728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 01 September 2017

    #Warta : Para Penghina Presiden Satu Per Satu “Tercyduk”, Ada Apa Sih Sebenarnya?

    Sebelum saya memulai artikel ini, perkenankan saya mengucapkan “Selamat Berkurban” bagi segenap pembaca yang merayakan Idul Adha, dari saya dan keluarga yang merupakan penganut Katolik Roma di negara kita bersama ini. Mohon maaf lahir dan bathin. “Bila kita tidak bersaudara dalam iman, setidaknya kita bersaudara dalam kemanusiaan” (Imam Ali bin Abi Tholib)

    ____________________________________&&&_____________________________________________

    ______________________________
    Jokowi, Presiden yang Sangat Peduli pada Keutuhan NKRI


    Saya ingin memulai artikel ini dengan sebuah pertanyaan yang muncul dari postingan seseorang di lini massanya. Orang itu mengatakan kurang lebih begini, “Di zaman presiden sebelumnya, ketika ada warga negara yang mengata-ngatai presiden yang sedang menjabat, biasa-biasa saja. Sekarang kok sedikit-sedikit ditangkap, sedikit-sedikit dipolisikan”.

    Maka, baiklah, sebelum berlangkah lebih lanjut sebaiknya kita harus meluruskan beberapa hal.

    Pertama, harus dipertegas dulu, presiden siapa saja yang pernah dikata-katai terus memilih bergeming atas perkataan yang menimpanya dari warga? Saya harus jujur mengakui bahwa teramat sulit bagi saya mencari sumber valid untuk mengatakan bahwa presiden sebelumnya pernah dikata-katai oleh warganya. Lebih sulit lagi menemukan bahwa sang presiden tidak terusik oleh perkataan warganya tersebut. Perkataan yang saya maksudkan di sini adalah perkataan yang tidak mengenakkan karena hendak menyesuaikan diri dengan opini yang hendak dibangun oleh orang yang aku kutip perkataannya di awal tulisan ini tadi.

    Perkataan yang saya kutip di atas tadi bila kita melakukan tinjauan kritis sedikit terhadapnya, maka kita akan menemukan bahwa seolah-olah aksi penangkapan atau pemolisian beberapa oknum yang terjadi belakangan ini di zaman Jokowi menjabat sebagai presiden kita adalah sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak terjadi pada era kepemimpinan sebelum-sebelumnya. Ini artinya opini yang hendak dibangun orang itu adalah bahwa aksi penangkapan yang terjadi belakangan ini merupakan sesuatu yang tidak perlu karena pada era sebelumnya tidak ada aksi seperti begitu.

    Terhadap opini yang hendak dia bangun ini, karena sulitnya saya mendapatkan bukti valid terhadap pernyataannya tentang era sebelumnya yang ketiadaan aksi penangkapan atas dugaan hatespeech dan semacamnya, saya anggap saja karena pada saat itu UU ITE belum ditetapkan. Atau bisa juga karena tidak ada media yang memberitakannya. Jadi, ya wajar kalau terkesan bahwa pada era pemerintahan sebelum Jokowi seolah presiden yang lagi menjabat tidak terusik oleh perkataan warganya yang tergolong menghina.

    Kedua, penangkapan dan pemolisian terhadap beberapa oknum atau organisasi belakangan ini, bukanlah aksi pembungkaman rezim terhadap warganya yang kritis. Penangkapan dilakukan atas alasan dugaan penghinaan. Di sini kita harus paham bahwa antara mengritik dan menghina itu sangat berbeda.

    Bahwa dalam kenyataannya, sebuah penghinaan bisa merupakan sebuah kritikan itu benar. Tapi tidak sebaliknya bahwa semua kritik adalah penghinaan. Kritik toh bisa disampaikan dengan bahasa yang santun, bahasa yang tidak membuat yang dikritik jadi merasa direndahkan. Kecakapan berkomunikasi publik berperan penting di sini. Sebuah kritik yang maksudnya mengingatkan dan membangun yang dikritik apabila disampaikan dengan bahasa bernuansa olokan dan ejekan, itu amat merendahkan. Itu penghinaan. Sebaliknya, bila disampaikan dengan bahasa yang santun, itu menempatkan yang dikritik sebagai orang yang tetap patut mendapatkan penghormatan dari sang pengritik. Jadi ya… memang perlu itu yang namanya kecakapan berkomunikasi (publik).

    Jangankan sebagai Presiden, sebagai Jelata pun Jokowi Pasti Bereaksi

    Setelah memahami poin-poin di atas, mari kita berlangkah menuju ke pokok persoalan. Terhadap ini, pertanyaan besarnya adalah apakah aksi penangkapan dan pemolisian yang terjadi belakangan ini ada motiv politis demi mengamankan posisi Jokowi menuju pencalonan kembali jadi presiden di tahun 2019?

    Jawabannya adalah tidak sama sekali. Saya bisa memastikan itu karena Jokowi bukan sekali dua kali ini saja dihina-hina. Sejak awal pencalonannya sebagai Gubernur DKI saja berbagai fitnah, hujatan, penghinaan dan ejekan kerap menerpanya. Lalu, kenapa baru sekarang orang-orang yang menghinanya satu per satu ditangkapi?

    Itu tidak lain karena pelajaran yang didapat dari seputaran Pilkada DKI memberikan bangsa ini sesuatu yang amat sangat berharga. Sebab, sebagaimana yang kita ketahui bersama, di tengah teriknya sengatan kepentingan pencalonan beberapa oknum di Pilkada DKI kemarin, negeri ini nyaris bubar seketika, hancur berkeping-keping terbagikan ke dalam beberapa negara pecahan.

