728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 21 September 2017

    #Warta : Prabowo Kian Panik

    Bukan hanya saya pribadi, bahkan ribuan massa yang menghadiri “Aksi Bela Etnis Rohingya 169” di Kawasan Silang Monas 16 September 2017 lalu, juga pasti terkaget-kaget atas pernyataan yang dilontarkan oleh Prabowo Subianto dalam orasinya. Ribuan massa tersebut mengharapkan orasi-orasi yang menunjukkan keprihatian dan dukungan terhadap etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar yang saat ini sedang bergolak.

    Namun apa yang terjadi, Prabowo malah menyampaikan pidato yang sangat tidak simpatik. Prabowo menganggap bahwa langkah cepat yang ditempuh oleh pemerintah Indonesia untuk turut serta meringankan beban etnis Rohingya yang saat ini masih tinggal di kamp-kamp pengungsian tersebut, dianggapnya sebagai sebuah pencintraan.

    Menurut Prabowo bahwa suara Indonesia tidak akan didengar oleh pemerintah Myanmar. Hanya jika Indonesia sudah menjadi negara besar, kuat dan kaya, maka negara-negara lain akan menganggap dan mendengar Indonesia. Jika tidak, menurut Prabowo, tindakan kemanusian yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia tersebut hanya sebuah kesia-siaan.

    Mungkin Prabowo kurang mengikuti perkembangan informasi tentang Rohingya. Atau mungkin, memang dia tidak memberikan perhatian sama sekali tentang tragedi kemanusiaan yang cukup memilukan tersebut. Atau mungkin juga, kehadirannya di Silang Monas hanya sebuah pencintraan. Atau bisa jadi, pernyataannya tersebut sebagai ungkapan kegundahannya, mengingat Pemilihan Presiden yang sudah di depan mata.

    Prabowo mungkin tidak tahu, bahwa satu-satunya utusan negara asing yang hingga saat ini diterima secara resmi oleh pemerintah Myanmar dan Bangladesh untuk menengahi krisis yang sedang terjadi di sana adalah utusan pemerintah Indonesia. Adalah Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, yang telah menemui pemimpin kedua negara tersebut untuk membicarakan jalan keluar atas tragedi yang telah merenggut begitu banyak nyawa dan harta benda itu.

    Bukan hanya mengutus Menteri Luar Negeri, pemerintah juga aktif menyuarakan di forum-forum internasional supaya dunia memberikan tekanan kepada pemerintah Myanmar agar kekerasan yang saat ini terjadi segera dihentikan.

    Prabowo juga mungkin tidak tahu bahwa jauh-jauh hari sebelum pertikaian antara etnis Rohingya dan pemerintah Myanmar tersebut memuncak, pemerintah Indonesia telah mengirim bantuan berupa bahan makanan, pakaian, peralatan masak, selimut dan tenda yang jumlahnya mencapai 10 kontainer. Pemerintah juga akan membangun sebuah rumah sakit di Rakhine. Bahkan pemerintah Indonesia telah membangun enam unit sekolah di sana sejak tahun 2014 lalu.

    Di tengah krisis kemanusiaan yang sedang melanda etnis Rohingya, tidak seharusnya Prabowo mengeluarkan pernyataan demikian. Prabowo seharusnya menyampaikan pernyataan-pernyataan yang lebih positif dan menyejukkan. Bukan malah menyampaikan ujaran-ujaran yang provokatif yang menimbulkan ketidaknyamanan dan perpecahan.

    Tidak mengherankan memang. Sejak perhelatan Pilpres tahun 2014 lalu, Prabowo sepertinya hampir tidak pernah sejalan dengan Jokowi. Prabowo dan partai yang dipimpinnya selalu saja menempatkan diri sebagai pihak yang berseberangan dengan segala kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Prabowo sepertinya belum bisa “move on” hingga saat ini.

    Saat ini, Prabowo sedang menghitung peluangnya untuk dapat maju menjadi calon presiden (lagi). Dia nampaknya begitu khawatir, kalau dia tidak dapat ikut bersaing pada Pilpres nanti. Atau, seandainya pun dia ikut menjadi kontestan, sepertinya dia kurang yakin akan dapat memenangi lomba.

    Salah satu bukti kepanikan Prabowo adalah inisiatifnya menemui mantan Presiden Republik Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 27 Juli lalu, pasca disahkannya Undang-undang (UU) Pemilu 2019 oleh DPR. Undang-undang tersebut mensyaratkan ambang batas bagi partai politik atau gabungan partai politik untuk mengajukan calon presiden dan wakil presiden (presidential threshold) sebesar 20 – 25 persen.

    Sekalipun Prabowo tidak secara eksplisit menyatakan bahwa tujuannya menemui Ketua Umum Partai Demokrat tersebut adalah sebagai upaya persiapan untuk Pilpres 2019, namun publik dapat menebak bahwa sesungguhnya, Prabowo sedang mencari dukungan. Sekedar mencari dukungan untuk memperjuangkan presidential threshold sebesar nol persen di Mahkamah Konstitusi, atau mungkin untuk mencari “teman” baru.

    Prabowo sadar betul bahwa ambang batas tersebut menjadi masalah terberat baginya. Karena syarat dengan jumlah 20 persen kursi di DPR atau 25 persen jumlah suara sah nasional merupakan sebuah persyaratan yang teramat sulit untuk dipenuhi. Karena satu-satunya partai yang masih setia “menemani” Prabowo hingga saat ini adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

    Prabowo panik. Dia menyebut bahwa penetapan ambang batas 20 persen tersebut merupakan sebuah lelucon politik yang hanya akan melukai dan menyakiti hati rakyat. Dia menilai bahwa penetapan ambang batas tersebut hanya sebuah cara licik untuk memuluskan langkah Jokowi melenggang menjadi Presiden Indonesia untuk kedua kalinya.

