728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 26 September 2017

    #Warta : Pengikut Tolak Pemimpin Kafir, Komandan Anies Malah Temui Taipan

    Gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Baswedan yang akan berkuasa di Jakarta pada tahun ini sampai lima tahun ke depan menemui pengusaha-pengusaha Tionghoa di Jakarta pada hari Jumat, 29 September 2017. Seperti yang dilansir pada koran cetak Kompas, ia mengatakan bahwa ingin mengubah pola pertimbangan kebijakan publik dri ide pemerintah yang langsung diterapkan ke publik menjadi gagasan warga yang dihimpun menjadi kebijakan.

    Secara sederhana, peraturan-peraturan satu arah dari atas ke bawah, dari pemerintah ke pengusaha, diubah menjadi peraturan yang bersifat dua arah dengan pertimbangan. Ini adalah celah bagi Anies untuk ditipu habis-habisan oleh para pengusaha, dengan ruang dialog. Dengan membuka ruang dialog ini, saya rasa malah uang rakyat tidak akan bisa digunakan dan dinikmati secara merata.

    Ruang-ruang korupsi akan terbuka lebar, karena ada komunikasi dua arah. Pemberi kebijakan menjadi tidak netral, karena dipengaruhi oleh pengusaha-pengusaha yang juga memiliki agenda memperoleh keuntungan. Ini adalah lubang yang sengaja dibuka oleh Anies, karena pengalamannya yang tidak ada sama sekali dalam memimpin kota.

        “Kami ingin mendengar harapan dan masalah-masalah yang jadi perhatian masyarakat… Saya persilakan rekan-rekan pengusaha memperkenalkan diri kepada gubernur Sampaikan pertanyaan dan kesulitan dalam usaha selama ini. Akan tetapi, jangan minta uang karena yang paling penting kebijakannya beres,” Ujar Didi Dawis, pebisnis properti yang memandu percakapan.

        “Kami harap gubernur tidak menjadi hakim yang memutuskan segala hal sendiri,” Ujar pengusaha tambang PLTA Tajudin Hidayat.

        “Kami mohon agar isu SARA jangan sampai menggoyang Ibu Kota karena saya penanam modal menjadi gugup menginvestasikan modalnya,” ujar Wiryanto, pengusaha muda Tionghoa.

    Bagi Anies, seluruh harapan dan saran pebisnis Tionghoa perlu dipertimbangkan, karena akan mengubah sedikit banyak kebijakan-kebijakan yang ada.

    Dengan demikian, sudah jelas bahwa kebijakan yang diperjuangkan selama ini oleh pemprov DKI unutk kemajuan kota Jakarta, mulai terbuka lebar untuk digoyang oleh kepentingan-kepentingan pengusaha yang tentu saling bersaing.

    “Kita akan bertemu lagi dan tema pembicaraan ditentukan. Saat ini lebih seperti momen perkenalan.” ujar Anies Baswedan.

    Saya tiba-tiba teringat kalimat lama dari seorang pembina rohani saya, Pdt. Dr. Stephen Tong yang mengatakan dengan tegas dan jelas mengenai hal ini.

        In order to be big, what do you compromise? – Stephen Tong

    Ini menjadi pertanyaan sekaligus kalimat yang harus kita pikirkan bersama.

    Untuk menjadi besar, apa yang kita kompromikan? SARA terbukti menjadi bahan kompromi terbesar bagi Jakarta. Isu SARA yang dilancarkan oleh para pendukung Anies, menjadi sebuah bahan untuk memenangkan pilkada DKI Jakarta. Dengan ancaman-ancaman mulai dari ayat sampai mayat, membuat warga Jakarta ketakutan untuk tidak memilih Anies.

    Seolah memilih Anies Sandi seperti memilih sorga dan neraka. Namun bagaimana kelanjutannya sekarang? Kita liat Anies malah datang MENEMUI pengusaha Tionghoa yang ada di Jakarta. Inikah yang dinamakan keberpihakan?

    Ketakutan-ketakutan yang dipelihara dan dipertumbuhkan pada saat pilkada DKI Jakarta, menjadi momok yang mengerikan. Isu SARA yang berhasil mengikat dan mencengkeram nalar dan nurani, membuat situasi Jakarta sempat tidak kondusif, bahkan cenderung anarkis.

    Merawat nalar adalah sebuah tindakan yang tidak kalah penting dari merawat kebinekaan. Kebinekaan yang sudah dirajut susah-susah, sobek dengan mudahnya karena aksi para pendukung Anies. Bahkan sesama muslim pun, Haji Djarot sempat diusir dari masjid ketika ia selesai beribadah.

    Lagi-lagi, inkonsistensi ditunjukkan oleh Anies dalam keberpihakannya bukan kepada rakyat yang membelanya lagi, melainkan ditunjukkan kepada pengusaha Tionghoa. Secara aktif ia menemui para pengusaha, bukan ditemui. Lagi-lagi isu SARA terbukti hanya menjadi alat propaganda untuk merajut tenun keberpihakan, bukan lagi tenun kebangsaan.

    Akhir kata, marilah kita menjadi orang yang cerdas dalam melihat, menimbang, dan bertindak untuk bangsa dan negara ini. Jangan rusak tenun kebangsaan yang digadang-gadang oleh Anies, hanya karena kehausan akan kekuasaan yang begitu kencang ditunjukkan oleh Anies.

    Selamat datang di Jakarta, selamat untuk 58% warga ketakutan Jakarta yang sudah memilih Anies Sandi. Inilah realita yang akan terjadi. Indonesia akan semakin maju kotanya, dan bahagia warganya, namun pertama-tama kita harus melihat Anies memajukan dan membahagiakan pengusaha-pengusaha Tionghoa dulu ya.

    Betul kan yang saya katakan?





    Penulis :   hysebastian   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Pengikut Tolak Pemimpin Kafir, Komandan Anies Malah Temui Taipan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top