    Ah…, yang benar saja? Lebay ah! Begitu mungkin benak sebagian pembaca bereaksi atas pernyataan saya barusan. Saya memakluminya karena memang kemarin itu tidak ada yang sampai benar-benar memroklamirkan berdirinya Republik Papua, Republik Minahasa, Republik Bali dan Republik Flobamorasta. Iya, kan nyaris saya bilang.

    Sadarkah Anda, siapa sosok di seputar peristiwa itu kemarin yang berjasa membuat negeri ini tetap tegak berdiri sebagai NKRI hingga detik ini? AHOK! Kenapa? Ahok kalau saja memiliki jiwa kerdil, atau politisi yang lebih mementingkan dirinya sendiri, bubar beneran republik ini kemarin. Beruntung, dia dengan legawa menerima kekalahan meskipun ada beberapa temuan kecurangan dari kubu sebelah dikantongi dia dan segenap relawannya. Terlebih lagi, dia bisa mudah saja menggerakkan massa pendukungnya kemarin untuk bertindak anarkis atas putusan hakim pengadilan yang bahkan oleh jaksa yang menyidangkannya saja dirasa berlebihan. Coba bayangkan apabila Ahok kayak si raja togel yang jagoan main keroyokan tapi begitu disasar polisi terkait dugaan “skandal kebun pisang” lari lintang-pukang ke luar negeri tak pulang-pulang hingga detik ini itu?

    Saya jamin, negara sudah pasti chaos kemarin. Ujung-ujungnya adalah mereka yang tersakiti oleh kaum penolak kebhinekaan beramai-ramai memroklamasikan diri terpisah dari NKRI serentak menjadi negara berkedaulatan sendiri.

    Ahok, Sosok Kunci Tetap Tegaknya NKRI Pasca Pilkada DKI Kemarin


    Oke, kita kembali ke topik! Ahok kalah itu karena banyaknya fitnahan, banyakanya hujatan, banyaknya hatespeech dan ancaman nyata terhadap para pendukungnya kemarin di Pilkada DKI. Kenapa? Karena survey membuktikan, tingkat keterpuasan publik atas pelayanan Ahok di periode sebelumnya di atas 72%, ‘kan tidak masuk di akal kalau kemudian malah kalah dalam pemilukada untuk kepentingan periode berikutnya dia menjabat.

    Akibat banyaknya hujatan, hinaan, fitnahan hingga ancaman yang diterima warga yang hendak memilih Ahok pun terpaksa mengalihkan dukungannya ke sebelah. Ya, akhirnya Ahok-Djarot kalah deh….

    See? Ternyata hoax, fitnahan, hujatan hingga ancaman itu efektif melenggangkan seseorang ke panggung kekuasaan. Sekarang, bisakah Anda membayangkan apa yang akan terjadi di tahun 2018 mendatang saat 50% penduduk Indonesia serentak menyelenggarakan pemilukada di Jawa? Bila di setiap propinsi yang akan berpemilukada itu ada satu saja kubu yang memainkan pola kotor seperti di DKI yang lalu itu, akan kayak apakah negara ini? Iya kalau kubu yang dirugikan adalah orang-orang yang selevel Ahok semuanya. Jika sama-sama kotor integritasnya, apa yang akan terjadi? Saya membayangkan kengerian yang teramat sangat.

    Nah, guna mengantisipasi itulah makanya, orang-orang yang menggunakan media sosialnya secara tidak bertanggung jawab perlu diambil tindakan tegas dari sekarang.  Itu adalah kesadaran yang melatari tegasnya Jokowi memerintahkan aparat berwajib untuk bertindak tegas terhadap para netizen sejenis Jonru, MCA (Moeslem Cyber Army) dan Saracen Group beserta jaringannya. Bila lini massa bersih dari postingan-postingan provokatif maka ketakutan kita akan kengerian yang bakal terjadi di seputaran pilkada serentak di Jawa tahun depan itu sedikit terobati.

    Jadi? Kesimpulan finalnya adalah Jokowi, bahkan kalau beliau bukan presiden pun, beliau akan tetap meminta kepolisian untuk bertindak tegas terhadap para penyebar hoax, hinaan dan hujatan di media sosial. Kenapa saya sedemikian yakinnya tentang itu? Tidak lain karena Pakdhe adalah sosok yang amat peduli akan keutuhan republik tercinta ini, sebagaimana dia wujudkan dalam berbagai gebrakan pembangunan infrastruktur yang merata di seluruh pelosok negeri, terutama kawasan timur Indonesia yang mana pada era kepemimpinan sebelumnya sering dianaktirikan. Jokowi adalah sosok pemimpin yang berhasil membuat jiwa patriotisme menggelegak dalam diri para pecinta NKRI yang meski berbhineka latar, tidak menjadikan itu sebagai sebuah penghalang dalam merajut persaudaraan dan silaturahmi lintas latar segenap anak bangsa sebagaimana
    saya dan segenap penulis seword lainnya juga wujudkan dalam kebersamaan kami. Adakah Anda, pembaca, juga memiliki kesimpulan yang sama?

    Jika iya, maka mari kita bersama-sama dengan Pakdhe Jokowi menjaga republik ini dari parasit-parasit demokrasi dan kebhinekaan kita sebangsa. Mari kita ganyang mereka dengan cara kita masing-masing agar cucu kita kelak akan tetap senegara dengan kita, kakek-nenek mereka.
    Yuk!





    Penulis :  Aven Jaman      Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Para Penghina Presiden Satu Per Satu “Tercyduk”, Ada Apa Sih Sebenarnya? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top