728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 24 September 2017

    #Warta : Menggelorakan Anti-PKI dengan Cara PKI

    SEORANG netizen beberapa hari lalu mengungkapkan rasa kesalnya sebab isu “kebangkitan” PKI dimunculkan lagi oleh para orang tua yang (maaf) pikiran warasnya sedang terganggu.

    Dia menulis di Twitter intinya seperti ini (sudah saya edit): “Orang-orang tua lagi-lagi berkelahi soal PKI. Kalian bisa cepat mati nggak sih? Bikin repot saja. Kami yang muda mau kerja, pesta dan berkarya.”

    Saya bisa pahami jika anak-anak muda marah, kesal dan kecewa, sebab para orang tua belakangan ini semakin tidak tahu diri — maklum juga sih sebab mereka sudah atau menjelang pikun — melemparkan isu recehan bin murahan seolah-olah negara sedang gawat karena PKI sedang bangkit lantaran (katanya–banyak ngibulnya sih) pemerintahan sekarang pro-komunis.

    Entah pakai rumus apa, jika mereka, terutama pasukan ormas yang mengklaim penjaga sorga menyebut komunis, pikiran dan mulutnya berucap “PKI”. Duh, gampang sekali mereka menyebut PKI seperti semudah meludah di sembarang tempat.

    Jangan-jangan saya yang menulis catatan seperti ini juga dianggap membela PKI karena saya dituding antek komunis (orang blo’on bilang PKI).

    Lagi pula apa toh salah dan dosa komunis? Komunis memang salah satu dari sekian banyak ideologi. Ia sekaligus dimanfaatkan sebagai cara untuk berjuang mencapai tujuan.

    Komunis tidak identik dengan atheis (tidak percaya Tuhan). Di Rusia yang berideologi komunis, warga negaranya beragama (saya pertegas: percaya Tuhan). Begitu pula di China.


    Pemerintah negeri tirai bambu itu memberikan kebebasan kepada warga negaranya untuk menyembah Tuhan lewat agama. Nggak seperti di sini (maaf) yang mayoritas alergi dan takut setengah mati dengan  minoritas. Info yang saya dengar, Islam dan Kristen malah berkembang pesat di China.

    Oleh sebab itu sah-sah saja kalau PKS yang bukan partai sapi lho, sebagaimana ditulis Burhanuddin Muhtadi dalam disertasinya, disebut sebagai partai komunis dengan cita rasa ideologi Islam.

    Salahkah PKS? Tidak! Apa yang salah dengan PKS? Komunis adalah cara atau alat untuk mencapai tujuan. Dengan cara itulah partai ini sukses mencetak dan merekrut kader mulai dari anak taman kanak-kanak, mahasiswa sampai emak-emak.

    Sangat mungkin, dengan cara itulah, partai ini bersama partai kesayangannya, Gerindra, memenangi Pilkada DKI tempo hari. Kita tidak boleh sewot. Salah sendiri mengapa kubu yang kalah di Pilkada Jakarta tempo hari tidak meniru cara jitu PKS dan Gerindra? Andai saja partai pendukung Ahok menggunakan strategi perjuangan PKS, mungkin saja Ahok menang dan tidak dijebloskan ke penjara.

    Sekali lagi, saya tidak habis pikir jika ada sementara pihak yang mempersoalkan PKS adalah partai komunis dengan cita rasa Islam (mohon dipahami ini kutipan dari Muhtadi–bukan kata-kata saya), lalu disimpulkan PKS adalah PKI.

    Kalau ada pihak yang menyimpulkan PKS adalah PKI, itu sama bodohnya dengan mereka yang berteriak “PKI = Liberal” atau “Jokowi Pendukung PKI”.

    Lha, bagaimana saya tidak mengatakan “bodoh”, sebab ketika PKI yang diteriak-teriakkan belakangan ini (katanya) telah bangkit, menguasai pemerintahan, dan sebagainya, nggak pernah kelihatan batang hidungnya. Bayangannya pun tidak kelihatan.

