728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 15 September 2017

    #Warta : Positif Narkoba, Relawan Anies Sandi Diciduk Polisi di Karaoke! Gusti Ora Sare?

    Penangkapan Indra Jaya Piliang oleh pihak kepolisian direktorat reserse Narkotika Polda Metro Jaya di karaoke, membuat tim Anies-Sandi terkaget-kaget, mungkin lebih tepatnya kejang-kejang lantaran orang ini dikenal sangat aktif mendukung pasangan Anies Sandi.

    Indra Jaya Piliang sempat sangat terkenal karena ia melakukan Tweetwars melawan dua cagub lainnya yakni Ahok Djarot dan Agus Sylvi pada tanggal 7 Januari 2017. Tema yang dibawakan adalah ‘Tudingan Kedekatan Paslon dengan Radikalisme’.

    Pada acara tersebut, terlihat bagaimana dominasi Indra JP di dalam menepis tuduhan-tuduhan masyarakat yang mengatakan  bahwa Anies Sandi ada kedekatan dengan radikalisme. Beredar dukungan-dukungan dan keberpihakan Anies Sandi dengan salah satu pentolan FPI yang sekarang sudah jauh di sana. Mungkin hal ini yang diklarifikasi oleh tersangka Indra JP ini.

    Akhirnya ia diciduk aparat Direktorat Reserse Narkotika Polda Metro Jaya di sebuah tempat di Karaoke Taman Sari, Jakarta Barat. Indra ditangkap dengan sohibnya Romi Fernando dan M Ismail Jamani. Penangkapan yang dilakukan pada hari Rabu 13 September malam kemarin membuat timses Anies Sandi terkaget-kaget. Menurut saya ya seharusnya tidak perlu kaget, biasa saja, ikuti gaya Gibran. Namun mereka memilih untuk ‘kaget’ dan menyayangkan hal ini.

    “Saya tidak tau, saya belum mendengar (penangkapannya), saya terkejut, karena orangnya baik ya, cukup smart,” ujar sekretaris tim pemenangan Anies-Sandi, M Syarif kepada detikcom, Kamis (14/9/2017).
    Ternyata baik dan smart tidak menjamin seseorang memiliki kehidupan yang baik dan cara hidup yang smart. Rasanya harus ada satu lagi elemen yang perlu ditambahkan untuk memiliki kehidupan yang lebih benar. Smart dan good, harus diimbangi dengan ‘Fear of the Lord’ alias takut akan Tuhan. Amsal Sulaiman mengatakan bahwa ‘Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan’. Jadi jika kita bicara tentang smart dan good, itu pun tidak cukup.

    Adapun sebuah ‘amsal’ Ahok yang mengatakan bahwa ‘pendukung mencerminkan yang didukung’ pun sangat benar. Saya sangat yakin satu hal, yakni Ahok tidak bermaksud untuk menghina orang-orang seperti itu. Ia hanya mengatakan bahwa maksud Ahok adalah sangat general. Pada saat itu, ia sangat concern dan berdedikasi untuk warganya. Pada akhirnya, melihat ketegasan dan kegarangan Ahok di dalam birokrasi, membuat para PNS yang ada di DKI Jakarta menjadi semakin maju, meskipun harus terseok-seok dan mengeluh melulu.

    Setelah Ahok ditangkap dan masuk penjara, kita tahu bahwa birokrasi mulai menurun. Orang se-good alias sebaik Djarot pun sulit untuk menahan kejatuhan dan keterpurukan PNS DKI Jakarta. Banyak kelurahan yang mulai sesuka-suka mereka, ibarat binatang lepas dari kerangkeng. Inilah fakta yang harus kita terima, setelah Ahok ditangkap dan dipenjara di Mako Brimob oleh vonis hakim yang (katanya) mulia.

    Jika banyak pembaca Seword yang mengatakan bahwa saya gagal move on, ya benar! Saya gagal move on dari Ahok! Mengapa? Karena setiap kata-kata yang pernah diucapkan, mulai perlahan-lahan terbukti. ‘Gusti ora sare’ menjadi kalimat yang sempat diucapkan dengan konteks dirinya, yang ternyata juga kontekstual dengan hari ini. Setelah itu, ‘kalau kepala benar, bawahan tidak berani tidak benar’.

    Dengan penangkapan Indra J Piliang karena positif narkoba, sebenarnya tidak bisa kita korelasikan langsung dengan ‘siapa yang dia dukung’. Namun selama ini, kita melihat orang-orang yang berurusan dengan polisi, pernah punya kedekatan dengan Gerindra. Ini hal yang tidak bisa dibantah, karena fakta.

    Maka dengan demikian, saya sungguh yakin dan benar-benar setuju dengan apa yang Ahok katakan. Kalimat yang diucapkannya memang timeless dan relevant. Selalu bermakna. Inilah ciri-ciri orang besar. Orang besar, meskipun ditenggelamkan, suaranya tetap terdengar. Indonesia harus menjadi negara yang berkembang, bukan negara yang malah mendukung aksi-aksi radikalisme yang ada di Indonesia.

    Akhir kata, semoga Indonesia dapat menjadi negara yang lebih mengedepankan rasionalitas, bukan anarkis. Indonesia harus mengedepankan harga diri bangsa, bukan malah menggadaikan harga diri semurah-murahnya kepada kaum radikal. Lagi-lagi saya tidak bosan mengatakan ‘Gusti ora Sare’, meskipun yang benar sesuai dengan tata bahasa ‘Gusti mboten sare’.
    Kowe kapan sare?
    Betul kan yang saya katakan?





    Penulis :  Hysebastian    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Positif Narkoba, Relawan Anies Sandi Diciduk Polisi di Karaoke! Gusti Ora Sare? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top