728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 21 September 2017

    #Warta : Kebangkitan PKI yang Tidak Masuk Akal, Ini Alasannya

    Diawal tulisan saya ingin menegaskan bahwa saya sebagai bangsa Indonesia menolak dengan tegas ideologi lain selain Pancasila. Namun menyebarkan kebohongan demi kekuasaan adalah tindakan yang tercela, sebuah tindakan putus asa yang merusak demokrasi dan bertentangan dengan Pancasila.

    Suatu paham ideologi seperti komunisme saat akan bangkit tidak begitu saja tiba-tiba muncul. Tidak bisa hanya dengan katanya ada 15 juta pendukung tanpa ada upaya perekrutan yang ketara. Ngajak orang dalam satu RT untuk jadi panitia acara dangdutan aja kerasa kok, apalagi ngajak berpartai dan berhasil merekrut sampai 15 juta orang.

    Perhatikan saja ISIS, tentu ISIS tidak tiba-tiba mengangkat senjata entah dari mana dan perang pun meletus. Sebelumnya sudah ada isu-isu yang dihembuskan dulu untuk memikat banyak orang. Ada propaganda-propaganda dulu untuk mengumpulkan kekuatan.

    Ideologi itu seperti produk dan supaya produk bisa dibeli oleh banyak orang perlu dipasarkan, diiklankan. Tentu proses pemasaran ini akan bisa dirasakan oleh banyak lapisan masyarakat.

    Kenyataannya sampai saat ini kita tidak mendengar apapun soal PKI. Tidak ada jargon “PKI solusinya” atau sejenisnya. Sama seperti produk, paham komunis pun bisa diterima jika ada pasarnya, ada orang yang membutuhkannya dan untuk itu masyarakat perlu alasan kenapa mereka harus membeli produk komunisme itu.

    Contohnya Aqua, waktu pertama kali muncul Aqua membingungkan banyak orang. Ngapain air putih (bening) dijual dalam botol, kan bisa bikin sendiri? Lalu Aqua mengedukasi masyarakat, saat itu ia menawarkan solusi untuk kesehatan. Iklan-iklannya bertemakan “Cari air minum yang bersih dan sehat itu susah, maka solusinya Aqua”. Sekian lama iklan tersebut menggempur televisi, majalah dan radio, lama kelamaan orang pun paham dan merasa butuh untuk membeli air bening dalam kemasan botol.

    Bangkitnya komunisme pun perlu syarat yang sama, harus ada komunikasi mengenai kenapa harus membeli komunisme. Aktifitas seperti itu tentu akan terdengar dan terasa oleh banyak lapisan masyarakat. Misalnya mereka berkata “negara ini kacau”, “kita dijajah asing”, dan lain sebagainya, maka “solusinya adalah PKI”. Tapi sejauh ini kita tidak merasakan ada proses tersebut. Padahal katanya ada 15 juta orang yang telah direkrut oleh PKI ini sebagai awal kebangkitan PKI.

    Dalam teori marketing saat sebuah perusahaan mengiklankan produknya jika 30 persen saja dari masyarakat yang terkena iklan tersebut mau membeli produknya, maka itu sudah termasuk bagus. Gampangnya begini, coba tawarkan keanggotaan MLM ke 10 orang, dapat 3 aja artinya sudah bagus. Jadi bisa kita balik, kalau mau merekrut 3 orang maka perlu menyebarkan produk/program/ideologi tersebut ke 10 orang. Belum lagi kalau kita bicara soal loyalitas, kesetiaan.

    Kemudian dari 3 orang yang mau bergabung, ada 1 saja yang tetap menjadi anggota selama bertahun-tahun itu juga sudah bagus sekali. Dua orang yang lain sudah keluar dan sisa 1 orang yang setia dan terus bergabung. Artinya jika ingin mendapatkan 1 anggota yang loyal maka perlu komunikasi pemasaran ke lebih dari 10 orang.

    Faktanya memang demikian, perusahaan meluncurkan iklan melalui televisi, majalah, radio, internet ke seluruh masyarakat yang bisa dijangkau oleh iklan tersebut. Dari semua orang yang terpapar oleh iklan tadi, hanya sekian persennya saja yang akan membeli, tidak akan semuanya. Dan dari sekian persen orang yang membeli hanya sekelompok kecil saja yang akan menjadi konsumen setia.

    Jadi jika memang benar PKI saat ini telah bangkit dan berhasil merekrut anggota sebanyak 15 juta orang maka sebelum mereka berhasil merekrut 15 juta orang akan ada upaya perekrutan (iklan) kepada 150 juta orang Indonesia. Artinya minimal 1 dari 2 orang di Indonesia pernah mendengar dan merasakan upaya perekrutan anggota PKI. Upaya ini bisa dengan berbagai cara dari mulai jargon seperti “PKI solusinya!”, ceramah-ceramah tentang komunisme di televisi dan internet, spanduk, dan sebagainya.

    Apalagi upaya perekrutan tersebut dilakukan diam-diam maka semakin sulit untuk bisa merekrut hingga 15 juta anggota. Dan tentu ini tidak masuk akal, Hizbut Tahrir Indonesia yang telah lama ada di Indonesia dan bisa merekrut secara terang-terangan saja jumlahnya tidak bisa mencapai 15 juta.

        Berapa Jumlah Massa Hizbut Tahrir Indonesia ?
        Sekali lagi, dalam hal ini tidak akan membedakan anggota/adlo/syabab/karyawan, daris, dan simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia. Sebab bila hanya membicarakan adlo’ saja, maka akan sangat sedikit, sebab simpatisan bukan berarti anggota HTI, daris pun bukan berarti anggota HTI (secara resmi).
        Bila dari 70 kota itu seandainya kita umpamakan dalam 1 kota dihadiri oleh 10.000 peserta, maka totalnya hanya 700.000 orang. Anggap saja kita paksakan menjadi 1 juta orang HTI. Total penduduk Indonesia adalah 237.641.326 pada tahun 2010 dari data Badan Pusat Statistik, tahun 2014 tentunya lebih meningkat. Maka jumlah massa HTI masih dibawah 1 persen yaitu 0,42 persen dari total jumlah penduduk.

    Jadi intinya isu PKI yang akan bangkit hanyalah omong kosong. Sebab saya dan pembaca Seword semua pasti tidak pernah mendengar adanya upaya perekrutan, bahkan teringat lagi soal PKI pun karena kubu sebelah yang paranoid sendiri. Kita semua juga tidak merasakan ada sebuah gerakan ideologi komunis yang akan bangkit lagi dan menggantikan Pancasila. Padahal selama ini kita merasakan betul adanya paham lain yang juga ingin menggantikan Pancasila.

    Begitulah kelelawar






    Penulis  :  Gusti Yusuf   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Kebangkitan PKI yang Tidak Masuk Akal, Ini Alasannya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top