    Si pensiunan jenderal Kivlan Zein memang pernah menyebut nama yang disebut-sebut sebagai “tokoh” yang menghidupkan kembali PKI. Yang mengherankan BIN (Badan Intelijen Negara) kok diam saja ya? Kerja BIN ngapain saja? Pun dengan Polri? Padahal Presiden Jokowi sudah berpesan “gebuk, gebuk dan gebuk” jika ada PKI.

    Jika memang nama yang disebut Kivlan bukan fiktif, markas si “tokoh” PKI itu ada di mana ya? Jangan-jangan tokoh itu diam-diam sudah mendirikan organisasi semacam polit biro atau ormas PKI kecil-kecilan dan markasnya di kolong jembatan Casablanka. Semoga dalam waktu dekat Satpol PP bisa membongkar karena BIN nggak bisa diandalkan.

    Disebut-sebut, PKI dan “antek-anteknya” (atau hantunya ya?) sudah punya anggota 15.000.000 orang! Gile lo Ndro! Itu berarti kalau mereka ada di Jakarta dan tempo hari ikut terlibat dalam Pilkada Jakarta, maka calon gubernur yang mereka dukung bakal menang 100 persen! Malah masih ada sisa suara karena penduduk Jakarta tidak sampai 15 juta, eh siapa tahu bisa dipakai untuk Pilkada di Jawa Barat tahun depan.

    Hantu PKI memang “oh seram” sampai-sampai panglima tentara di negeri ini mengeluarkan perintah nonton bareng (nobar) film Pengkhianatan G-30-S/PKI. Meskipun sang sutradara film tersebut, Arifin C Noer, sudah menyesal karena membuat film dokumenter tersebut tapi tidak sesuai fakta, sang panglima tidak peduli. Pokoknya nobar jalan terus.

    Kecuali generasi milenial, semua anak muda pra-1998 yang sekarang telah menginjak dewasa pernah nonton film tersebut. Saya sendiri menonton lebih dari tiga kali.

    Kesimpulan setelah nonton film tersebut (saya coba berpikir positif): Aksi kekerasan dalam bentuk apa pun dan fitnah dilakukan oleh siapa pun tidak boleh lagi terjadi di negeri yang cinta damai ini. Ideologi komunis dan orgnisasi yang pernah mengusungnya (PKI) haram hukumnya hidup di Indonesia, karena kita telah memiliki ideologi yang terbukti ampuh memersatukan bangsa, Pancasila.

    Oleh sebab itu kalau masih ada sementara pihak di sini yang menggunakan cara PKI, bahkan memfitnah dan begitu mudahnya menuduh orang atau pihak lain sebagai PKI atau antek-anteknya, maka mereka tak ubahnya sama dengan cara PKI dalam film yang mereka tonton.

    Jika ada sementara pihak yang coba-coba mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain, apa bedanya niat busuk Anda dengan cara PKI? Harap simak, saya mengatakan “cara PKI”, bukan “PKI”.

    Maaf, saya tidak tahu apa motivasi panglima tentara menggelar dan menggelorakan nobar film Pengkhianatan G-30-S/PKI? Ingin mencari popularitas menjelang pensiun, eh siapa tahu bisa nyapres 2019?

    Bukankah kita sudah tutup buku dengan masa lalu? Apa jadinya anak-anak yang masih bau kencur, sebagaimana diberitakan Tempo, jika sebelum dan setelah nonton film tersebut, mereka berteriak-teriak: “Bunuh, bunuh, bunuh!”

    Gara-gara PKI dizombikan, ormas-ormas yang sok suci malah termotivasi untuk mencetak bendera berlogo PKI. Katanya sih untuk keperluan demo. Mendemo siapa? Mendemo pihak yang pantas difitnah sebagai PKI dan pendukungnya?

    Itukah yang kau kehendaki panglima? Cara PKI?

    Ingat panglima, anak-anak muda sekarang ogah berkonfrontasi. Mereka ingin hidup damai, bekerja, berpesta dan berkarya. Ngeri ah mendengar mereka “berdoa” kapan kita mati?



    Penulis :  Gantyo Koespradono    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Menggelorakan Anti-PKI dengan Cara PKI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top