728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 19 September 2017

    #Warta : Ketika PKI Lebih Ditakuti Daripada DI/TII, Bocor Air Mata Jenderal!

    Entah manusia apa ini Kivlan Zein, yang pasti ia masih belum bangun dari mimpi buruknya mengenai kesadisan PKI. Sebenarnya kesadisan PKI ini tidak seberapa dibandingkan DI/TII yang lebih kejam. Mengapa? Karena tiga kali PKI angkat senjata dan memberontak. Sedangkan DI/TII lima kali memberontak angkat senjata termasuk percobaan pembunuhan pahlawan Nasional KH Idham Cholid, wakil ketua PBNU. SUMBER
    Cucu KH Zainul Arifin, Ario Helmy, dalam catatannya menggambarkan seperti berikut: 
    Keheningan khusuk berlangsung khidmat melingkupi umat memuji Sang Maha Agung dalam ruku’ mereka pada rakaat kedua Idul Adha tersebut.
    “Sami’allahu liman hamidah,” ucap imam KH Idham Chalid. Belum sempat jamaah menyahuti seruan imam dengan “rabbana wa lakal hamdu,” dari barisan ketiga jamaah bagian kiri, tiba-tiba pecah teriakan lantang seorang jamaah, “Allahu Akbar…!”, seraya tangannya mengacungkan pistol yang diambil dari betis kanannya. 
    Ia adalah seorang penembak tepat, mestinya sasaran tembaknya tidak bakal luput dari muntahan pelurunya, namun anggota pengawal presiden berhasil menepiskan tangan pembokong itu dengan sigap hingga senjata api sang penembak gelap melenceng ke sisi kiri target yang ditujunya, Soekarno!
    “Dor…!” peluru menyalak nyaring. 
    Orang-orang, termasuk imam bertiarap. Lalu suasana berubah kacau balau.
    KH Zainul Arifin dalam upayanya merebahkan diri di atas sajadah, malah jatuh tersungkur. Bahu kirinya terasa basah. Ketika dia mencoba meraba bagian tubuhnya yang terasa hangat, didapatinya buhul dasinya sampai terputus. Darah segar merembesi kemeja putih hingga ke jas luarnya. Sedikit lagi peluru bisa mengenai jantungnya.
    “Saya kena…,” desah tokoh NU tersebut pasrah, di antara kekacauan di sekelilingnya. 
    “La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim,” begitu ucap kiai bermarga Pohan asal Barus tersebut. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia terus berdzikir, bertasbih. Menyeru-nyeru tuhannya Yang Maha Kuat…
    Empat jamaah lainnya juga turut terluka, KH Idham Chalid, Pengawal Presiden Ipda Darjat, Pengawal Presiden Brigadir Susilo dan pegawai istana Momahad Noer. 
    Belakangan, diketahui pelakunya adalah orang yang berafiliasi dengan kelompok DI/TII. Target utamanya adalah Soekarno. 
    Sejak itu, KH Zainul Arifin, berkali-kali keluar masuk rumah sakit. Sepuluh bulan kemudian, tepatnya 2 Maret 1963, akhirnya meninggal dunia setelah mengalami koma selama beberapa hari sebelumnya karena berbagai komplikasi. Keesokan harinya ia dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta. (Abdullah Alawi)
    Lucunya, malah PKI yang sampai sekarang dijadikan kambing hitam, sedangkan DI/TII malah memiliki dedengkot yang menjadi permulaan partai PKS. Untuk diketahui, ayah dari Ketua Dewan Syuro PKS, Hilmi Aminudin adalah Danu Muhammad, yang adalah panglima DI/TII wilayah Indramayu.

    “Danu Muhammad itu memang bapaknya Pak Hilmi… Jangan kemudian membuat pelabelan lah, jangan sudutkan PKS. PKS sama sekali tak pernah mengusung ideologi Islam karena PKS menganut asas nasionalis dan religius. Tak ada negara Kristen, Hindu karena itu ide kampungan sekali… Siapa pun konsep negara agama tak ada, PKS juga sudah menegaskan itu. Tak ada negara Islam, Kristen, atau Hindu. Itu ide kampungan sekali,” tegas Fahri Hamzah saat dikonfirmasi wartawan di DPR, Kamis (05/05/2011).

