728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 13 September 2017

    #Warta : Sebetulnya, Doa Tifatul untuk Jokowi Lebih Cocok untuk Pengungsi Rohingya

    Tentu masih banyak yang ingat betul dengan doa Tifatul Sembiring saat posisi pecinya tidak terlalu miring. Doa yang secara khusus dipanjatkan dalam acara Sidang Tahunan MPR, Rabu 16 Agustus 2017 yang lalu.

    Sebagian isi doa itu sebagai berikut:

    “Ya Allah, ya Aziz, ya Jabbar…
    Beri petunjuk Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo. Gemukkanlah badan beliau ya Allah, karena kini terlihat semakin kurus. Padahal tekad beliau dalam membangun bangsa dan negara ini tetap membaja untuk maju terus agar menjadi bangsa yang adil makmur dan sejahtera. Kami lihat beliau kurang waktu untuk beristirahat, setiap hari pasti capai dan lelah, limpahilah beliau dengan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan tugasnya. Curahkanlah hidayah-MU petujuk jalan yang lurus kepada beliau. Kokohkanlah keimanan dan ketakwaan di dada beliau.
    Tanamkanlah rasa sayang di dada beliau kepada rakyat, cinta kepada umat, menghormati dan mencintai para ulama yang istiqamah. Sebab ulama itu adalah pewaris Nabi SAW. Tunjukilah beliau ya Allah agar tetap berlaku adil sebagai pemimpin negeri yang kami cintai ini. Bantulah Presiden kami ini ya Allah dalam menghadapi permasalahan bangsa yang berat ini ya Allah, di tengah-tengah persaingan dunia yang kadang kejam dan tanpa belas kasihan. Di tengah hutang yang masih bertumpuk, garam berkurang, sementara harapan rakyat sangat tinggi untuk kemakmuran…”

    Kalimat doa yang dicetak tebal “Gemukkanlah badan beliau ya Allah, karena kini terlihat semakin kurus” tentu punya makna khusus. Mungkin betul bahwa Tifatul sedang memamerkan empati untuk Presiden Jokowi yang bertubuh kerempeng. Ada harapan dari Tifatul Sembiring supaya tubuh Presiden bisa gemuk ginuk-ginuk seperti teman-temannya para politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Maklum, para politisi PKS tidak begitu tahan dengan sapi yang gemuk-gemuk. Keberadaan sapi gemuk itu pula yang melahirkan ide partai korupsi sapi dalam kelanjutan kisah partai politik di Indonesia.

    Hanya saja, maksud baik Tifatul Sembiring di atas tidak menemukan momentum yang tepat. Tubuh gemuk bagi Presiden Jokowi bukan menjadi tujuan. Biar kerempeng yang penting banteng. Daripada tubuh gemuk ginuk-ginuk seperti kerbau yang tak lincah atau sapi yang rentan dikorupsi. Prinsip itulah yang dipegang teguh Presiden Jokowi.

    Apalagi ketika sekarang ini mata dunia internasional benar-benar dibuat mendelik gara-gara eskalasi konflik di Myanmar yang membuat muslim Rohingnya semakin menderita. Doa Tifatul untuk Presiden pun kehilangan makna. Ada doa yang lebih mendesak untuk dipanjatkan karena penderitaan saudara-saudari muslim Rohingya. Penderitaan yang terus berlarut-larut hingga harus meninggalkan tempat kediaman dan hidup sebagai pengungsi. Hal ini kiranya menjadi perhatian serius Tifatul Sembiring sambil membetulkan posisi pecinya supaya tak tampak miring.

    Sudah tentu, menjadi pengungsi akibat konflik sosial dan perang, kondisinya sangat memprihatinkan level Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pasalnya, tubuh saudara-saudari kita muslim Rohingya dalam perjalanan menuju Banglades jelas-jelas diperlihatkan sedemikian rupa dalam wujud sangat kurus-kering.

    Di sinilah, doa Tifatul Sembiring akan lebih tepat bila dialamatkan kepada warga muslim Rohingya. Siapa tahu, berkat doa politisi PKS yang partainya digemukkan lewat korupsi sapi ini sangat mujarab. Dalam waktu dekat, berkat doa Tifatul, siapa yang menyangka kalau tubuh saudara-saudari muslim Rohingya pun lebih cepat gemuk seperti tubuh Fahri Hamzah. Politisi yang tetap bertubuh tambun walaupun sudah dipecat dari PKS.

    Supaya tidak terkesan miring, baik juga bila Tifatul Sembiring tidak langsung jebreet dalam kalimat doanya. Tidak elok bila langsung meminta supaya warga muslim Rohingya yang kurus-kurus itu supaya digemukkan Allah SWT. “Ya Allah, gemukanlah tubuh kurus para pengungsi Rohingya.” Jangan langsung jeger dan jebret seperti itu.

    Ibarat permainan sepakbola Tim Nasional, perlulah semacam tendangan LDR lebih dahulu. Artinya, baik juga bila Tifatul mengawali dengan bacaan Surat Al Fatihah sebagai pakem dalam doa yang baik.

    “Bismillahirrahmanirrahim
    Alhamdulillahi rabbil alamin,
    Arrahmaanirrahiim
    Maaliki yaumiddiin,
    Iyyaka nabudu waiyyaaka nastaiin,
    Ihdinashirratal mustaqim, shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghduubi alaihim waladhaalin.”

    Setelah bacaan Al Fatihah, tinggal dirangkai dengan doa Kang Aher sesama politisi PKS:

    “Ya Allah selamatkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin yang lemah di Rohingya. Ya Allah sayangi dan kasihilah mereka dan keluarkanlah mereka dari kesulitan dan keadaan sempit yang mereka alami saat ini.”

    Doa tersebut tinggal ditambah kalimat doa super berikut ini:
    “Gemukkanlah badan para pengungsi Rohingya, ya Allah, karena kini terlihat semakin kurus”

    Tentu saja, kalau Tifatul Sembiring mau menunjukkan kreativitas dalam mendoakan saudara-saudari muslim Rohingya tetap sangat terbuka. Misalnya dengan menambahkan kalimat-kalimat bersayap sehingga bisa terbang tinggi ke langit ketujuh. Selain kalimat bersayap baik juga bila menyertakan kalimat doa tentang pentingnya perdamaian dunia, berkembangnya toleransi hidup beragama hingga musnahnya kaum intoleransi dalam agama apa pun juga. Insya Allah, dunia makin damai ketika sikap intoleransi berganti jadi penuh toleransi.


    Penulis :  Setiyadi RXZ    Sumber :    Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Sebetulnya, Doa Tifatul untuk Jokowi Lebih Cocok untuk Pengungsi Rohingya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top