728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 19 September 2017

    #Warta : Saracen Dikendalikan Partai Politik. Hoakkah?

    Pagi ini saya menerima banyak sekali pesan yang menyampaikan berita tentang Saracen dikendalikan partai politik. Saya langsung googling, apa benar? Sayangnya, tidak ada satu media mainstream yang memuat berita yang sama seperti ini. Untuk menutup penasaran, saya membuka satu situs yang memuat berita tentang dugaan Saracen dikendalikan partai politik. Dan ini kira-kira apa yang saya baca di situs : http://news.metrotvnews.com/hukum/aNrwpmVb-saracen-dikendalikan-parpol

    Perlahan tapi pasti tabir aktor di balik Saracen mulai tersingkap. Kasubdit I Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar mengaku menemukan titik terang orang atau pengendali utama kelompok yang memproduksi ujaran kebencian itu.

    “Saracen hanya satu dari sekian kelompok yang dikelola dan didanai kelompok besar. Pengendali kelompok besar itu seorang politikus yang berasal dari sebuah partai politik. Dari analisis dan hasil pemeriksaan yang kami lakukan, nanti ketahuan,” kata Irwan dikutip dari Media Indonesia, Selasa 19 September 2017. Irwan melanjutkan, kelompok-kelompok yang bermunculan sejak lima tahun lalu itu terhubung satu sama lain.Mengenai tersangka Jasriadi, lanjut Irwan, penyidik telah membuktikan yang bersangkutan memiliki relasi luas dengan politikus dan media massa. Hubungan itulah yang membuat Jasriadi memiliki keterampilan menulis dan melek politik.

    “Dia belajar autodidak. Jasriadi bahkan membuat pelatihan khusus cara-cara menulis ujaran kebencian di Hambalang. Dia sempat hendak menjadi pemateri sebuah pelatihan, tetapi keburu kami tangkap. Kami fokus pada tindak pidana yang dilakukannya,” ujar Irwan.

    Sampai sini saya berpikir, tulisan diatas seperti kompilasi dari beberapa media yang sudah tersebar di media-media mainstream. Hal yang baru yang saya temui adalah bahwa Jasriadi mendapatkan pelatihan khusus cara-cara menulis ujaran kebencian. Lalu saya ingat pada sosok Eep, sang inisiator dari kampanye hitam Pilkada Jakarta yang menggunakan ayat dan mayat untuk memenangkan Paslon nomor tiga. Dan jika benar, Jasriadi mendapat pelatihan, artinya dia tidak akan sendiri dan faktanya, penyebaran ujaran kebencian begitu massive, teroganisir dan lebat seperti hujan badai pada saat yang bersamaan.

    Irwan menambahkan, Saracen kerap mengubah nama dalam kegiatannya menyebarkan ujaran kebencian. Beberapa nama mereka antara lain Keranda Ahok Jokowi, Pendukung Anies-Sandi, Saracen, dan NKRI Harga Mati. Ini juga fakta yang benar.



    https://www.suarasosmed.com/2017/09/jos-penguna-jasa-saracen-siap-siap.html

    Seperti mengupas bawang, kasus Saracen terus dikembangkan. Dari sehari ke sahari makin ramai berita penangkapan mereka yang menyebarkan ujaran kebencian dan ujaran penghinaan. PPATK dilibatkan untuk menelusuri dari mana, kemana dan berapa jumlah uang disalurkan berkaitan dengan kegiatan usaha menggoncang kedamaian Indonesia.

    Saya pikir, ini adalah sebuah strategi yang cantik dan apik. Walaupun banyak fakta yang mengarah pada tokoh-tokoh yang sama dari partai yang sama, tapi polisi masih sangat hati-hati. Karena kita tahu, kelompok ini sangat pandai memainkan kata bahkan dengan tanpa malu, mereka juga berani mengajukkan tuntutan balik. Bahkan setelah tersebar berpuluh-puluh foto kebersamaan mereka dengan para penyebar kebencian ini, mereka masih saja berani, tanpa rasa malu, mengelak dengan alasan, “tidak pernah mengenal mereka”.

    Padahal orang bodoh sekalipun bisa membedakan mana foto selfie yang memang benar-benar tidak saling kenal dan mana foto orang-orang yang terlibat dalam sebuah kepentingan. Seperti misalnya foto Asma Dewi dengan Anies Baswedan, atau dengan Prabowo dan Sandiaga Uno. Mereka bukanlah orang-orang yang tidak saling mengenal. Dari foto tersebut terlihat latar belakangn adalah sebuah ruangan dimana terjadi suatu perbincangan atau acara semacam acara perayaan. Dan biasanya, setelah acara selesai, orang-orang penting akan menjambangi orang-orang yang mereka lihat cukup memiliki peran penting.

    Jadi, kalau saya mengikuti analisa diatas, saya yakin, pada akhirnya kasus Saracen ini akan mengarahkan kita semua pada keterlibatan sebuah partai politik atau paling tidak mengarahkan pada satu nama tokoh elit politik. Apalagi kalau misalnya PPATK sudah membeberkan dengan terang-terangan setiap dana yang digunakan. Dan kasus semakin terus dikembangkan. Maka fakta ini tidak akan bisa memberi celah pada mereka untuk menghindar dari tuduhan bahwa mereka sudah dengan sengaja menyusun rencana “kudeta” dengan cara yang berbeda. Untungnya, semakin kesini, rakyat semakin paham dan semakin tidak tertarik untuk percaya semua berita hoax mereka.

    Semoga, pemerintah dan jajaran aparat keamanan diberi kemudahan dan kelancaran dalam pengungkapan kasus Saracen ini dan berhasil menelanjangi tokoh inti dibalik semua kekacauan ini dengan fakta-fakta yang tidak bisa dia sangkal.

    Semoga.


    Penulis :    Erika Ebener    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Saracen Dikendalikan Partai Politik. Hoakkah? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top