728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 21 September 2017

    #Warta : Kehabisan Cara, Elektabilitas Jokowi Tinggi Diserang Pakai Isu PKI

    Beberapa waktu lalu Center for Strategic and International Studies (CSIS) mempublikasikan survei yang menyatakan tingkat elektabilitas jokowi mencapai 50,9 persen, sedangkan Prabowo hanya 25,8 persen. Artinya pada Pilpres ke dua Jokowi masih sangat unggul meraih suara untuk melanjutkan kepemimpinannya. Tentu dong kubu sebelah kebakaran jenggot, mau diapain coba biar elektabilitasnya turun? Ada dua hal yang biasa dimainkan oleh mereka: agama dan PKI. Mau pake isu agama orang sudah muak. Sebagian masyarakat sudah bisa menilai, kalau Pak Jokowi ini agama Islam nya kuat. Lah tiap kunjungan ke pesantren, kok masih mau bilang beliau islam abangan?

    Cara kerja kubu sebelah ini mirip seperti mereka menumbangkan Ahok. Kalian masih ingat kan dulu semua lembaga survei mengatakan elektabilitas Ahok paling tinggi diantara dua calon Gubernur, yaitu mencapai 37,8 persen. Masyarakat rupanya percaya terhadap kinerja Ahok. Terus apa yang dilakuin kubu sebelah? Mau fitnah kalau doi korupsi? Ya nggak bisa lah, lha wong Ahok keras banget ke koruptor. Mereka lalu main kotor, dan cara yang paling cepat adalah fitnah Ahok lewat isu agama. Berhasil? Ya berhasil dong. Bayangkan sampai lebih 8 bulan isu agama jadi berita sehari-hari, sampai mual saya mengikutinya.

    Nah, cara ini dipakai lagi untuk menurunkan kepercayaan masyarakat ke Jokowi. Udah mulai rame nih serangan Jokowi dengan isu PKI. Siapa yang menggoreng? Banyak. Mulai dari pejabat, politikus sampai ustadz. Tuh ustadz FS, yang jadi simpatisan HTI, karena ga ada lagi yang au dengerin ceramahnya sekarang hobi nulis di twitter tentang PKI. Lha masa iya, bisa tau kader PKI dan pendukungnya cuma dari nonton film? Pliss deh, nggak banget. Ustadz harusnya menulis kata-kata yang bikin hati adem, bukan sebaliknya baca tulisan atau ceramahnya yang dengerin malah bawaannya pengen berantem.
    Kembali lagi ke masalah Jokowi. Presiden yang satu ini susah difitnah pakai isu agama, nggak seperti dulu saat nyalon Gubernur, pernah diisukan beragama non Islam. Kenapa? Karena program-program Jokowi untuk pesantren sangat banyak, salah satunya yang perlu diapresiasi adalah pemberian lahan negara untuk pesantren dan pembangunan asrama santri, atau yang dikenal dengan rusun pesantren. Tahun ini PUPR ditargetkan membangun 107 rusun pesantren dengan biaya 946 Milyar!!! wow!

    Yang harus kalian tahu, biasanya pesantren nggak punya uang banyak, sumber dana nya paling primer ya dari pengasuh nya sendiri. Apalagi pesantren yang berbasis NU. Sederhanaaa banget. Maka untuk membangun gedung asrama atau sekolah, tak jarang para pengasuh biasanya meminta bantuan dari luar negeri, terutama dari negara Arab.

    Tapi di dunia ini ngga ada pemberian yang cuma-cuma. Biasanya setelah diberi bantuan, pesantren tersebut menandatangani kesepakatan dengan yayasan donatur, misalnya buku-buku yang dipakai harus menggunakan kurikulum negara tersebut atau ustaz ustaznya diimpor dari negara bersangkutan. Bisa dibayangkan kan, kalau pemberi dananya Saudi, jadi mau ga mau paham Wahabi masuk melalui pesantren yang diberi bantuan.

    Maka jangan heran kalau di wilayah kalian ada pesantren bagus, tapi punya paham agak keras. Inilah yang membuat benih-benih radikalisme muncul. Para ustadz impor itu menanamkan ideologi yang tidak sama dengan budaya kita. Upacara Asyuro: haram. Tahlilan: bidah. Ziarah kubur: bid’ah. Hadehh.

