728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 24 September 2017

    #Warta : Ketika Tito Bicara PKI, Minta Semua Menahan Diri, Ini Baru Namanya Jenderal!!

    Memang benar tidak ada jaminan seseorang punya gelar dan jabatan besar akan memiliki integritas dan etika kerja yang baik. Hanya karakter dan pemahaman etos kerja serta kesadaran apa yang menjadi hak dan kewajiban menjadi sebuah pembeda. Ada orang yang sekolahnya tinggi-tinggi, tetapi kelakuannya tetap saja kayak comberan.

    Itulah mengapa kita sering melihat banyak orang sudah bergelar doktor, tetapi kelakuannya seperti orang tidak pernah sekolah. Modal bacot mendayu-dayu dan membual tetapi ilmunya tidak ada. Seperti kita bangga mendapatkan harta karun tetapi isinya cumanlah kaleng rombeng.

    Karena itu, menjadi seseorang yang memiliki karakter bagus dan berintegritas bukanlah perkerjaan mudah dan butuh sebuah komitmen yang dibangun dan dibentuk sejak kecil. Sekolah tidak jadi jaminan, melainkan pilihan-pilihan dan perjalanan hidup yang dialami. Gagal memilih dan berjalan, maka tidak akan pernah menjadi seorang yang berkarakter.

    Ada sebuah pepatah yang mengatakan, berilah seseorang kepercayaan, kesempatan, atau kekuasaan, maka disitulah kita akan melihat bagaimana karakternya. Dan memang terbukti, seseorang yang mengerjakan kepercayaan, kesempatan, atau kekuasaan dengan baik dan amanah, maka dia akan selalu menjadi seperti itu. Itulah namanya karakter.

    Karakter tidak bisa ditraining tetapi hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang hidupnya memang mengabdi dan melayani. Tanpa itu, maka orang tersebut hanya akan terus mengejar kekuasaan dan tidak akan ada habisnya menjadi orang yang merusak integritas dalam setiap tanggung jawab yang diemban.

    Hal itulah yang membuat sebuah perbedaan mencolok antara dua Jenderal di era Presiden Jokowi saat ini. Kalau seorang Jenderal kerjanya buat rusuh dan kecemasan dengan isu 5 ribu senjata dan juga nobar G30SPKI, maka seorang Jenderal lain tamnpil mengerjakan tanggung jawab utamanya menjaga stabilitas keamanan dan memberikan jaminan rasa aman kepada masyarakat.

    Jika Jenderal yang satu sibuk berpolitik meski masih seorang Jenderal aktif, hal berbeda justru dilakukan Jenderal satu lagi yang tidak mau berpolitik dan tetap setia terhadap apa yang sudah jadi tugas dan tanggujawabnya. Perbedaan yang sangat mencolok antara kedua Jenderal ini.

    Kapolri Jenderal Tito Karnavian, adalah contoh Jenderal yang mengingat sumpah jabatannya dan tidak mau ditarik-tarik dalam berpolitik. Selalu tahu bahwa sebagai seorang Jenderal, dia harus buktikan kepada bawahannya, dia tidak akan pernah bermain politik dan tidak akan pernah mengambil kesempatan saat menjadi Jenderal aktif untuk mempromosikan diri.

    Hebatnya, dalam kondisi politik panas oleh karena sikap seorang Jenderal mencari perhatian jelang pensiun, Tito muncul dan dengan tegas menyebutkan kepada siapa saja untuk menahan diri dan tidak memainkan isu PKI di tengah situasi politik yang rentan. Dan lebih hebat lagi, Tito malah menyinggung bahwa isu PKI jangan sampai membuat kita terpecah.

    Tito menyebutkan bahwa membahas PKI tidaklah salah dan memang perlu dilakukan. Tetapi perlu dilihat timingnya dan juga perlu dikaji lebih mendalam, apakah ini produktif atau kontra produktif. Pernyataan Tito ini adalah sebuah pernyataan seorang Jenderal yang tahu betul tugasnya menjaga stabilitas keamanan bukan membuat rusuh.

    Kita sangat bersyukur punya Jenderal yang berjiwa patriotik dan sangat maju cara berpikirnya seperti Tito. Kehadirannya selalu menjadi pembeda dalam dua kubu yang berkonflik. Menjadi penengah dan akhirnya menjadi benteng terakhir NKRI. Bisa dikatakan, Tito ini adalah “Jokowi”nya aparat keamanan.

    Kualitas, dedikasi, dan majunya cara berpikir Tito ini berasal dari pembelajarannya di negara maju. Negara yang sudah memikirkan bagaimana bisa terus mengmbangkan diri, bukan sibuk membuat perpecahan dan mengurusi perpecahan. Sebuah lingkaran setan yang tidak pernah selesai.

    Pernyataan Tito ini menurut saya perlu kita resaapi dan pahami dengan baik. Bukan tidak boleh membahas dan memperdalam pembahasan mengenai PKI, tetapi kalau ternyata lebih banyak keburukannya daripada manfaat bagi orang lain, maka sudah sepatutnya hal itu tidak lagi diperpanjang.

    Presiden Jokowi tidak salah memilih Jenderal Tito menjadi Kapolri. Kini, Jenderal Tito menjadi tameng atau benteng terakhir Presiden Jokowi. Berharap kepada Jenderal yang satu lagi sepertinya tidak akan pernah dilakukan Presiden Jokowi. Karena ada indikasi Jenderal yang satu lagi sudah terkontaminasi dengan ambisi politiknya.

    Daripada kita naikkan nama Jenderal satu lagi, lebih baik kita terus viralkan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh Jenderal Tito. Tindakan yang yang menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. ini Baru Jenderal!:

    Salam Jenderal Tito.


    Penulis :    Palti Hutabarat     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Ketika Tito Bicara PKI, Minta Semua Menahan Diri, Ini Baru Namanya Jenderal!! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top