728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 28 September 2017

    #Warta : Pak Kivlan, Pak Amien, Anda Berdua Jangan Keblinger!

    Sudah hampir 2 minggu ini santer kembali terdengar isu-isu berbau komunisme yang menyeruak, seiring dengan semakin dekatnya tanggal 30 September dan 1 Oktober yang masih dipercayai oleh sebagian besar rakyat Indonesia sebagai hari dimana Partai Komunis Indonesia membunuh 6 Jenderal Angkatan Darat dan 3 perwira di sekitar Jakarta dan Yogyakarta pada tahun 1965. Partai terbesar di Indonesia dan salah satu sekutu terdekat Presiden Soekarno pada waktu itu, disangka mengkhianati Bangsa Indonesia.

    Dalam waktu singkat setelahnya, muncul banyak bentrokan, perburuan, persekusi, dan banyak hal-hal buruk lainnya yang terjadi sepanjang akhir tahun 1965 sampai tahun 1967. Aksi-aksi tersebut menyasar anggota PKI (yang berjumlah lebih dari 2 juta orang), simpatisan (lebih dari 10 juta orang dari kalangan masyarakat kelas bawah), dan siapapun yang terindikasi mempunyai kedekatan dengan PKI, baik secara politis maupun ideologis. Bahkan kelompok-kelompok minoritas seperti kelompok berkepercayaan Sunda Wiwitan dan Jawa Kejawen, serta kelompok etnis Tionghoa tidak luput menjadi target dari kelompok-kelompok anti-komunis.

    Tidak jarang terdengar berbagai kebengisan yang menimpa orang-orang yang tertuduh sebagai komunis. Anak-anak yang diseret dari teman-temannya kemudian diarak bersama keluarganya keliling desa lalu dipukuli sampai mati di lapangan oleh tetangga-tetangganya, pemenggalan orang-orang tertuduh komunis dengan pintu gerbong kereta barang yang saat ini gerbongnya masih ada di sekitar Jawa Timur, pemalakan dan upaya penjaraha terhadap pemilik toko kelontong yang berakhir dengan dibunuhnya sang pemilik toko setelah diteriaki “PKI!” oleh si pemalak, dan masih banyak lagi kebengisan-kebengisan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku anti-komunis tersebut.

    Semuanya dijustifikasi dengan dalih bahwa PKI itu Atheis, sering menjarah tanah-tanah milik tuan tanah (dimana beberapa dari mereka beragama Islam) dan ulama-ulama pondok pesantren yang kemudian PKI bagi-bagikan kepada petani. Kebiadaban skala besar yang menyalahi Sila Kedua Pancasila dibiarkan dan didukung oleh Angkatan Darat yang memfasilitasi masyarakat dan ormas-ormas dengan daftar nama “terduga PKI”.

    Lebih dari 50 tahun berlalu sejak pembantaian tersebut, dan lebih dari 19 tahun sejak Orde Baru tumbang, keadaan tidak banyak berubah. Masyarakat yang sudah lama ditekan oleh Demokrasi ‘Pancasila’ yang digaung-gaungkan Orde Baru bangkit melawan untuk memperjuangkan kebebasan. Namun dari sekian usaha-usaha dari rakyat, pemain-pemain lama dan baru bermunculan untuk memanfaatkan gelombang kebebasan demi kepentingan mereka sendiri.

    Terbunuhnya Munir menandakan masih ada pihak yang mempunyai kekuatan besar dan ingin agar kekejaman masa lalu tertutupi. Kasus-kasus pelanggaran HAM kebanyakan berjalan di tempat, seiring dengan munculnya beberapa kasus pelanggaran HAM yang baru. Kebebasan yang dulunya dikekang, sekarang menjadi kebablasan dengan maraknya berbagai aksi sweeping dan persekusi yang sering terjadi di masyarakat.

    Sejak beberapa tahun ini beberapa pemain lama dari zaman Orde Baru mulai menggaungkan isu-isu PKI. Sebut saja Kivlan Zein, yang menyebut bahwa Partai Komunis Indonesia sudah bangkit dan mempunyai sekitar 15 juta anggota, dipimpin oleh seseorang bernama Wahyu Setiaji.
    Kivlan Zein – Sumber: liputan6 .com
    “Bangkit, mereka (PKI) sudah membentuk struktur partai mulai tingkat pusat sampai desa, pimpinannya Wahyu Setiaji,” kata di sela simposium nasional ‘Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain’ di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (1/6/2016). “Mereka sudah siap dengan 15 juta pendukungnya,” imbuhnya.
    Pengipasan isu-isu PKI oleh lawan politik pada bulan September 2017 bahkan sudah dimulai pada pagi hari sebelum dibubarkannya acara di Kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta pada hari Sabtu, 16 September 2017. Orasi yang digaungkan oleh Prabowo Subianto dan Amien Rais dalam “Aksi 169 – Bela Rohingya” membawa-bawa lagi isu PKI yang menurut saya… tidak pada tempatnya.
    Amien Rais dalam “Aksi 169 – Bela Rohingya”
    “Terus terang tadi pagi saya gembira karena TNI AD ada meminta film PKI diputar lagi. Jadi mereka yang petentang-petenteng berusaha membangun PKI insyaallah akan berurusan dengan TNI,” papar Amien.”Di negeri ini ada yang mengelabui masyarakat (dengan mengatakan) ‘komunisme sudah tidak ada, kenapa takut’,” sambungnya.
    Seperti biasa, Pak Kivlan Zein dan Pak Amien Rais entah kenapa mengalami halusinasi – saya tidak ingin asal menebak apakah mereka mengonsumsi halusinogen atau tidak – dan membayangkan bahwa PKI sudah bangkit. Kalau memang ada 15 (atau 60) juta anggota PKI di Indonesia, seharusnya kita bisa mengetahuinya langsung, tetapi tidak, baik Pak Kivlan maupun Pak Amien tidak dapat membuktikannya.