    Jika “judicial review” atas UU Pemilu 2019, yang saat ini sedang berporses di Mahkamah Konstitusi (MK) yang diajukan oleh berbagai pihak, termasuk oleh Partai Gerindra, ditolak, Prabowo menjadi salah satu pihak yang paling dirugikan atas keputusan tersebut. Sebab melihat hasil pemungutan suara pada Pemilu legislatif tahun 2014 lalu, Partai Gerindra hanya meraih 11,81 persen jumlah suara. Jumlah yang masih jauh dari kata cukup untuk mencalonkan presiden.

    Prabowo pasti sedang harap-harap cemas menunggu hasil peninjauan kembali terhadap UU Pemilu tersebut. Namun sepertinya Prabowo harus bersiap-siap untuk kecewa. Sebab sesungguhnya, pada tahun 2009 dan 2014, ambang batas yang sama juga telah pernah ditinjau kembali di MK, dan MK menganggap bahwa pembatasan ambang batas tersebut tidak bertentangan dengan UUD 1945. Jadi, kemungkinan besar, MK juga akan menolak “judicial review” UU Pilpres 2019 yang saat ini sedang diajukan.

    Selain itu, Prabowo juga sepertinya begitu cemas melihat segala pencapaian yang ditorehkan Jokowi selama kurang dari tiga tahun pemerintahannya. Kecemasannya semakin bertambah atas hasil survei yang baru-baru ini dirilis oleh lembaga survei CSIS di mana tingkat kepuasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan Jokowi yang mencapai 68,3 persen. Tingkat kepuasan masyarakat tersebut meningkat dari 66,5 persen tahun lalu, dan 50,6 persen tahun 2015.

    Sesungguhnya Prabowo telah gagal. Bubarnya Koalisi Merah Putih (KMP) yang dibentuknya bersama partai pendukungnya setelah menelan kekalahan tahun 2014 lalu adalah salah satu kegagalan terbesarnya. Sekalipun Prabowo hingga kini belum pernah mengakui secara jujur tentang hancur leburnya koalisi bentukannya itu, namun faktanya, hanya PKS yang masih setia bersamanya di parlemen.

    PPP, Partai Golkar, dan belakangan PAN memilih bergabung dengan pemerintah. Di awal pembentukannya, KMP nampak begitu solid, yang mengakibatkan Jokowi sedikit terganggu untuk menjalankan roda pemerintahan karena kerap diganggu oleh mereka. Namun kelihaian Jokowi dalam berpolitik, mampu meluluhlantakkan soliditas mereka. Partai-partai yang sebelumnya begitu getol mendukung Prabowo akhirnya “hengkang.”

    Sebelumnya, Prabowo mungkin tidak menyangka bahwa Jokowi akan seperti Jokowi yang ada sekarang ini. Mungkin sebelumnya ia menduga bahwa Jokowi hanya akan menjadi boneka, sebagaiamana dia kerap sampaikan pada masa kampanye dulu.

    Ternyata Jokowi menjawab segala tuduhan miringnya itu dengan bekerja. Jokowi begitu perkasa. Bahkan ia membuktikan bahwa ia bukanlah seseorang yang begitu mudahnya dapat didikte dan diarah-arahkan. Jokowi benar-benar tampil sebagai seorang presiden yang tegas dan cukup disegani dengan segala prestasi yang begitu membanggakan.

    Hal itu pula sepertinya yang mengakibatkan Prabowo semakin resah dan kalut. Dia berusaha keras untuk “menumbangkan” Jokowi. Berbagai cara dilakukannya untuk menyerang Jokowi. Namun, “pola serangan” yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukannya pada masa kampanye tahun 2014 lalu, yang cenderung menyampaikan ujaran-ujaran provokatif dan kurang berdasar, membuatnya mudah terbaca.

    Seandainya MK menolak permohonan “judicial review” terhadap UU Pilpres 2019, maka akan semakin bertambahlah kepanikan Prabowo. Mungkin, dia akan menjadi orang paling galau di negeri ini. Jalan untuk menjadi presiden akan terasa sangat terjal dan berliku.

    Namun, jika MK mengabulkan permohonan tersebut, maka Prabowo akan menjadi orang paling bahagia di negeri ini. Jalannya akan begitu mulus untuk kembali bertarung merebut kursi RI-1 pada tahun 2019 nanti. Dan, kita (mugkin) akan kembali melihat kekonyolan yang dia pernah pertunjukkan pada tahun 2014 lalu.

    Ketika seluruh stasiun televisi menyatakan bahwa Jokowi adalah calon yang memperoleh suara terbanyak, namun TV One menyatakan sebaliknya. Slogan TV one, “Memang Beda,” benar-benar mereka buktikan. Prabowo keluar sebagai presiden terpilih, presiden TV One.

    Jika tahun ini saja Prabowo sudah mulai panik, bagaimana lagi tahun depan? Jika hanya karena bantuan kemanusiaan pemerintah Indonesia ke Rohingya saja Prabowo begitu gundah, bagaimana lagi melihat segala pencapaian Jokowi yang begitu luar biasa itu? Mungkin akan berlipat kali gandalah kepanikannya. Prabowo! Kau masih seperti yang dulu.



    Penulis  :  Hermanto Purba   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Prabowo Kian Panik Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top