728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 21 September 2017

    #Warta : Sukmawati: Orba Pandai Memelihara Trauma PKI, Soeharto Dalang, Kivlan Kejang

    Di dalam acara ILC yang membuat darah saya mendidih karena tudingan-tudingan dan penambahan-penambahan bumbu pedas untuk PKI, ada angin segar dari Sukmawati Soekarnoputri. Ia dengan begitu objektif mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, meskipun terlihat ketidaksukaannya terhadap rezim Soeharto. Namun penjelasan Sukmawati berbeda total dengan Gatot Nurmantyo, yang cenderung dikendalikan oleh emosi. Anehnya, perempuan justru lebih terlihat lebih rasional ketimbang laki-laki.

    Setidaknya, putri Soekarno ini membukakan banyak pandangan saya mengenai isu-isu yang selama puluhan tahun ini beredar di Indonesia.

    Siapa dalang tragedi 1965 pembunuhan 7 jenderal?
    Selama era Orde Baru berlangsung 30 tahun, kita tahu bagaimana sejarah begitu dibuat menjadi agak abu-abu. Ibu Sukmawati Soekarnoputri pun mengakui hal ini, ia mengatakan bahwa dalam pembuatan film-film yang dibiayai dengan biaya sekitar 800 juta pada saat itu oleh tentara, ada adegan-adegan yang mengerikan.

    Namun adegan-adegan mengerikan tersebut, ternyata berbeda banyak dengan hasil otopsi dan visum. Di dalam penjelasan yang digambarkan oleh detikcom, dituliskan mengenai mana yang benar, mana yang salah.

    Adegan penganiayaan para jenderal seperti cungkil mata, silet muka, dan pemotongan alat kelamin, tidak benar. Hasil otopsi tim dokter cukup jelas. Yakni 6 jenderal ditembak mati, dan jenderal MT Haryono tewas dengan tusukan.

    Petinggi DN Aidit digambarkan pula sebagai perokok berat, padahal sejatinya ia bukanlah perokok. Mungkin pencitraan perokok itu membuat efek bossy kepada DN Aidit, sebagai pemeran antagonis di film G30S-PKI.

    Lantas apa motivasi semua hoax ini difilmkan?

    Menurut studi yang dilakukan dan dialami oleh Sukmawati, ia mengatakan bahwa tragedi 65 adalah terjadinya kudeta yang dilakukan oleh Soeharto, pemimpin dewan jenderal yang berkuasa pada saat itu. Soeharto dianggap sebagai dalang yang bermain-main di dalam kekuasaannya untuk mengatur pembunuhan 7 jenderal. Salah satu jenderalnya adalah anak kesayangan Bung Karno pada saat itu, yakni Ahmad Yani.

    Sebenarnya film ini diputar setiap tahun, tidak jauh-jauh untuk memberikan efek trauma kepada generasi muda, agar tidak macam-macam dengan tentara. Loh mengapa bisa? Karena jika kita tidak macam-macam dengan tentara, mereka akan memikirkan kita. Jika kita ingin macam-macam dengan tentara, maka mereka akan mengatakan “Emang gue pikirin?”. Begitulah yang mungkin terjadi.
    Sederhana, motivasi di balik hal ini adalah penggiringan opini, agar rakyat menyanjung tentara. Ya jelas, apa lagi kalau bukan itu? Soeharto yang merupakan mantan tentara pun sesekali ingin namanya disanjung-sanjung sebagai pemberhenti aksi anarkis oknum-oknum yang dicap PKI.

    Jadi apa kesalahan PKI?
    Menurut Sukmawati, kesalahan PKI yaitu PKI memberikan dukungan kepada G30S. Ia mengutip dari seorang NU. Jujur saja, PKI bodoh dalam hal ini. Bagaimana mungkin mereka mendukung pembunuhan 7 jenderal ini. Pantas saja dibubarkan. Pada saat itu kita tahu nyawa 7 jenderal itu sangat mahal, karena ini berbicara mengenai ketahanan negara.

