728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 18 September 2017

    #Warta : Merindukan Ahok: 131 Hari Sudah, Masih Tersisa 599 Hari Lagi


    Adalah hal yang teramat langka terdengar ketika seseorang yang tidak berhasil memenangi sebuah lomba, pertandingan atau pertarungan dikirimi bunga oleh khalayak ramai. Alih-alih mendapat bunga, justru yang kalah kerap dicemooh, ditinggal sendiri, dan malah disalahkan oleh para pendukung.

    Selama ini, yang jamak terdengar adalah bunga untuk sang pemenang sebagai bentuk ucapan selamat atas pencapaian yang diraih. Ada yang dengan hati tulus mengirimi bunga tersebut, ada pula yang bermaksud lain.

    Apa yang terjadi di DKI Jakarta, setelah perhelatan Pilkada usai 19 April 2017 lalu, merupakan antitesis dari fakta di atas. Masyarakat Jakarta berbondong-bondong datang ke Balai kota. Bukan untuk mencemooh, bukan untuk mencaci-maki, bukan pula untuk menagih janji yang belum terpenuhi. Mereka datang untuk berterima kasih kepada Ahok.

    Mereka datang untuk mengantar bunga buat Ahok sebagai ungkapan rasa syukur, bahwa mereka pernah memiliki seorang pemimpin yang benar-benar “all out” memperjuangkan hak-hak mereka, membangun Jakarta baru, menjadikan Jakarta lebih manusiawi, Jakarta yang modern.

    Tidak sedikit pula yang menangis terisak-isak karena tak kuasa melepas Ahok meninggalkan kursi DKI 1. Meskipun Ahok tidak berhasil memenuhi harapan mereka untuk kembali duduk sebagai pemimpin tertinggi di DKI, namun para pendukungnya tetap menaruh rasa hormat. Ia telah berhasil memenangkan hati jutaan orang. Tidak hanya di Jakarta tapi di seluruh penjuru nusantara.

    Kini Ahok sedang menjalani babak baru dalam kehidupannya. Sejak hari Selasa, 09 Mei 2017 lalu, Ahok menempati “rumah” barunya, di Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob, Depok. Ia dinyatakan terbukti bersalah melakukan penodaan agama karena pernyataannya soal Surat Al-Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, 27 September 2016 lalu.

    Sejak ia resmi menjadi terpidana, kita tidak lagi mendengar ocehan-ocehannya atas ketidaksenangannya terhadap oknum-oknum yang memaling uang rakyat, terhadap oknum-oknum yang tidak melayani rakyat dengan tulus, terhadap mereka yang bermain-main dengan sumpahnya, terhadap mereka yang berkhianat, yang ingin merusak negeri ini.

    Sebelum Ahok sah menjadi penghuni tetap Rutan Mako Brimob, kita kerap mendengar suaranya yang lantang membentak mereka yang mencoba melakukan aksi tipu-tipu, membentak mereka yang dengan sengaja menabrak aturan yang ada hanya untuk memenuhi “nafsu bejat” mereka untuk memperkaya diri atau kelompoknya.

    Kita masih ingat tulisan Ahok “Gila! Pemahaman nenek lu” ketika menerima pengajuan anggaran dari Bappeda DKI. Hal itu berawal ketika para anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta memasukkan anggaran untuk sosialisasi Surat-surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta yang nilainya mencapai Rp. 8,8 triliun. Selain itu, masih ada lagi anggaran siluman lainnya, yang jika ditotal secara keseluruhannya, berjumlah Rp. 12,1 triliun.

    Melihat jumlah anggaran yang tidak masuk akal tersebut, sontak amarah Ahok memuncak. Anggaran siluman yang jumlahnya cukup besar tersebut akhirnya dicoret olehnya. Ia tidak setuju anggaran jadi-jadian tersebut ditampung di APBD DKI Jakarta. Karena hal tersebut hanya akan menjadi lahan bajakan bagi para anggota DPRD dan oknum-oknum PNS DKI Jakarta.

    Sekalipun pemotongan anggaran yang jumlahnya 12,1 triliun itu membuat anggota DPRD berang, namun hal itu tidak membuatnya bergeming. Ia tetap pada pendiriannya, menghentikan penghambur-hamburan uang negara yang sepertinya sudah menjadi sebuah tradisi selama ini. Ahok berani bertarung dengan para anggota DPRD tersebut untuk membuat anggaran DKI yang sehat dan lebih tepat sasaran.

    Hanya Ahok yang memiliki nyali sebesar itu. Belum pernah sejarahnya ada kepala daerah di negeri ini yang dengan begitu lantangnya beradu argumen, dan bahkan menantang adu data dengan para anggota legislatif. Yang ada adalah sebaliknya: berkomplot untuk berlaku curang.

