728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 18 September 2017

    #Warta : Strategi PKS dan Gerinda Melawan Jokowi dan Fenomena Jokowi Seperti Pemimpin Khilafah

    Menyampaikan pendapat dengan melakukan demonstrasi menurut saya sih wajar-wajar saja, itu baik untuk dilakukan. Idealnya, demo harus memiliki tujuan yang jelas, misalnya demo untuk meminta Fadli Zon dan anggota dewan lainnya bekerja dengan benar, menelurkan sesuatu yang berguna secara nyata bagi masyarakat.

    Jika semua sudah dilakukan dengan benar, semestinya demo sudah tidak diperlukan lagi. Jika itu dilakukan tidak lebih dari orang kurang kerjaan dan stres mendekati gila. Selain itu, sudah tentu memiliki tujuan yang buruk.

    Kemarin ada partai politik yang melakukan demo terkait Rohingya, meskipun kita semua mengutuk krisis kemanusiaan yang sedang terjadi terkait Rohingya, tetapi apa yang dilakukan Gerindra dan PKS tidak lebih dari pencintraan yang sesungguhkan dengan menggunakan isu yang lagi hot.

    Tujuan PKS dan Gerindra melakukan demo untuk apa? Disaat negara sudah melakukan aksi nyata dengan mengirimkan bantuan, mengirim Menlu Retno untuk meminta Myanmar menghentikan kekerasan yang dilakukan pihak militer.

    Ketika Prabowo mengatakan Jokowi melakukan pencintraan dengan mengirimkan bantuan ke Rohingnya, itu sudah menunjukan penegasan, bahwasannya demo tersebut bersifat politisasi. Sangat disayangkan, ketika derita manusia dijadikan sebagai jalan menarik simpati untuk mencapai kekuasaan dalam politik.

    Selain itu, sangat disayangkan, jika niatnya ingin melakukan sesuatu hal yang nyata untuk Rohingya, semestinya uang yang digunakan untuk membiayai demo digunakan untuk menyumbang aksi kemanusiaan di Rohingya.

    Prabowo ingin nyapres, jadi perlu mencari simpati

    Dalam dunia politik, meyakinkan masyarakat untuk mempercayai sesorang tokoh politik atau parpol tertentu sudah menjadi sebuah keharusan. Meskipun anda pintar, jika diam saja, maka rakyat tidak akan menganggap anda pintar. Tetapi meskipun anda bodoh, tetapi dapat memanfaatkan isu, itu bisa menaikan pamor anda. Itulah pencintraan yang sesungguhnya, cuma bisa ngomong tetapi tidak melakukan tindakan yang nyata.

    Untuk menumbangkan seorang petahana, Prabowo harus banyak berkoar sampai berbusa untuk menunjukan kelemahan Jokowi. Jika dia tidak bisa mencari-cari kesalahan dan kelemahan Jokowi yang digunakan untuk menghancurkan kepercayaan rakyat, tamatlah dia. Menjadi wajar, jika berbagai cara digunakan untuk menjatuhkan nama Jokowi di mata rakyat.

    PKS dan politik agama

    PKS sangat mesra dengan Gerindra, karena dia mengusung ideologi tersendiri sebagai kekuatan. Dalih dakwah agama dan lain-lain menjadi senjata PKS dalam berpolitik. PKS tidak akan pernah memperdulikan dia berkoalisi dengan siapapun juga, yang penting tujuan besarnya tercapai untuk menanamkan ideologinya.

    Jika ideologi yang berkaitan dengan agama sudah terpatri, begitu gampang PKS untuk berkuasa, tidak perlu repot-repot kampanye, tidak perlu bekerja keras untuk dipercayai rakyat. Partai politik yang berbau agama, akan senantiasa menggunakan agama sebagai senjata menarik simpati rakyak. Cukup berdakwah, berdoa dan membubuhkan kata-kata agamis saja itu sudah menjadi senjata.

    Saya akan memberikan contoh untuk lingkup yang paling kecil saja, jika Jonru itu dibaratkan partai, itulah partai agama. Karena Jonru menggunakan bau-bau agama, apapun yang keluar dari mulut Jonru akan langsung diaminkan oleh pengikutnya, meskipun itu hoax. Ketika ketahuan hoax, Jonru tinggal minta maaf dan mengaku khilaf, para pengikutnya pun tetap selalu mempercayai Jonru tanpa berfikir, bahwa Jonru itu manusia yang bisa salah.

    Bisa dibayangkan, jika seorang Jonru saja bisa seperti itu dengan menggunakan bau bidadari dan agama sebagai pemanis jualan onlinenya, atau sebagai pemanis bisnis sedekah dengan memotong biaya administrasinya secara persentase. Apalagi jika sistem yang dilakukan Jonru dilakukan oleh sebuah partai politik, sungguh menjanjikan bukan?

    Bagaikan khilafah, semua permasalah Islam di dunia ditujukan ke Jokowi

    Fenomena penggunaan isu SARA dalam politik, menunjukan kekerdilan suatu bangsa dalam berpolitik. Penggunaan isu SARA dalam dunia politik menunjukan kepicikan dan sifat biadab. Karena penggunaan isu SARA berpotensi menghancurkan suatu bangsa akibat konflik horizontal sesama anak bangsa.Itu sama saja mengorbankan rakyat untuk meraih kekuasaan.

    Coba bisa anda perhatikan, ada yang lucu di Indonesia. Jokowi sudah seperti pemimpin khilafah dunia, setiap ada hal yang berkaitan dengan umat Islam di seluruh dunia, semua digoreng untuk Jokowi, intinya semua salah Jokowi. Padahal, setiap negara memiliki kedaulatannya masing-masing. Sederhana saja, jika anda seorang suami yang tidak bisa memuaskan istri anda, apakah anda rela tetangga-tetangga anda yang memuaskan istri anda?



    Penulis  : Cak Anton     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Strategi PKS dan Gerinda Melawan Jokowi dan Fenomena Jokowi Seperti Pemimpin Khilafah Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top