728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 03 September 2017

    #Warta : Rohingya, Presidium Alumni 212, Pahamkah Mereka Apa Dan Siapa Myanmar?

    Membaca beberapa berita dalam bahasa Inggris yang dilansir oleh media BBC, The Nasional Post, Washington Post, New York Times, dan Al Jazeera, semuanya mengarahkan pena mereka pada sosok terkenal penerima hadiah Nobel Perdamaian “The Lady”, begitu mereka menyebut Aung Si Kyi Suu.

    Konflik Rohingya, menurut sejumlah media internasional adalah masalah yang muncul karena sejarah dan stigma bahwa etnis Rohingya adalah ancaman bagi mereka. Pihak berwenang Myanmar mengklaim bahwa masalah ini dipicu oleh serangan yang dilakukan oleh sekelompok militan Rohingya terhadap aparat keamanan yang kemudian menyulut pembalasan besar-besaran terhadap etnis Rohingya. Itu awal dari krisis yang sekarang terus berlangsung. Namun, sejarah menyebutkan bahwa pertikaian antara etnis Rohingya dan suku Burma sudah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. Awalnya, mereka merasa bahwa etnis Rohingya adalah kelompok yang makin membebani mereka karena persaingan ekonomi dan teritori. Kaum mayoritas merasa keberadaan etnis Rohingya mulai mendesak keberadaan mereka. Lalu banyaknya berita propaganda yang disebar luaskan oleh pihak-pihak tertentu lewat media-media online.

    Saya jadi ingat, bagaimana sebagian orang di Indonesia yang memandang etnis Cina sebagai kelompok minoritas yang menjadi ancaman, lalu muncul propaganda atau provokasi anti Cina. Mungkin seperti itu, kita bisa membayangkan pikiran orang-orang mayoritas Myanmar terhadap Rohingya. Lucunya, yang begitu keras terdengar suaranya mengkritisi pemerintahan Myanmar adalah mereka yang di Indonesia juga memprovokasi dan menyuarakan anti Cina. Ironis bukan?

    Ketidak-mampuan “The Lady” menangani crisis Rohingya ini, BBC mengatakan bahwa walaupun dia seorang pemimpin Myanmar namun dia tidak memiliki kewenangan untuk menggerakan angkatan bersenjata dan kepolisian Myanmar. Tidak seperti di Indonesia bahwa Presiden adalah Pangliman Tertinggi seluruh Angkatan Bersenjata dan Kepolisian Indonesia. Namun, sebagai pemimpin negara, semua pertanyaan ditujukan kepada “The Lady”. Apalagi kalau kita melihat sejarah sistem pemerintahan Myanmar. Aung Si Kyi Suu ini hanya menjabat sebagai State Counsellor yang setara dengan jabatan Perdana Menteri, sementara Myanmar sendiri dipimpin oleh seorang Presiden. Meski tak menjabat presiden, Suu Kyi secara faktual memiliki kekuasaan dalam pemerintahan. Selain menjabat sebagai penasihat negara, wanita 70 tahun ini juga menjabat sebagai menteri luar negeri, energi, pendidikan, dan menjadi menteri di kantor presiden.

    Meski partai yang dipimpin oleh Suu Kyi, National League for Democracy (NLD) memenangkan pemillu. Namun wanita paro baya itu tidak diizinkan menjadi presiden. NLD meraih 80 persen suara dalam Pemilu, mengakhiri pemerintahan junta militer di Myanmar. Namun, bukan berarti militer tersingkir dari kekuasaan. Korp baju hijau Myanmar masih menduduki kursi parlemen, juga didaulat mengatur 3 kementerian: pertahanan, dalam negeri, dan perbatasan negara.

