728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 10 September 2017

    #Warta : Pada Saat Salonpun Ikut-Ikutan Harus Segregasi

     Saya mendengar kata "Segregasi" itu dari pak Imam B Prasodjo saat diskusi di depan alumnus tambang ITB. Segregasi itu menurut KBBI adalah pemisahan satu golongan dari golongan lainnya.

    Pak Imam merasakan sendiri betapa segregasi itu dampaknya mengerikan. Ketika satu kelompok merasa lebih tinggi dari kelompok lainnya, maka yang sulit dihindarkan adalah gesekan diantara keduanya.

    Di luar negeri kita melihat peristiwa bagaimana permasalahan suku melegalkan genosida oleh suku Hutu kepada suku Tutsi di Rwanda. Begitu juga ketika Serbia menghabisi Bosnia.

        Seperti kata Gus Yaqut Ketum GP Ansor dalam sebuah perbincangan. "Saya harus bergerak terus meski lelah karena tidak ingin meninggalkan jejak kehancuran negeri ini kepada anak saya. Ini tanggung jawab saya sebagai orangtua.."

    Di negeri kita sendiri cerita tentang peristiwa Ambon, Tobelo Halmahera, Poso dan Sampit adalah kenangan yang menyakitkan. Atas nama suku dan agama, manusia menjadi tuhan-tuhan baru yang menghalalkan untuk memenggal, memperkosa dan membakar mereka yang tidak segolongan dengan mereka.

    Sialnya, manusia tidak pernah belajar.

    Meski ayat-ayat di kitab suci mana saja berulangkali mengatakan, bahwa tidak ada manusia yang lebih daripada yang lainnya kecuali amal perbuatan mereka, ayat itu seakan hanya menjadi bacaan dikala gundah tapi tidak berpengaruh apapun pada hatinya.

    Banyak peristiwa yang bisa menjadi pelajaran, tapi kita tidak pernah belajar darinya. Banyak manusia yang goblok tidak berkesudahan. Dogma-dogma digunakan sebagai pembenaran dengan nafsunya tanpa pernah menggunakan akal dalam menafsirkannya.

    Segregasi di Indonesia sekarang sudah semakin menemukan bentuk kecilnya, yaitu agama. Manusia "dipaksa" berkelompok menurut agamanya.

    Maraknya perumahan mengatas-namakan agama dan hanya agama tertentu yang boleh tinggal disana semakin memperluas perbedaan. Masih ditambah para mualaf yang mabok karena baru merasakan nikmatnya arak agama, sehingga bahkan keramas di salon pun ditanya agamanya apa..

    Bahkan seorang kepala daerah terkenal memakai parameter agama dalam menyalurkan hak untuk warganya. Yang agama mayoritas di fasilitasi, sedangkan agama minoritas hanya dilindungi. Gila, kan?

    Saya mendengar seorang teman bercerita, bahwa gurunya ketika habis bersalaman dengan mereka yang tidak sealiran, harus mandi besar untuk menghilangkan kenajisan. Luar binasa. Manusia suci dilahirkan dari guru-guru yang suci juga. Kalah Nabi derajatnya...

    Saya merasakan situasi ini begitu massif dan sulit dicegah. Meski sebenarnya kesalahan terbesar ada di kita juga. KTP kita bicara "apa agamamu", sehingga kita terkotak berdasarkan apa yang kita yakini secara pribadi.

    Rwanda saja sudah merasakan itu adalah kesalahan terbesar mereka sehingga 1 juta manusia terbantai dalam sebulan, mereka sehingga menghapus kolom "suku" di KTP mereka.

    Apakah pemerintah bisa menghapus kolom agama di KTP kita? Sulit sekali karena pasti akan mendapat banyak tentangan dari semua pihak. Mungkin kita harus mengalami terbantai sejuta manusia dulu seperti Rwanda baru mulai belajar merangkak..

    Terus bagaimana cara melawannya?

    Dalam diskusi di beberapa gereja -entah kenapa saya malah sering diundang oleh saudara-saudaraku yang bukan seiman tapi sama dalam kemanusiaan- saya menyarankan banyak hal.

    Jangan sembunyi dalam kotak-kotak komunitas bahkan untuk kegiatan sosial. Sudah tidak penting nama gereja diumumkan karena yang lebih penting bantuannya atau branding gerejanya ? Ketika pihak gereja terjebak dalam komunitas utk kegiatan sosial seperti itu, maka tudingan Kristenisasi akan muncul sebagai alat politik untuk memperkeruh suasana.

    Yang terbaik adalah undang semua agama dalam hal tolong menolong sesama manusia, dimulai dari tetangga sekitar. Dan viralkan foto-foto dimana antar umat beragama saling bekerjasama dengan rasa cinta. Propaganda kejahatan lawan dengan propaganda kebaikan.

    Tetapi memang memulai itu sulit sekali terutama ketika kita sendiri yang menjadi korban intimidasi sudah merasa kalah duluan sehingga malah sembunyi di sudut ruangan.

    Saya tidak akan lelah untuk berbicara dimana saja sebagai bentuk perlawanan. Karena saya sudah banyak menonton betapa pedihnya hati ketika satu wilayah hancur hanya karena masalah sepele "siapa lebih mulia dari siapa".

    Seperti kata Gus Yaqut Ketum GP Ansor dalam sebuah perbincangan. "Saya harus bergerak terus meski lelah karena tidak ingin meninggalkan jejak kehancuran negeri ini kepada anak saya. Ini tanggung jawab saya sebagai orangtua.."

    Terkadang memang kita sebagai orangtua harus banyak belajar kepada anak-anak kita bagaimana bermain benteng-bentengan tanpa harus memisahkan diri berdasarkan agama, "Oke, kami yang muslim melawan kalian yang kristen ya.."

    Ah, kopi. Hanya engkau yang tidak mempermasalahkan dimanakah dirimu berada, karena engkau hanya menyuguhkan kenikmatan di setiap lidah manusia..


    Seruput dulu ah..


    Sumber  :  DennySiregar .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Pada Saat Salonpun Ikut-Ikutan Harus Segregasi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top