    Ahok juga pernah marah-marah kepada Dinas Pendidikan DKI Jakarta atas anggaran yang mereka ajukan untuk pengadaan inventaris sekolah berupa pengadaan CCTV Rp. 3 miliar, dan file cabinet sebesar Rp. 4 miliar. Ahok tidak melihat adanya sebuah urgensi untuk pengadaan berbagai fasilitas pendukung sekolah tersebut. Ahok lebih setuju jika anggaran itu diperuntukkan untuk perbaikan beberapa gedung sekolah di Jakarta yang kondisinya sudah tidak layak lagi.

    Ketika rapat-rapat digelar, Ahok juga kerap menunjukkan kekesalannya terhadap para bawahannya yang kurang becus bekerja. Ahok menganggap bahwa mereka lamban dan kurang mencintai profesinya sebagai pelayan rakyat. Ia kerap naik pitam karena para anak buahnya itu tidak dapat menerjemahkan dengan baik visinya sebagai pimpinan.

    Ahok juga berulang-ulang mengingatkan para PNS DKI Jakarta untuk tidak melakukan pungutan liar (pungli). Kebiasaan buruk yang sudah menjadi kebiasaan lama bagi para aparatur tersebut memang sangat sulit diberantas. Nikmatnya hasil pungli yang mereka peroleh setiap harinya sepertinya menjadi alasan utama mengapa para bawahannya tersebut begitu susah meninggalkan kebiasaan buruk tersebut.

    Menanggapi berbagai permasalahan yang sudah berakar tersebut, Ahok membuat sebuah terobosoan baru. Sistem penganggaran konvensional yang selama ini dipakai, yang terkesan sangat tertutup dan bisa dimain-mainkan, digantinya dengan sistem penganggaran yang lebih transparan, lebih teliti, lebih ketat yang tidak bisa lagi diutak-atik: sistem pengganggaran elektronik (e-budgeting).

    Dengan sistem tersebut, Ahok mengunci APBD DKI Jakarta dengan kata sandi (password). Di mana kata sandi anggaran tersebut hanya dapat dibuka dan diganti olehnya sebagai gubernur, sekda, dan Kepala Bappeda.

    Anggaran yang dikunci tersebut juga terkoneksi dengan KPK. Sehingga KPK dapat memantau setiap pergerakan anggaran di Jakarta. Dengan penerapan sistem keamanan yang cukup tingg tersebut, tidak akan ada lagi yang bisa seenaknya bermain-main dengan anggaran di DKI Jakarta. Dan, dengan sistem yang sangat luar biasa tersebut, triliunan Rupiah uang negara dapat diselamatkan.

    Untuk meningkatkan kinerja PNS DKI Jakarta, Ahok juga membuat sebuah terobosan yang cukup brilian. Ahok menerapkan pemberian Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) secara dinamis, di mana TKD dibayarkan berdasarkan kinerja. Dengan sistem penggajian baru yang digagasnya tersebut, PNS DKI berlomba-lomba untuk bekerja dengan baik untuk mencapai nilai maksimal tunjangan.

    Penerimaan (take home pay) para pegawai negeri di Jakarta meningkat tajam. Konon, gaji yang cukup fantastis yang diberikan Ahok tersebut, membuat para PNS di daerah lain iri. Betapa tidak, gaji terendah saja di Jakarta, jumlahnya hampir mencapai Rp. 10 juta. Seorang camat digaji dengan Rp. 44 juta lebih, kepala dinas sekitar Rp. 76 juta, dan sekda, gajinya mencapai Rp. 96 juta tiap bulannya.

    Atas berbagai prestasi yang ditorehkan oleh Ahok selama kurang dari tiga tahun ia menjabat sebagai gubernur, Ahok telah dianugerahi puluhan penghargaan oleh berbagai lembaga ternama di negeri ini. Beberapa di antaranya adalah WWF Award, PT Telkom Smart City Nusantara, penghargaan dari Bappenas tahun 2016 yang memborong empat kategori terbaik pertama sekaligus.

    Ahok juga diganjar dengan Gus Dur Award 2016, sebagai pejuang anti-korupsi, penghargaan dari KPK atas keberhasilannya mengendalikan gratifikasi di lingkungan Pemprov DKI, National Procurement Awards atau Kepemimpinan dalam Transformasi Pengadaan Secara Elektronik, penghargaan sebagai Kategori Warga Kehormatan Basarnas, Alzheimers Disease International, kategori Champion Alzheimer’s Disease, Bung Hatta Anti-Korupsi Award, Democracy Awards, dan beberapa penghargaan lainnya.

    Semua pencapaian hebat itu dikerjakan oleh Ahok sebelum ia dijebloskan ke penjara. Ahok telah mewariskan sebuah sistem penganggaran serta sistem kerja para PNS yang cukup baik di DKI Jakarta.

    Dengan sistem yang dibangunnya tersebut, Gubernur/Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru nanti akan sangat terbantu untuk segera melaksanakan program-program yang mereka janjikan semasa kampanye dulu. Tetapi jika niatnya tidak baik, sistem itu hanya akan menjadi sebuah sejarah.