    Jujur saja, kalau melihat sistem pemerintahan Myanmar, kok kayaknya ribet sekali ya… Dunia internasional tidak tinggal diam melihat apa yang terjadi di dalam negeri Myanmar. Etnis Rohingya di Myanmar dinyatakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa sebagai suku yang terintimidasi terburuk di dunia. Segala cara dan usaha untuk menolong mereka dilakukan oleh dunia internasional. Namun, sistem pemerintahan Myanmar yang memisahkan kekuasaan antara militer dan sipil, menyulitkan bantuan yang dikirim untuk sampai ditujuan karena pelarangan masuknya wartawan, media, dan pihak asing ke dalam teritori Myanmar.

    Startegi ini mengingatkan kita pada strategi Israel yang mengunci pintu masuk ke wilayah Palestina. Bedanya, wilayah Palestina seluruhnya berada di tengah-tengah tanah yang diduduki Israel. Mereka benar-benar terkunci dan tidak bisa datang atau pergi. Sementara Rohingya menempati wilayah Rakhine yang pada satu sisi berbatasan dengan laut lepas. Sebagian dari mereka nekad mengarungi laut untuk menyelamatan diri ke negara-negera terdekat lain. Etnis Rohingya yang melarikan diri lewat laut, ada yang sudah sampai di Indonesia. Mereka berada di Semenanjung Aceh.



    Siapa Jokowi Dimata Myanmar?


    Negara yang melakukan begitu banyak pelanggaran Hak Asai Manusia di dunia adalah negara Myanmar. Namun demikian, masalah dalam negeri satu negara tidak bisa dicampuri oleh negara lain kecuali pemerintahan negara itu sendiri yang meminta bantuan dunia internasional, seperti apa yang dilakukan oleh Kuwait dulu sewaktu diserang oleh Irak.

    Jokowi, saat ini memang dipandang dengan dua mata terbelalak oleh hampir seluruh negara di dunia. Prestasi yang Jokowi torehkan di dunia internasional dengan pidato dan kecaman-kecamannya juga didengar. Namun, semua itu hanya sebatas kecaman. Mengusulkan pemboikotan dan pengusiran utusan negara Myanmar dari Indonesia hanya akan menutup rapat pintu kesempatan Indonesia untuk menolong warga Rohingya.

    Presidium Alumni 212, Be My Guest


    Presidium Alumni 212 meminta organisasi lintas Asia Tenggara, ASEAN, memberikan sanksi tegas kepada Myanmar. Mereka juga mendesak PBB mencabut nobel perdamaian yang diterima aktivis kemanusiaan Aung San Suu Kyi. Dia mendesak PBB melakukan embargo untuk menghentikan aksi dari junta militer Myanmar. Umat Islam juga diminta bersatu untuk membantu etnis Rohingya. Slamet juga meminta Dubes Myanmar untuk Indonesia segera diusir dan menutup kedutaanya. Pertanyaannya, PADA KAPASITAS APA PRESIDIUM ALUMNI 212 MENYERUKAN INI SEMUA? Ujung-ujungnya menggalang dana dengan dalih menolong warga Rohingya.

    Dan kalau kita membaca apa yang saya baca dari berita-berita di media berbahasa Inggris diatas, maka timbul pertanyaan kedua, “Bagaimana Presidium Alumni 212 ini akan mengirimkan dananya untuk warga Rohingya jika semua pintu ditutup oleh pemerintah Myanmar?”

    Ah, orang-orang ini memang dari sejak lahir sudah besar kepala. Baru jadi Ormas saja sudah berani merintah dunia, apalagi kalau jadi Partai Politik, mungkin dia berani juga memerintah Tuhan.

    Kalau saya, sebagai rakyat biasa, mengusulkan pada mereka untuk pergi saja langsung ke Rakhine dan berperang melawan Militer Myanmar. Bukankah dulu FPI berhasil masuk ke wilayah Palestina yang notabene dibenteng ketat oleh Israel? Itu klaimnya mereka.






    Penulis :  Erika Ebener     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Rohingya, Presidium Alumni 212, Pahamkah Mereka Apa Dan Siapa Myanmar? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top