728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 28 September 2017

    #Warta : Kebenaran Akan “Agama Adalah Candu” Dapat di Lihat dari FPI, HTI dan Wahabi

    Selagi Islam Radikal tidak merasa akan ke-offside-annya, selama itulah bangsa kita akan keruh tak jernih-jernih untuk membangun peradabannya.

    Offside pemikirannya, gerakannya, mindset dan perbuatan individu massanya. Menjadi lengkap jika kita menyebutnya sebagai tukang putch (perebutan kekuasaan dengan radikal).
    Sebagaimana Tan Malaka menyebut salah satu opsi Revolusi Indonesia awal-awal dulu, dan tidak mendukung opsi itu.

    Susah memang ketika yang mereka dengungkan adalah iming-imingan surga beserta bidadari-bidadari yang siap menjamu pesta sex, dan takut neraka yang penuh kepedihan tiada tara.
    Jagankan terbiasa untuk dapat berfikir sebagaimana layaknya manusia Islam yang Ulul Albab, lha wong pada kenyatannya, semua yang menjadi fokusnya adalah materialism. Yang surgapun, dimaterialkan.

    Kita tahu mereka juga menyadari keterlanjuran ke-offside-annya, dan karena sudah terlanjur mungkin mereka malu jika kembali ke jalan yang benar.

    Sehingga kita bisa menerka kalender kegiatan demo-demo dalam setiap bulan yang dimilikinya dalam setahun: 

    Januari; tolak peringatan tahun baru, ala-ala barat. Tapi kalender mereka ikut masehi (411, 212 sedang menuju 299).
    Februari; tolak valentine, dengan mengampanyekan poligami versi mereka (istri kedua lebih muda, cantik dan menarik).
    Maret; dukung khilafah, tolak demokrasi.
    April; tolak demokrasi, tapi mereka menggunakan instrument demokrasi.
    Mei; melintir sejarah kebangkitan nasional, menolak ingat kejatuhan Soeharto
    Juni; menolak sebagai bulan Soekarno, kelahiran Pancasila dikhianati.
    Juli; demo menolak Demokrasi, khilafah diperjuangkan.
    Agustus; tidak bersyukur dengan peringatan 17-an, mengingkari kemerdekaan Republik Indonesia.
    September; isu komunis santapan yang paling gurih, sekalian untuk menutupi dosa-dosanya sendiri.
    Oktober; nge-klaim, ulama yang berjuang adalah ulama mereka, yaitu ulama-ulama DI/TII-NII
    November; menyusun strategi untuk Desember akhir tahun, yaitu meminta anggaran APBD untuk hidup di tahun depan, agar tetap eksis membuat kericuhan Negara.
    Desember, Takut topi santa, menggiring opini kristenisasi Indonesia.
    Pokoknya dalam setahun, mereka punya pundi-pundi sumber pendapatan untuk membeli nasi bungkus. Belum lagi aksi-aksi kagetan, untuk merespon keadaan tanpa berfikir mendalam dan tabayun.

    Sederhananya, jika itu semua yang mereka anggap sebagai perjuangan mempertahankan NKRI dan membela Negara, pasti para pahlawan di alam sana ketawa semua “guob***k banget demo-demo itu, apa perjuangan itu sebercanda itu”.

    Dalam konteks yang lebih lebar lagi, penulis hanya ingin focus berkomentar tentang gerakan yang mereka pakai. Yang sesungguhnya keliru, ketika membiarkan massanya tetap bodoh.
    PKI saja dulu membentuk pendidikan-pendidikan untuk militansi kader-kader dan simpatisannya, bukan sekedar mengiming-imingi pesta sex di surga.

    Jika orang luar melihat Islam hanya pada Islam Radikal saja -FPI, HTI Wahabi dan simpatisannya-, maka agaknya ada benarnya juga dengan perkataan Karl Marx “Agama adalah candu”.

    Ketika surga dan neraka dimaterikan, tidak akan pernah kita lihat perubahan orientasi mereka. Sedangkan untuk berusaha mencapai pemikiran idealis saja mereka tidak terlihat.

    Keadaan akan semakin rumit, ketika mindset dan gerakannya itu berada sejalan dengan kepentingan politik praktis dari para oposisi pemerintah. Lihat peristiwa 411 dan 212, siapa yang mendapatkan apa?

    Dan kemenangan calon yang diusungnya itu, menjadi pintu pembuka untuk calon presidennya di 2019 esok. Maka kita harus senang dan bahagia bahwa saudara-saudara kita itu bisa makan terjamin, meskipun nasi bungkus.

    Malas pangkal bodoh, bodoh pangkal miskin, miskin pangkal radikal. Pertanyaannya sudah tahukan golongan radikal itu yang mana?

    Awalnya penulis tidak percaya dengan perkataan Karl Marx tersebut, sebab ajaran agama Islam yang penulis dapatkan memperkenankan untuk memperluas jangkauan akal, selama masih mengedepankan kebenaran sejati adalah kebenaran tuhan.

    Sedangkan, kini penulis temui realita yang membenarkan perkataan “dewa” Komunis tersebut. Sudah bukan rahasia lagi kan?

    Setidaknya sampai di sini kita tahu, betapa pentingnya sekolah itu. Yang jelas bukan sekolah di lembaga pendidikan “onta kecil” dan sejenisnya.

    “Sekolah yang baik agar tidak seperti FPI” begitu tulisan di tutup belakang truck yang beredar menyaingi “Penak zamanku toh”.

    Ya kita semua memang harus menahan diri, tapi ketika sebagian dari kita masih massif memperkeruh keadaan, strategi bertahan adalah bukan cara terbaik. Harus dipukul balik dong!!!

    Rahayu!!!




    Penulis   :    ArisIndra    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Kebenaran Akan “Agama Adalah Candu” Dapat di Lihat dari FPI, HTI dan Wahabi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top