728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 27 September 2017

    #Warta : Meikarta, Jangan Sampai Berakhir Seperti First Travel!

    Meikarta, proyek yang diklaim terbesar sepanjang sejarah berdirinya Lippo Group, memberikan janji dan memiliki niat untuk merealisasikan mimpi-mimpi para kaum menengah ke bawah. Lippo Group didirikan oleh keluarga Riady, yang menopang banyak segi kehidupan manusia. Sebelum saya memberikan penjelasan mengenai proyek ‘tanda-tanya’ Meikarta, saya akan memberikan kontribusi-kontribusi yang positif diberikan oleh Lippo Group kepada masyarakat luas dan harus diapresiasi.

    Disclaimer, mengurangi rasa kejang

    Di artikel ini, saya pun akan mencoba menilai seobjektif mungkin dengan opini, dan akan berhati-hati untuk menilai hal ini, karena Meikarta adalah sebuah proyek besar yang para konsumen sudah membeli dan melakukan DP.

    Kesehatan

    RS Siloam menjadi sebuah institusi yang menopang sisi medis, untuk sisi medis, jujur saya harus angkat topi dengan manajemen yang begitu luar biasa. Siloam merupakan salah satu dari sedikit rumah sakit yang menerima pasien BPJS, tidak seperti Mitra Keluarga pada kasus bayi Debora, yang tidak bermitra dengan BPJS. Syukurlah masih ada bagian-bagian dari keluarga mereka yang memikirkan pelayanan di bidang medis dan kesejahteraan manusia seperti pendidikan.

    Mereka pun memiliki San Diego Hills, pemakaman bagi orang-orang yang tingkat ekonominya ke atas. Orang yang meninggal dibuatkan cluster, untuk diingat-ingat, di lahan yang disediakan. Mereka sangat profesional dalam hal ini.

    Pendidikan 

    Pendidikan yang dijalankan pun tidak sembarangan. Jangan hanya bicara tentang SPH dengan biaya yang sangat mahal, mereka juga memiliki sekolah-sekolah yang lebih memikirkan kaum marginal. Selevel di bawah SPH adalah sekolah Dian Harapan dengan biaya yang masih bisa terjangkau, Sekolah Lentera Harapan yang tersebar di berbagai remote area/daerah terpencil di pelosok Indonesia.

    Mereka pun bukan hanya membuka sekolah, mereka juga membuka sarana pelatihan guru, yakni UPH Teachers College. Terlepas dari kualitas, setidaknya banyak orang yang terbantu dengan sistem pelayanan pendidikan semacam ini.

    Bagaimana dengan bisnis properti?

    Di pemberitaan media, sebelum masifnya iklan Meikarta, portal berita KMPS pun sempat membuka tabir-tabir pemberitaan mengenai bisnis properti yang dijalankan oleh Lippo. Meskipun setelah dicokok iklan Meikarta, terlihat para penulis berita, agaknya enggan untuk mengkritisi permainan proyek mereka.
    Simak artikel saya mengenai banyaknya proyek Lippo yang masih belum rampung 100%.

    Meikarta, Proyek Lippo 278T Milik James Riady dan Segudang Properti Belum Tuntas

    Meskipun Bos Lippo Group James Riady mengatakan bahwa “Secara prinsip core-nya sudah selesai. Itu kan bertahap,” ya tetap saja Lippo tidak selesai, mau dikata apa? Bahkan izin dan sebagainya pun, tidak diberitakan secara terstruktur, sistematis dan masif. Ah saya mulai bosan dengan tiga kata ini!
    Melalui iklan yang digencarkan di beberapa media berita secara terstruktur, sistematis, dan masif, tentu membuat para pegiat media bungkam. Mereka harus membiarkan iklan itu terpampang besar di koran-koran, majalah-majalah, e-news yang ada. Mengapa? Sederhana, iklan adalah sebuah sumber penghidupan bagi para pekerja dan pegiat media. Tanpa iklan, gaji karyawan sulit cair on time.
    Hati-hati dengan kalimat besar dari para motivator yang menjanjikan ‘sorga’. Karena kelak pada akhirnya, kita lah yang akan rugi, bukan mereka. Kebanyakan dari kita adalah orang kebanyakan, yang bekerja keras dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan yang pantas, sederhana, dan bermakna. Jangan sampai makna hidupmu direbut hanya karena tergoda dengan janji manis yang belum tentu benar. – hysebastian, 29 Juni 2017
    Tidak sampai dua bulan, kalimat saya ternyata terbukti, dengan bantahan Sesmen BUMN yang mengatakan bahwa iklan Meikarta mengenai LRT dan kereta cepat, ternyata hanya merupakan catutan. Pembaca Seword bisa mengaksesnya di artikel yang saya sudah buat kemarin.

    Jual Akses LRT dan Speed Train, Sesmen BUMN: “Jauh dari Meikarta”, Kecewa!

    Akhir kata, kita harus sadar betul bahwa ternyata iklan yang disebar secara terstruktur, sistematis dan masif merupakan sebuah isapan jempol belaka. Saya rasa, pemerintah provinsi Jabar harus membereskan dan merampungkan izin yang ada. Karena jika gagal perizinan, korbannya adalah para warga yang sudah melakukan DP, bahkan pelunasan!

    Mungkin tidak sedikit orang-orang, khususnya para pembaca Seword yang menganggap saya sangat anti kepada Lippo. Mungkin ada yang mengatakan juga bahwa saya pernah tersakiti oleh Lippo. Salah besar! Mungkin saya harus mengatakan bahwa justru saya merasa di RS Siloam, pelayanannya sangat baik dan kagum terhadap hal tersebut. Pendidikan pun sangat baik, mulai dari sekolah dan universitas, meskipun mahal, mereka profesional dan tepat guna.

    Saya harus katakan dengan jujur, saya hanya tidak suka dengan cara bisnisnya, apalagi dengan iklan-iklan yang begitu gencar, ternyata mulai dibantah oleh Sesmen BUMN, mengenai akses transportasi LRT dan kereta cepat yang tidak ada hubungannya dengan proyek tersebut. Mengapa saya tidak suka? Karena jujur, saya pun sempat tertarik dengan iklan tersebut dan sempat terpikir untuk membeli. Untungnya saya bukan orang yang gelap mata dan lapar mata. Hahaha. Harus diakui. filsafat iklan benar-benar dikuasai oleh mereka.

    Despite of ketidaksukaan saya terhadap “cara bisnis” Lippo (bukan yang lain), pada akhirnya kita harus bersama-sama berkepala dingin. Ekonomi harus bergerak dan mengalir ke arah masyarakat. Lippo harus selesaikan proyek besar yang penuh dengan tanda tanya ini. Berikan kepastian terhadap perizinan, transportasi LRT dan kereta cepat yang jelas! Karena pada akhirnya yang sangat berharap adalah konsumen! Konsumen harus membeli kucing di luar karung, bukan kucing dalam karung! Ingat kasus First Travel?
    Aku ingin begini
    Aku ingin begitu
    Ingin ini ingin itu banyak sekali.
    Semua, semua, semua
    Dapat dilakukan
    Dapat dilakukan dengan kantong ajaib
    Aku ingin terbang bebas ke angkasa…
    HEI, Baling-baling bambu!
    A-A-A
    Aku sayang sekali, Doraemon!
    Inginkah aku pindah ke Meikarta?
    Betul kan yang saya katakan?




    Penulis   :   Hysebastian   Sumber  :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Meikarta, Jangan Sampai Berakhir Seperti First Travel! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top