728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 27 September 2017

    #Warta : Kang Dedi Dijegal, Maung Jabar Menggelegar

    Heboh surat bodong memasuki babak baru. Golkar Jabar menggugat. Dan para maung mulai mengaum. Hari Selasa 26 September 2017 kemarin, Golkar se-Jabar mencatatkan peristiwa penting dalam perjalanan organisasi ini dan arti penting dari kharisma seorang pemimpin yang dicintai. 

    Orasi, unjuk rasa, pembubuhan tanda tangan, aksi pengumpulan koin untuk DPP Golkar, dan ditutup oleh orasi Kang Dedi di hadapan ratusan kader dan pengurus Golkar di kantpr DPD Jabar, menjadi sejarah sangat penting, bukan hanya bagi Golkar Jabar, tetapi bahkan bagi masyarakat Jabar.

    Grassroot Golkar Jabar dan para relawan KDM memiliki common sense yang sama bahwa DPP Golkar sedang memperlakukan kezaliman kepada kader terbaik Golkar Jabar, Dedi Mulyadi. KDM yang loyal dengan partai sejak masa reformasi, ikut berjuang saat kantor Golkar dibakar, dilempari batu dan lain-lain pada tahun 1998-1999, hingga sekarang membangun dan membesarkan Golkar hingga menjadi yang terpopuler di Jabar, namun “dilecehkan” oleh DPP dengan tidak pantas.
    Malah DPP ditengarai memberi dukungan kepada seseorang dari luar yang sedang luntang lantung cari partai pengusung. Surat bodong itu buktinya. Dugaan adanya praktik transaksional menjadi kuat. Apalagi Kang Dedi bercerita bahwa dirinya pernah diminta oleh seseorang yang mengaku dekat dengan DPP untuk menyiapkan uang 10 milyar kalau mau mendapatkan rekemendasi cagub Golkar. Kang Dedi menolak, dan menyatakan tidak apa-apa jika tidak mendapat rekomendasi juga.

    “Darimana uang sebanyak itu..? Kalau pun ada uang 10 milyar, lebih baik saya gunakan untuk kepentingan rakyat, membuat jalan dan sarana penting lainya. Bukan untuk di berikan pada elit elit partai yang haus akan uang. Jujur kami tidak punya uang sebanyak itu.. Dan kalau memang mahar itu jadi satu keharusan dan saya tidak bisa merealisasikan, saya siap dipecat dari ketua DPD Golkar Jawa Barat,” ujarmya dalam orasi kemarin.

    Bisa dibayangkan. Untuk seorang kader yang sedang menjadi Ketua DPD Golkar saja, yang sudah didukung secara aklamasi oleh seluruh pengurus graasroot se-Jabar dalam Rapimda Golkar di Karawang 26-27 April lalu, sosok yang sudah berkeringat deras untuk Golkar sendiri, harus menyiapkan 10 milyar untuk sebuah rekomendasi bagi kebutuhan puluhan juta rakyat. Maka, muncul pertanyaan, berapa kira-kira biaya yang harus dikeluarkan oleh seseorang eksternal untuk mendapatkan rekomendasi dan menjegal kader partai yang berpengaruh?

    Wajar jika grassroot mencium aroma politik transaksional dalam isi surat bodong itu. Makanya tidak heran, dalam unjuk rasa ini ada beberapa spanduk yang tertulis dengan isi yang miris: “Papah Minta Mahar, Kami Beri Makar”. Ini sindiran yang mengingatkan kita pada kasus Papah Minta Saham dulu.

    Ada juga tulisan, “Golkar tidak untuk direntalkan apalagi dijual”. Ini sindiran atas oknum yang diduga telah menyewakan atau menjual partai kepada sosok eksternal yang ngebet menjadi cagub sekalipun dengan menjegal orang lain yang lebih berhak atas partainya.
    Para kader juga menggalang pengumpulan koin untuk DPP, sebagai sindiran bahwa jika DPP ingin membisniskan Pilgub Jabar, maka biar rakyat yang akan menyiapkannya demi Kang Dedi; biar rakyat yang akan membayarkan mahar yang dibutuhkan oknum yang mengaku dekat dengan DPP itu.

