728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 21 September 2017

    #Warta : Kivlan “Jenderal Orba” yang Cengeng

    Ketegasan, kelugasan serta daya tahan menahan gejolak emosi adalah salah satu bagian utama yang seharusnya dimiliki oleh seorang tentara, terlebih seorang Jenderal.

    Kivlan ini salah satu “:Jenderal “ yang  hidup dan berproses di masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Dan banyak prestasi yang sudah diperolehnya di karier militer pada masa Order baru tersebut. Belakangan ini sepak terjangnya begitu “kasar” membuat ulah seiring dengan gerakan-gerakan mesin politik dan organisasi Orde Baru yang kian terkoyak segala bau busuknya.

    Dahulu semasa kepemimpinan Soeharto, sang jenderal Orde Baru yang giat memainkan peta konflik dengan mengadu golongan dominan dari perpolitikan di Indonesia. Golongan Islam,  Militer dan Nasionalis dengan menyisipkan senjata pamungkasnya yakni dengan senjata “tuduhan” komunisme  atau  PKI. Dimana “senjata tuduhan” tersebut  dilegalkan melalui Tap MPRS No. 25 tahun 1966.



    KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEMENTARA REPUBLIK INDONESIA

    NOMOR XXV/MPRS/1966 TAHUN 1966



    TENTANG



    PEMBUBARAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA, PERNYATAAN SEBAGAI ORGANISASI TERLARANG

    DISELURUH WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAGI PARTAI KOMUNIS INDONESIA DAN

    LARANGAN SETIAP KEGIATAN UNTUK MENYEBARKAN ATAU MENGEMBANGKAN FAHAM ATAU

    AJARAN KOMUNIS/MARXISME-LENINISME

    Teringat bagaimana sepak terjang Kivlan ini saat ditangkap atas dugaan melakukan makar bersama enam orang lainnya   pada kasus tuduhan kudeta secara terselubung atau tuduhan mendompleng dalam aksi unjuk rasa ratusan ribu umat muslim pada 2 Desember 2016 atau 212. Bagaimana tersirat usaha untuk ikut turut memainkan golongan muslim  sebagai ajang permainan politik Orde baru. Peran aktif sebagian masyarakat dan pemerintah lah yang kini masih terus berlangsung untuk meredam aksi “Orde  Baru” ini memecah dan memfitnah umat Muslim di Indonesia yang mana  mereka aktif menyebarkan jargon “Islamophobia”.

    Gelombang pecah belah dengan memainkan golongan Islam, Militer dan Nasionalis dengan meyisipkan “tuduhan komunis/pki” untuk permainan politiknya semakin hari menuju pilpres 2019 semakin kental terasa.

    Sang “Jenderal Orba Cengeng” pun yang kerap memainkan bidak catur dalam politik pun semakin terungkap, sebagai penggiat yang memainkan isu bangkitnya komunisme yang sesungguhnya sudah dengan jelas ada aturan hukumnya, namun masih saja dengan atas nama kewaspadaan melakukan propaganda anti komunisme sebagai senjata “pembungkam” yang kini dilayangkan dan sebagai uji cobanya yakni pada kasus penyerbuan YLBH Jakarta. Dimana pada peristiwa tersebut Kivlan yang hadir di acara ILC kerap mengatakan bahwa “anak-anak” saya yang dalam hal ini dipersepsikan sebagai anak buahnya dengan mengatakan, “anak-anak” saya ada di dalam, walaupun saya pensiun saya punya mata-mata. Pernyataan yang hendak mengesankan bahwa dia masih memiliki anak buah dan masih memiliki kekuatan, dimana logikanya. Pensiunan tapi masih bisa melakukan kerja-kerja komando. Dengan hadirnya dirinya yang kembali pembawa acara dengan penyebutan “Jenderal”  Kivlan oleh si pembawa acara TV tersebut yang secara tidak langsung berdampak membawa-bawa solidaritas ketentaraan yang ada dan sang pensiunan ini menyenangi hal tersebut sebagai bagian peta konfliknya (Muslim, Milter dan Nasionalis)

    Tampilnya Kivlan menjadi pembicara di ILC dengan tema “PKI, Hantu atau Nyata?” jika diperhatikan sebenarnya biasa-biasa saja, dimana terkandung kekecewaan, kemarahan dan sedikit pengungkapan atas  pemaparan data menurut versinya. Lebih menonjolnya adalah kemarahan dan lepas control dalam pengelolaan emosinya. Narasi pembuka yang dilakukan olehnya yang langsung dengan tensi tinggi dengan membuka konfrontasi argument  langsung dengan Bedjo Untung yang  dituduhkan sebagai anak Letkol. Untung, yang ternyata adalah salah besar, Bedjo Untung bukanlah anak dari Letkol Untung, yang ternyata anak dari seorang guru dan tidak ada hubungannya dengan Letkol. Untung.  Dengan lantang dan penuh emosi seakan dia saja yang memiliki hak untuk marah dengan melontarkan kata-kata, “… lawannya saya, saya tahun 65 masih SMA dan nama saya termasuk di ranting di medan nama saya dimasukkan salah satu untuk yang dibunuh ketika kita  serbu  kantor PKI,makanya saya tahu , saya mengalami ketika kita diancam dan diteror,…”.

    Emosi yang tidak terkendali menjadi lebih tampil di setiap lontarannya,Ya iya lah akan diancam jika datang dan menyerbu “markas” orang. Lebih terkesan “cengeng” ketika hal ini diungkapkan, sebab yang mengalami perasaan diteror, diancam dan dibunuh bukan hanya dia saja. Rezim Orde baru sangat kental dengan praktek tersebut dan perjalanan rezim orde baru dari tahun 65 hingga 98 sangat kental dengan teror, culik dan bunuh. Kivlan lebih terkesan “cengeng” dengan melontarkan hal tersebut dengan emosi yang tidak terkendali hingga pembawa acara mendekati seraya menenangkan dengan pendekatan “body chemysty”.

    forgive but not to forget





    Penulis  :  dudi akbar     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Kivlan “Jenderal Orba” yang Cengeng Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top