoba untuk membela diri. Perhatikan saja, kalau orang bersalah akan cepat marah ketika dia menjadi tertuduh. Karena itu ada pertahanan terakhir bagi dirinya. Dia menganggap bahwa dengan kemarahan yang ditunjukkan maka orang yang dihadapinya akan takut. Dan orang lain tidak akan berani dengan dirinya. Maka kemarahan adalah senjata terakhir bagi orang yang bersalah mempertahankan dirinya.

    Saya rasa pembaca Seword mempunyai pengalaman ketika menghadapi orang yang demikian. Dan apa yang saya sampaikan di atas, pasti anda semuanya setuju. Karena orang yang merasa tidak bersalah akan menghadapi tuduhan yang ditimpakan kepadanya dengan kepala dingin. Karena dia akan membela dirinya dengan segala kebenaran yang ada di pihaknya. Begitu juga kebalikannya. Orang akan cepat amarah jika kesalahannya tersebut ketahuan. Karena merasa terancam, maka naruni pertahanannya akan keluar berupa emosi yang menyala.

    Dan menurut pembaca Seword apakah Buni Yani seorang yang bersalah, kalau melihat tingkah polahnya dalam beberapa persidangan yang digelar di Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Bandung, Jalan Seram, Kota Bandung? Kita melihat beberapa kali Bunu Yani meluapkan amarahnya kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) karena Buni Yani merasa difitnah oleh JPU.

    Bahkan pada Sidang ke-15 yang digelar hari ini, Selasa (26/9/17) Buni Yani kembali memperlihatkan amarahnya ketika Jaksa Penuntut Umum meminta kepada Buni Yani bukti bahwa dirinya mengunduh video versi pendek pidato mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu.

    “Saya menegaskan, darimana anda dapat video berdurasi 30 detik itu?” tanya salah seorang anggota JPU.

    “Saya mendapatkan video itu dari akun Facebook bernama Media NKRI,” jawab Buni.

    Ketika anggota JPU meminta Buni Yani untuk memperlihatkan jejak digital bahwa video itu diunduh melalui gawainya dari akun Facebook Media NKRI. Buni Yani yang tidak bisa menunjukkan bukti tersebut hanya mengatakan bahwa bukti tersebut sesuai dengan screenshot yang dilampirkan. Tentu jawaban Buni Yani ini tidak memuaskan anggota JPU tersebut dan tetap meminta kepada Buni Yani memperlihatkan bukti digital bahwa dirinya memang mengunduh video tersebut dari laman Facebook Media NKRI.

    Karena terjadi perdebatan antara JPU dan Penasihat Hukum Buni Yani, maka keduanya diminta untuk berdiskusi dengan di meja majelis hakim.

    Tiba-tiba, tanpa diketahui pemicunya, Buni marah terhadap tim JPU di muka persidangan.

    “Jangan begitu, Anda jangan main fitnah begitu,” kata Buni dengan nada meninggi.

    “Anda jangan memaksaan kehendak, kan sudah ada di BAP, baca saja di situ,” timpal salah seorang penasihat hukum.

    Ini adalah cerminan dari orang yang bersalah. Mereka akan emosi ketika mereka terpojok. Begitu juga dengan Buni Yani, dia akan meluapkan amarahnya ketika argumentasinya dipatahkan oleh orang lain. Ketika dirinya diminta untuk membuktikan bahwa dirinya tidak mengedit video versi pendek tersebut dan mengunduhnya dari pihak lain, dan dirinya tidak dapat membuktikannya, maka dia akan marah. Karena menganggap orang lain telah memfitnah dirinya. Padahal dalam persidangan, tugas Jaksa Penuntut Umum adalah mencari kebenaran. Benar atau tidak Buni Yani mengedit video tersebut harus bisa dijelaskan dengan bukti-bukti yang otentik. Bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Jika Buni Yani tidak bisa membuktikan bahwa dirinya mengunduh video tersebut dari pihak lain, maka berarti benar dirinyalah yang mengedit video tersebut. Sangat simpel sekali.

    Ketika diminta untuk memperlihatkan bukti unduhan video saja Buni Yani tidak bisa, apakah Buni Yani yakin bahwa dirinya akan dibebaskan dari kasus ini? Bahkan sebelum persidangan Buni Yani merasa yakin bahwa dirinya tidak bersalah.

    “Saya harus bebas pokoknya karena mereka enggak bisa membuktikan,” tandasnya kepada Kompas.

    Lihat begitu arogannya perkataan dari Buni Yani ini. Dia merasa dirinya paling benar. Sehingga tercetus kata ‘pokoknya’, jadi kalau nanti ternyata persidangan memutuskan dirinya bersalah, maka dia akan menganggap bahwa persidangan tersebut telah direkayasa. Dan dia merasa bisa mendikte keputusan hakim. Ah, sungguh kasihan Buni Yani ini.

    Saya kira demikian saja….



    Penulis :   Daniel Setiawan    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Tidak Dapat Menunjukkan Bukti, Buni Yani Kembali Marah-Marah Di Persidangan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top