    Tetapi pengipasan isu-isu berbau PKI oleh mereka mendapat respons positif dari pihak-pihak yang selama ini beroposisi terhadap pemerintah. Seperti PKS (setidaknya dari Ketua Fraksi PKS DPR-RI), yang juga berencana untuk melakukan “nonton bareng” film “Pengkhianatan G30S/PKI” pada tanggal 30 September 2017.
    Jazuli Juwaini, Ketua F-PKS DPR-RI
    “Tujuan utamanya adalah untuk membangun dan mengokohkan rasa nasionalisme, terutama untuk generasi muda, menanamkan kepada mereka beratnya perjuangan mempertahankan republik hingga nyawa taruhannya,” kata Jazuli, Ketua Fraksi PKS di DPR. “Kita semua tentu menyambut baik upaya ini karena berbekal nasionalisme yang kuat bangsa ini akan tetap terjaga dan berdiri kokoh,” tambah anggota Komisi I DPR ini.
    Satu blunder dari pihak pemerintah, akan dimanfaatkan sehabis-habisnya oleh pihak oposisi untuk menjatuhkan mereka. Itulah yang terjadi sekarang, bahwa niat Panglima TNI Gatot Nurmantyo untuk mempertontonkan film propaganda anti-kiri tersebut dan persetujuan tidak langsung dari Mendagri Tjahjo Kumolo mulai dianggap sebagai sinyal bagi para lawan politik Pakde Jokowi untuk menggaungkan isu-isu PKI lagi. Posisi Pakde Jokowi ditekan dari berbagai sisi untuk kesekian kalinya, semua pihak menunggu jawaban dari beliau mengenai isu-isu yang diyakini mampu merongrong ideologi Pancasila.

    Seperti yang sudah saya katakan dalam artikel yang pertama, film G30S/PKI adalah usaha pembenaran oleh Orde Baru untuk merampas kebebasan berekspresi warga melalui cap dan stigma “PKI”, juga dengan film tersebut pembantaian yang dilakukan oleh TNI Angkatan Darat terhadap orang-orang tertuduh PKI pada tahun 1965-1966 menjadi terjustifikasi dan diterima dengan alasan “menjaga stabilitas negara”. Entah kenapa setelah 19 tahun sejak pelarangan pemutaran film tersebut oleh Angkatan Udara, para oposisi Pakde merasa perlu membangkitkan PKI dari alam kubur untuk menakut-nakuti rakyat dan memuluskan jalan untuk kembalinya Orde Baru ke Indonesia.

    Apakah kita mau Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang membenci secara membabi buta, bangsa yang tidak punya rasa adil dan adab dalam menghadapi sebuah pelanggaran? Apakah kita menjadi bangsa yang tidak berperikemanusiaan, yang membalas pembunuhan puluhan ribu orang (yang diduga dilakukan PKI) dengan melakukan persekusi, pengejaran, dan pembunuhan terhadap jutaan orang yang dituduh PKI?

    Kalau iya, selamat. Anda baru saja menunjukkan betapa sia-sia dan tidak ada gunanya istri dari Muhammad Al-Zahra, para keluarga korban Tragedi Semanggi, istri dari Munir, dan keluarga korban Pembantaian 1965-1966 untuk menuntut keadilan. Mereka sudah ikhlas menerima putusan legal, tetapi kalian – yang ingin Bangsa Indonesia mundur ke belakang dan masih memimpikan kebangkitan Rezim Orba – telah merenggut kesempatan mereka!

    Salam Dua Jari. NASAKOM BERSATU!

    Artikel selanjutnya (rilis tanggal 30 September 2017) dalam seri Menghadapi Isu Komunis oleh Andreas Yosef:

    Pak Luhut, Pakde Jokowi, Bung Karno, Anda Bertiga Luar Biasa!
    #TOLAK_KEBANGKITAN_ORBA



    Penulis   :    Andreas Yosef    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Pak Kivlan, Pak Amien, Anda Berdua Jangan Keblinger! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top