    Masalah lain yang biasa mereka goreng adalah isu kemanusiaan atas dasar agama. Palestina, Rohingya, Suriah, dll. Ndilalah masa Jokowi, Indonesia lah yang menjadi garda terdepan memberi bantua dan paling lantang meneriakkan hak asasi manusia di forum-forum internasional. Anehnya kubu sebelah yang sering pakai isu kemanusiaan ini masih aja mbacot. Cuman buat pencitraan lah, bantuan indonesia ga riil lah. Emang dasar otak mereka cuma buat meraih kekuasaan. Jadi sebaik apapun pemerintah bekerja akan tetap dijelek-jelekin.

    Udah paham ya, kalau isu agama udah ga bisa dipakai untuk menjatuhkan nama Jokowi? Nah opsi lainnya yang bisa dipakai, apalagi kalau bukan PKI.

    Buat generasi milenial apalagi generasi Z isu PKI ini seperti hantu. Sering dengar namanya, tapi ga pernah melihat langsung. Memang pas kita SD guru mewajibkan kita menonton film yang penuh kekerasan itu, dengan harapan saat besar nanti, otak kita masih menyimpan memori betapa kejamnya makhluk bernama PKI itu. (Catatan, generasi milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1980 an hingga 1997, sedangkan generasi Z setelahnya).

    Saya sendiri waktu SD meskipun diwajibkan menonton oleh sekolah, tapi tak pernah diberi izin oleh orang tua untuk memutarnya. Saat itu orang tua saya hanya mengatakan, “Nanti kalau sudah SMA baru boleh nonton”. Jadi selama sekolah SD hingga SMP , saya tak pernah tahu isi film G 30S PKI yang diputar setiap 30 September itu.

    Ketika SMA saya baru menontonnya. Dan memang adegan kekejaman dan keberingasan seperti saat Gerwani menyilet tubuh para pahlawan revolusi sama sekali tidak disensor. Kekejaman lain mencabut kuku kaki, dan pembuangan mayat ke lubang buaya juga sama sekali tidak di blur kan. Yang heran kenapa KPI dulu tidak berkutik, masa iya, anak SD sudah harus menonton film yang mengerikan itu?

    Tapi Jokowi cerdas. Di setiap kesempatan saat kunjungan beliau sering menegaskan, “Kalau PKI nongol, gebuk saja” dan memperbolehkan penayangan film PKI tapi dengan versi yang lebih baik. Nah, kubu sebelah pasti bingung mau menyerang pakai isu apalagi.

    Sebenarnya isu agama yang dulu menimpa Ahok dan isu PKI yang menimpa Jokowi sasarannya bukanlah generasi milenial, apalagi generasi Z, tapi generasi tua. Generasi tua ini punya andil besar loh dalam mempengaruhi anak-anaknya. Seperti kasus Ahok, kita pikir mana mungkin jaman sekarang perbedaan agama masih jadi patokan? Tapi nyatanya? Ahok sekarang malah mendekam di penjara atas kasus yang sampai kini menimbulkan tanda tanya.

    Saya awalnya masa bodo dengan isu PKI ini. Memangnya ada yang masih percaya PKI itu ada? Tapi ternyata ketika keluarga saya ke Lampung, mereka bercetita bahwa orang-orang di sana sedang heboh membicarakan kebangkitan PKI. Di rumah, di warkop, jalanan, orang kasak-kusuk tentang PKI. God!!! isu PKI rupanya benar-benar dihembuskan di daerah. Mereka yang masih awam dan kurang informasilah yang jadi sasaran.

    Serangan kubu sebelah nggak akan berhenti dihembuskan. Mereka emang sukanya main kasar. Jika sudah bingung mau menyerang pakai apa, ya fitnah saja. Maka kita-kita lah yang harus membentengi diri. Isu -isu PKI atau apapun itu yang hanya dibalut untuk kepentingan politik jangan mudah dipercaya, apalagi diucapkan oleh orang yang ngaku-ngkau ustadz padahal cuma hafal seayat dua ayat saja.

    Untuk membentengi ini semua saya kira media harus menempuh cara yang elegan, misalnya sering-sering nulis atau mengadakan lomba tentang pencapaian Jokowi. Yang saya tau baru Seword saja media online yang melakukannya. Jadi masyarakat nggak cuman tau hal yang negatif saja, tapi isu-isu positif dapat mereka baca.





    Penulis  :  Anisatul Fadhilah    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Kehabisan Cara, Elektabilitas Jokowi Tinggi Diserang Pakai Isu PKI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top