    Namun menurut saya pribadi, kesalahan PKI sederhana. Mereka mencoba merongrong NKRI dengan semangat yang tidak benar. Mereka berpikir bahwa dengan ketiadaan agama, mereka dapat memajukan bangsa ini. Kalimat saya ini mungkin bisa diinterpretasi secara luas, namun izinkan saya untuk mempersempit pemikiran kalian mengenai saya.

    Agama adalah salah satu bentuk social control, yang berlandaskan asas Ketuhanan. Indonesia butuh agama, bukan karena agama membuat orang-orang menjadi bodoh dan sumbu pendek. Kita dapat melihat bagaimana kyai-kyai NU dan para pengikutnya memberikan citra agama yang benar. Agama itu mencerdaskan. Selama ini kita tahu NU turut berbagian di dalam perjuangan bangsa Indonesia dan tidak asal bicara. Mereka tidak perlu mengatakan siap bela Indonesia. Mereka menjaga keutuhan NKRI. Ada kan yang asal bicara “siap ke Rohingya” tapi tidak pergi juga karena takut? Hahaha.

    Jadi siapa PKI yang sebenarnya?
    Menurut hemat saya yang awam namun ingin berpikir sampai ke awan, kita bisa melihat ciri-ciri PKI selama ini. PKI adalah partai yang tidak berketuhanan, bersifat stelsel aktif, hierarkis, dan meniscayakan komitmen penuh terhadap garis kebijakan partai. Kalimat barusan saya kutip dar buku Burhan Muhtadi.

    Burhan Muhtadi mengatakan bahwa ada tokoh PKS bernama Zulkieflimansyah secara terbuka bahwa proses dan sistem kaderisasi PKS sebagai “partai komunis dengan cita rasa ideologi Islam”. Apa? Islam bisa disamakan dengan komunis? Apa penjelasannya? Saya pun tidak akan lebih jauh lagi membahas hal ini, karena memang ini bukan bagian saya. Tanyakan langsung kepada Burhan Muhtadi

    Suharto dituding, Kivlan meradang

    Ketika Sukmawati berbicara mengenai Soeharto, Kivlan Zein pun mulai menunjukkan ketidaksetujuannya kepada statement putri dari Bung Karno tersebut. Ia mulai mirip Jonru ketika berdebat dengan Akbar Faisal. Ia memotong kalimat-kalimat Ibu Sukmawati, karena kemungkinan besar ia tersindir habis.

    Bicara saya belum sekian, yang sekian itu orde baru nya – Sukmawati Soekarnoputri

    Living in a better place

    Akhir kata, setuju dengan kalimat Ibu Sukmawati, putri Bung Karno yang mengatakan bahwa Indonesia harus maju dengan segala potensinya yang ada. Jangan dikorek-korek luka lama yang belum tentu benar. Aneh itu!

    Buatlah generasi Indonesia yang membanggakan, ketimbang disetir-setir oleh kepentingan para simpatisan orde baru. Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit, ucap Bung Karno.

    Rasanya memang paling enak, jikalau orang-orang yang dibunuh dengan terencana, setelah mati mereka diangkat tinggi-tinggi dan dijadikan pahlawan revolusi. Tentu para keluarganya sangat merasa diperhatikan oleh negara pada saat itu dan menjadi terkenal. Apalagi yang memberikan gelar pahlawan revolusi itu adalah dalangnya sendiri. Tentu akan tertutup dengan sendirinya bukan? Hmm.. Pada titik ini, saya tahu bagaimana mengubah sejarah sebuah bangsa. Buat rakyat ketakutan, setidaknya kekuasaan 30 tahun aman!
    Betul kan yang saya katakan?





    Penulis  :  hysebastian    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Sukmawati: Orba Pandai Memelihara Trauma PKI, Soeharto Dalang, Kivlan Kejang Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top