728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 03 September 2017

    #Warta : Prabowo Kesulitan Cari Cawapres yang Potensial, Apakah Anies akan dilirik?

    Presidential Threshold 20 persen mengubah konstelasi politik. Sosok-sosok yang sebelumnya ambisius ingin menjadi capres menjadi tak bersemangat. Sebagian mereka mampu mengukur kemampuan diri dan akhirnya memilih untuk mendukung salah satu calon yang potensial. Golkar, Nasdem, PPP, Hanura , Perindo berbondong-bondong mendukung Jokowi. Ini menjadi pilihan paling realisis karena mereka menyadari peluang untuk bisa lolos presidential threshold 20 persen sangat kecil.

    Sebagian tidak bisa megukur diri dan merasa percaya diri akan menjadi capres atau cawapres, seperti Yusril Ihza. Sebagian sosok yang merasa gengsi bergabung mendukung Jokowi mulai mencari kawan untuk saling bahu membahu melawan Jokowi. Prabowo yang disebut-sebut kandidat terkuat penantang Jokowi pun tak bisa tidur nyenyak setelah disahkannya presidential threshold 20 persen. Tak lama berselang setelah disahkannya presidential thresold 20 persen, Prabowo melakukan safari politik mengais dukungan dari partai-partai yang sepertinya tidak mungkin mendukung Jokowi.

    Prabowo berkunjung ke salah satu rival Jokowi (SBY) dengan harapan bisa menggandeng Demokrat untuk berkoalisi. Paket Prabowo-Orang SBY (misalnya Agus) menjadi pilihan paling realistis untuk melawan superioritas Jokowi. Namun naas, kunjungan Prabowo tidak membuahkan hasil. SBY menyatakan tidak ada koalisi antara Gerindra-Demokrat. SBY sepertinya tidak sepakat dengan paket yang ditawarkan Prabowo. Mungkin jika paketnya dibalik, misal menjadi Agus-Prabowo, ada peluang SBY untuk menerima tawaran Prabowo.

    Prabowo memang terlihat sangat menginginkan bisa berkoalisi dengan Demokrat.  Pasalnya, Amien Rais sudah ngebet banget mendekati Prabowo dengan harapan Prabowo mau menggandeng cawapres dari kader PAN seperti di tahun 2014. Namun seperti tidak mau gagal ketika berkoalisi dengan PAN seperti pada Pilpres 2014, Prabowo mengabaikan pendekatan Amien Rais.

    PKS sebagai partai yang sangat setia berkawan dengan Gerindra pun sama sekali belum dilirik oleh Prabowo. Prabowo seperti tidak berminat sedikitpun melirik kader PKS untuk dijadikan pendampingnya meskipun jika nanti sudah kepepet, kemungkinan Prabowo menggandeng PKS tetap ada.

    Kesulitan mencari cawapres yang pas di hati Prabowo sepertinya yang membuat Prabowo rehat sejenak. Prabowo seperti sedang menunggu perkembangan politik di tanah air untuk nantinya dijadikan pertimbangan dalam memilih cawapres. Bungkamnya Prabowo saat ini juga disebut-sebut karena namanya dikait-kaitkan dengan Saracen.

    Prabowo memang tidak asal dalam menggandeng capres. Dua kali gagal dalam pertarungan di Pilpres tentu menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan. Dia akan berjuang sekeras mungkin agar tidak mengalami kegagalan untuk kali ketiga. Memilih cawapres yang potensial menjadi sesuatu yang sifatnya wajib.

    Nama-nama sekelas Sohibul Iman, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Hidayat Nur Wahid, dan Yusril Ihza sepertinya belum memenuhi kriteria yang sesuai keinginan Prabowo. Bergandengan dengan mereka sepertinya hanya akan membuat Jokowi menang mudah. Berpasangan dengan kader Demokrat sepertinya menjadi pilihan paling realistis untuk bertarung melawan Jokowi.

    Bagaimana jika sampai mendekati deadline, Prabowo belum juga mendapatkan capres?

    Saya menduga Prabowo akan melirik ke Anies. Meskipun bukan berasal dari kader partai, Anies adalah sosok yang potensial. Kemenangan di Pilkada DKI menjadi bukti bahwa Anies sangat potensial, terlepas dari cara menang Anies yang menggunakan sara. Dengan retorika yang memukau, serta image santun serta  sebagai tokoh pendidikan, Anies dipandang lebih berbobot dibanding sosok-sosok seperti Sohibul Iman, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Hidayat Nur Wahid, dan Yusril Ihza.

    Meskipun Anies bukan orang partai, namun tidak sedikit yang mengidolakan Anies karena dipandang sebagai yang cerdas. Bukan kader partai menjadi kelebihan Anies dibanding Sohibul Iman, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Hidayat Nur Wahid, dan Yusril Ihza. Masyarakat sekarang sudah mulai muak dengan kader-kader partai. Sekarang sudah tidak penting partainya apa. Masyarakat lebih melihat ke sisi personal dari calon.

    Menggandeng Anies menjadi pilihan paling realistis Prabowo setelah gagal berkoalisi dengan Demokrat. Pengalaman Jokowi yang dua tahun menjadi gubernur kemudian loncat menjadi presiden menjadikan Prabowo tidak ragu untuk menggandeng Anies, terlebih jika selama dua tahun Anies mampu bekerja dengan baik dan elektabilitasnya semakin meningkat.

    Meskipun Anies pernah mengatakan akan menyelesaikan amanah sebagai gubernur hingga periodenya habis, hal tersebut tidak menjadi jaminan. Perkembangan politik di Indonesia sangat dinamis. Banyak hal-hal bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Diusungnya Anies sebagai calon gubernur pada Pikada DKI 2017 juga tidak disangka-sangka sebelumnya. So, Anies masih sangat mungkin untuk menjilat air liurnya sendiri.

    Jika memang benar Prabowo akan menggandeng Anies, nampaknya Jokowi harus lebih berhati-hati. Rahasia kampanye Jokowi tentu sudah dipahami betul oleh Anies karena sebelumnya Anies menjadi jubir kampanye Jokowi-JK. Sederhananya, strategi kampanye Jokowi sudah ada dalam genggaman Anies. Jokowi perlu melakukan berbagai inovasi jika tidak ingin dipermalukan oleh Anies.


    Penulis :   Saefudin Achmad    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Prabowo Kesulitan Cari Cawapres yang Potensial, Apakah Anies akan dilirik? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top