    Ketegasan dan kejujuran Ahok memang bukan saat ia menjabat sebagai Gubernur DKI saja. Ketika ia masih menjadi anggota DPR, rekan-rekannya para wakil rakyat itu tidak senang atas kejujuran dan ketegasannya itu. Ahok selalu menolak ketika membahas masalah bagi-bagi uang.

    Bahkan berdasarkan informasi yang beredar, dari sekian banyak anggota Komisi II DPR-RI, hanya Ahok yang tidak terlibat dalam korupsi proyek pengadaan e-KTP. Namun, tentang kebenaran informasi tersebut, biarlah KPK yang membuktikannya.

    Bukan hanya di saat bagi-bagi uang saja, ketika mengadakan perjalanan dinas yang seharusnya 2 hari misalnya, tapi disuruh ditandatangani lebih dari 2 hari, Ahok pasti menolaknya. Belum lagi ketika melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. Para anggota dewan lainnya acap kali geram dibuatnya. Karena Ahok bukanlah tipe anggota dewan yang suka memanfaatkan jabatannya untuk pelesir ke mana-mana memanfaatkan fasilitas negara, ketika melakukan “study” banding ke sebuah negara.

    Bahkan ketika Ahok masih duduk menjadi anggota DPRD Belitung Timur dan menjadi Bupati Belitung Timur, keberingasan Ahok masih tetap sama sebagaimana kerap ia tunjukkan selama ini, sebelum ia dihantarkan ke Mako Brimob. Ia beringas terhadap mereka yang ingkar, ia beringas terhadap mereka yang serakah, ia beringas terhadap mereka yang bejat.

    Kini Ahok masih menjalani hukumannya di Mako Brimob. 131 hari sudah ia mendekam di sana. Rasa rinduku yang membara buatnya harus kutahan hingga 599 hari lagi. Ia masih harus berjuang menahan pedih dan beban yang amat berat yang ia alami. Ia harus tidur dengan alas seadanya, ia harus menanggungnya sendiri. Tapi Ahok pastilah kuat menjalani semua itu. Kecintaannya terhadap NKRI, mengalahkan segala ketidakberdayaannya.

    Seandainya saja Ahok tidak terlalu jujur, seandainya saja Ahok tidak terlalu tegas, seandainya saja Ahok tidak terlalu tulus hatinya, seandainya saja Ahok tidak terlalu beringas menyelematkan uang negara yang ingin dicolong oleh para “tikus-tikus” itu, seandainya saja Ahok mau bersepakat untuk berkongkalikong dengan para penjahat itu, Ahok tidak akan dipenjara. Ahok tidak akan menjadi narapidana. Ahok pasti akan hidup bergelimang harta.

    Namun, Ahok lebih memilih menuruti kesucian hatinya. Ahok lebih memilih takut kepada Tuhan yang disembahnya. Ahok lebih memilih menyelematkan Indonesia ketimbang turut serta bergabung dengan mereka para pemalak itu, untuk memorak-porandakan negeri ini dengan ketamakan dan kedurjanaan mereka.

    Secara pribadi, sekalipun Ahok menjadi narapidana, saya tetap bangga kepadanya. Malah, saya semakin bangga. Keputusannya untuk tidak banding menjadi puncak kebanggaan saya buatnya. Ketika ia ada kesempatan untuk mencari keadilan, ia malah tidak memakai kesempatan emas itu. Ia lebih memikirkan nasib bangsa. Ia lebih memikirkan keutuhan bangsa. Ahok sudah selesai dengan dirinya.

    Bukan hanya Ahok, ada banyak tokoh di dunia yang mengalami hal yang sama seperti yang ia alami. Benazir Bhutto di Pakistan, juga pernah dipenjara. Ia tidak salah, tapi ia dihukum. Xanana Gusmao di Timor Leste, ia juga pernah ditahan tanpa tau ia salah apa. Ia hanya berjuang untuk kemerdekaan kaumnya.

    Begitu pula dengan Nelson Mandela yang hebat itu, ia dihukum penjara seumur hidup hanya oleh karena perjuangannya menuntut keseteraan antara kaumnya yang kebetulan berkulit hitam dengan mereka yang berkulit putih. Hingga akhirnya ia bebas setelah 27 tahun mendekam di penjara.

    Soekarno, presiden pertama kita itu, sebelas dua belas dengan tokoh-tokoh tersebut. Bolak-balik ia dikirim ke penjara. Ia dipindah ke sana, dipindah ke mari karena perjuangannya untuk kemerdekaan kita.

    Tapi Gusti ora sare, Tuhan mendudukkan mereka menjadi pemimpin di negeri mereka. Tuhan ingin mereka lebih leluasa memperjuangkan hak-hak rakyatnya yang terabaikan. Semoga suatu saat nanti Ahok akan seperti para tokoh hebat tersebut. Semoga ia akan menjadi pemimpin tertinggi di negeri ini kelak. Karena Gusti ora sare.


    Penulis  : Hermanto Purba   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Merindukan Ahok: 131 Hari Sudah, Masih Tersisa 599 Hari Lagi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top