    Ancaman grassroot Golkar Jabar akan mendatangi DPP, menunjukkan betapa mereka sangat marah dengan perlakuan DPP kepada Kang Dedi. Dan pergolakan ini jangan dianggap remeh. Ini bisa menjadi guncangan pada Golkar secara nasional. Di tengah elektabilitas Golkar secara nasional yang tinggal 10% dengan status tersangka ketumnya, maka pergolakan Golkar Jabar bisa berdampak pada Golkar secara nasional. Ketum akan mendapatkan karmanya lebih cepat.

    Bagi grassroot masyarakat Jabar, Dedi Mulyadi itu merupakan personifikasi Siliwangi jaman kiwari. Dan masyarakat Jabar adalah maungnya. Si maung takkan membiarkan tuannya diperlakukan secara sewenang-wenang, dilecehkan. Sekalipun Siliwangi sabar dan legawa, tetapi tentu saja si maung takkan tinggal diam. Bagi si maung, memperjuangkan dan membela Siliwangi adalah kehormatan.
    Apalagi dalam orasinya tadi di depan ratusan kader partai, Siliwangi telah menyampaikan ungkapan yamg sangat simpatik, rendah hati, apresiatif sekaligus membakar semangat dan menggerakkan. Maka, jangan anggap sepele pergerakan maung.

    Berikut ini sebagian dari orasi Kang Dedi di depan ratusan kader Golkar Jabar yang disampaikan di kantor DPD Golkar, Jl Maskumambang Kota Bandung, Selasa 26 September 2017 kemarin:
    “Sikap saya adalah kalau Dedi Mulyadi harus dikorbankan untuk kebesaran partai, saya siap mengorbankan diri bahkan menghilangkan jabatan Ketua DPD pun saya siap kalau itu untuk kebaikan partai.”

    “”Kalau keberangkatan saya membuat gundah teman-teman pengurus DPD Provinsi, Kabupaten Kota, calon bupati dan wali kota, anggota fraksi, karena memiliki rasa takut dekat dengan saya, takut bersama dengan saya kehilangan jabatan, kehilangan kekuasaan, kehilangan harapan, tinggalkan saya, biarkan saya sendiri,” ucapnya.

    “Dan kehadiran saya jika berangkatnya mengorbankan banyak orang, biarkan Golkar berjalan pada pikirannya, biarkan saya mewujudkan mimpi-mimpi saya bersama rakyat Jawa Barat,” lanjutnya.
    Tentu saja pidato ini bukan membuat akar rumput menjauh, malah justru makin solid dan berempati. Terutama kata-kata terakhirnya adalah sinyal bahwa jika DPP Golkar memiliki jalan pikirannya sendiri yang melawan kehendak grassroot kader se-Jabar, maka Kang Dedi siap “bersama rakyat untuk memperjuangkan visi Jabar Sajati.

    ” Ini dipahami sebagai kesiapan maju via jalur perseorangan.

    Sementara para pengurus dan kader menyatakan sikap siap mundur dan mengembalikan KTA jika DPP tetap tutup mata dalam waktu dekat ini. Pada saat publik berharap Dedi membawa perubahan posistif bagi wajah buruk Golkar, dan DPP ditengarai hendak menjegalnya, maka reaksi para kader dan pengurus tadi sangat beralasan,dan bahkan bisa lebih dari kemarin –jika DPP gagal mengerti.

    Dari ekspresi kemarin, terlihat bahwa para maung siap pasang badan dan berkonsolidasi. Jika mereka sudah turun gunung, maka mereka akan “cadu mundur pantrang mulang”. Jika partai menghalangi Siliwangi, maka para maung yang akan mengantarkannya mengurus Jabar yang sedang kehilangan visi ini. Bagi mereka, memperjuangkan Kang Dedi adalah memperjuangkan visi Jabar Sajati. Dan Kang Dedi takkan dibiarkan berjalan sendiri.
    Kita panteng terus perkembangannya…

    Sampurasun…



    Penulis   :   Mahya Lengka    Sumber  :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Kang Dedi Dijegal, Maung Jabar Menggelegar Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top