728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 14 September 2017

    #Warta : Pansus Angket KPK Akhirnya Akan Berkonsultasi Pada Presiden. Kok bisa?

    Saya sebel banget membaca berita ini. Bukan apa-apa, yang masuk dalam kepala saya ketika membaca berita ini adalah uang sebesar Rp 3 miliar rupiah yang sudah dikeluarkan untuk membiayai dari mulai pembentukan dan ongkos para anggota Pansus Angket KPK ini untuk pergi kemana-mana. Seperti kita tahu, mereka pergi ke Lapas Sukamiskin Bandung untuk mewawancarai para koruptor yang dulu ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh KPK.

    Lalu kita juga tahu apa saja yang sudah digaungkan para anggota Pansus ini, mulai dari omongan ketua Pansus sampai omongan para anggotanya. Benar-benar bikin miris telinga. Tingkat kepedean mereka untuk mencabut wewenang KPK atas penuntutan dan penindakan dan bahkan omongan yang asal bunyi tentang keinginan untuk membekukan KPK begitu menjadi viral di media. Mereka benar-benar kepedean dengan hasil temuan sementaranya yang sebagian pakar hukum bilang, sangat tidak masuk akal.

    Lucunya, seorang kecoak yang tiba-tiba merasa dirinya jadi sangat penting karena dipanggil dan dimintai keterangannya oleh Pansus ini, Niko atau Miko Panji Tirtayasa. Didepan para anggota Pansus Angket KPK, dia dengan lantang mengatakan, “Saya tidak mau saksi-saksi sekarang yang mulutnya masih dibungkam, masih ditahan dirumah sekap mereka, YUK KITA SAMA-SAMA LAWAN! Inilah kebenaran!”. 

    Yaelah nih kecoak! Nama dia saja, orang masih bingung apa Niko atau Miko, mau ngajak-ngajak para anggota dewan yang terhormat untuk bersama-sama melawan KPK. Tapi yang lebih lucu lagi adalah para anggota dewan yang terhormat yang tergabung dalam Pansus Angket KPK ini MENDENGARKAN OMONGAN INI ORANG.

    Hanya karena omongan satu orang, Pansus Angket KPK lagi-lagi menggunakan majas pars pro toto. Pansus langsung menilai bahwa keberadaan “rumah sekap”, istilah yang digunakan oleh Niko atau Miko ini,  telah membuat Pansus Angket ini “melenceng” dari tujuan awal.

    Ini yang kemudian memancing PAN untuk meminta kinerja Pansus Angket KPK dievaluasi. Hal yang sama juga dikatakan oleh Indonesia Corruption Watch atau ICW untuk mengevaluasi Hasil temuan Pansus Angket KPK ini. Menurut Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW, Donald Fariz, mengatakan kinerja KPK akan selalu buruk jika Pansus meminta keterangan dari koruptor. ICW menilai, selama ini Pansus KPK hanya mencari-cari kesalahan KPK. ICW kemudian membeberkan 6 poin evalusia kinerja Pansus Angket KPK:
    1. Dari 16 aktivitas Pansus, 12 diantaranya dinilai tidak relevan dengan tujuan awal.
    2. 4 dari 5 ahli yang diundang Pansus KPK terkesan mendukung dan menguntungkan Pansus. Dan hanya 1 ahli yang dinilai merugikan Pansus karena mempersoalkan legalitas Pansus.
    3. Pansus banyak melakukan kunjungan politis yang tidak relevan. Hanya kunjungan pada BPK dan kepolisian yang relevan, itupun hanya sebagai bentuk lobi.
    4. Saksi yang dihadirkan Pansus dari pihak Napi Koruptor. Hal ini dipertanyakan.
    5. Pansus diduga dengan sengaja menebarkan hoax. Ada 10 berita hoax yang ICW catat telah dikeluarkan oleh Pansus Angket KPK.
    6. ICW melihat Pansus melakukan 3 ancaman kepada KPK selama bekerja.
    Dari goncang gancing Pansus Angket KPK yang menyebarkan berita ancaman-ancaman mereka ini, membuat Presiden Jokowi ikut berkomentar yang dituangkannya dalam tuitan di twiternya bahwa “Kita harus menjaga KPK. Korupsi adalah kejahatan luar biasa – JKW” dan dia juga mengatakan hal yang sama disetiap kesempatan.

    Di artikel saya sebelumnya, kita bisa melihat, Pansus Angket KPK ini mulai terlihat limbung dan kehilangan arah. Mereka berusaha menggeser masalah KPK menjadi masalah Novel Baswedan vs Aris Budiman. 

    Yang tentu saja langsung teridentifikasi bahwa ini hanya untuk mengalihkan perhatian rakyat atas sepak terjang mereka untuk mencari pembelaan atas setiap kata yang sudah diucapkan.

    Segala cara dan gaya sudah Pansus lakukan untuk memangkas kaki KPK sampai-sampai Masinton membawa koper datang ke gedung KPK untung menantang Ketua KPK, Agus Rahardjo, karena pernyataan Ketua KPK yang berencana menggunakan pasal menghalangi proses penyidikan dan persidangan terhadap Pansus Hak Angket DPR.
    Dan sekarang Panitia Khusus Hak Angket KPK berencana menemui Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk berkonsultasi? Rencana tersebut telah disampaikan oleh Pansus kepada pimpinan dewan untuk bersurat ke Presiden. Mereka membantah bahwa rencana pertemuan dengan Presiden Jokowi ini merupakan langkah untuk melobi Presiden agar menerima hasil rekomendasi Pansus Angket KPK.
    Saya jadi ingin tertawa. Dua bulan sudah dengan memakan biaya sebesar Rp 3 miliar yang dikeluarkan untuk membentuk Pansus Angket KPK dengan tujuan memperkuat KPK, akan berujung di Istana. Saya membayangkan Presiden Jokowi akan terbahak dalam hati melihat kelakuan para anggota Pansus Angket KPK ini. Mungkin saja dia juga bilang, “Gue ga usah pake duit rakyat Rp 3 miliar, KPK bisa gue jamin kuat!”

    Saya sunguh-sungguh berharap bahwa kejadian yang sangat memalukan dari para anggota Dewan ini menjadi satu pelajar bahwa “mengakal” dijaman Jokowi hampir bisa dibilang mustahil. Pelajaran yang mudah-mudahan didapat oleh DPR adalah masa melindungi sesama kawan anggota dewan sudah tidak bisa dilakukan walaupun dengan menggunakan UU MD3 sekalipun. Jokowi dengan jelas mengatakan, “Korupsi adalah kejahatan luar biasa”. Jadi kalian, wahai anggota dewan, cepatlah sadar. 

    Bagi mereka yang sudah pernah melakukan korupsi, segeralah siap-siap, karena setelah kejadian Pansus Angket KPK ini, KPK pasti akan lebih garang lagi menyisir setiap orang yang ada di dalam Gedung kura-kura.
    Semoga!!



    Penulis :  Erika Ebener    Sumber :   Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Pansus Angket KPK Akhirnya Akan Berkonsultasi Pada Presiden. Kok bisa? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top