    Ustadz Hilmi memang merupakan anak kandung dari Danu Muhammad, yang merupakan panglima Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia.

    Sudah jelas silsilah keluarga bahwa DI/TII ada hubungan dengan PKS. Pertanyaannya, mengapa PKS tidak dibubarkan? Mengapa malah muncul isu-isu tidak jelas yang menyebutkan PKI bangkit lagi, bahkan Jokowi difitnah sebagai  salah satu anteknya, menurut Alfian Tanjung yang di-PHP oleh kepolisian karena menyebut 80% kader PDI-P adalah PKI? Minat baca kaum sumbu pendek dan radikalis memang minim. Mungkin bacaan mereka hanya buku ajakan untuk bertindak radikal, bahkan kitab suci pun bisa saja mereka tidak baca.

    Kivlan Zein, memang memiliki ketakutan yang sangat tinggi terhadap PKI karena komunis, mengapa terkesan membiarkan DI/TII yang masih sedikit meninggalkan jejak? Mantan jenderal ini rasanya memiliki sedikit kelainan jiwa, takut PKI bangkit, namun tidak ingin memutar film PKI karena takut bangkitkan luka lama? Maumu apa, Nyo?
    “Sudahlah, jangan bangkitkan luka lama, nanti kacau Indonesia. Mau ada perang saudara?” ucap Kivlan, yang ditetapkan sebagai tersangka kasus makar oleh Polri, akhir tahun lalu.

    Ketua bidang advokasi YLBHI Muhammad Isnur mengatakan bahwa acara yang diselenggarakan di LBH bukan merupakan upaya untuk membangkitkan isu komunisme. Jika diskusi mengenai komunisme dianggap sebagai diskusi yang haram, kapan negara ini mau maju dan belajar dari sejarah?

    Indonesia justru butuh membuka luka lama, bukan karena ingin bersenang-senang di atas penderitaan para pahlawan yang dibunuh oleh PKI. Namun sejujur-jujurnya, kita membuka sejarah lama, untuk belajar bagaimana kita maju menjadi bangsa yang mengenal dan menghargai sejarah.
    Indonesia masih jauh dari maju, jika diskusi-diskusi sehat dibungkam. Menuding Jokowi membangkitkan Orba, merupakan kesimpulan yang terlalu bodoh. Justru membungkam diskusi-diskusi semacam ini, membangkitkan semangat orba.

    Jangan sampai ada orang-orang yang hilang, karena keinginannya untuk membuka tabir-tabir yang masih tertutup. Jangan sampai ada Munir-Munir lainnya yang dimatikan, karena niat menyatakan kebenarannya yang luar biasa. Aktivis-aktivis yang ada, harus mendapat perlindungan.

    Saya rasa, tidak berlebihan jika Kivlan Zein, Prabowo, Amien Rais, merupakan orang-orang tua yang masih belum berhasil move on dari PKI, dan menutup mata terhadap DI/TII, yang salah satu panglimanya memiliki anak yang menjadi ketua PKS. Inikah yang dinamakan keberpihakan? Benar kata Anies, ini adalah keberpihakan.
    Akhir kata, maukah Indonesia mundur ke era barbarian bernama Orde Baru V.2, dimana orang-orang yang berdiskusi mengenai isu komunisme harus dibungkam? Bagaimana negara ini bisa maju kalau diskusi mengenai komunisme ini ditutup? Saya tidak ada intensi sedikitpun membela YLBHI, karena saya pun geli melihat setiap manuver politik busuknya.

    Namun orang-orang yang menyukai diskusi, harus dibela. Karena memang tujuan diskusi adalah membuka pikiran, bukan merusak negara. Tidak seperti aksi demo-demo bela nomor togel yang menunggangi agama, untuk merongrong NKRI. Terbukti bahwa demo nomor togel merupakan sebuah bentuk destruktif terhadap pemerintahan Indonesia yang sah! Belajar sejarah nyo!
    Betul kan yang saya katakan?





    Penulis : Hysebastian    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Ketika PKI Lebih Ditakuti Daripada DI/TII, Bocor Air Mata Jenderal! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top