728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 09 September 2017

    #Warta : Kami Yang Minoritas

     "Trus, kami yang minoritas ini bagaimana?”. Diskusi di GKI Pondok Indah Jakarta kemaren sore berlangsung gayeng. Kami membicarakan banyak hal terutama tentang situasi di Indonesia. Permasalahan "mayoritas" dan "minoritas" ini masih menjadi momok dalam hubungan sosial kita.

    Saya ingat dulu sekali, ketika saya sempat gagal dalam berusaha. Beberapa teman berusaha menanamkan dalam benak saya bahwa, "kamu kalah!!". Proses doktrin itu berlangsung beberapa lama, sampai akhirnya saya pun "kalah". Saya tercipta sesuai apa yang mereka cipta.

    Selama beberapa waktu saya menyendiri, mengurung diri dan mengasihani diri sendiri yang kalah. Saya menyalahkan semua hal kecuali diri saya sendiri. Ada titik dimana akhirnya saya sadar,

    "Kenapa saya malah membuat diri sendiri seperti apa yang mereka katakan ? Kenapa saya malah membuat mereka menang ? Tidak. Saya tidak kalah. Saya pemenang. Akan saya buktikan kalau mereka salah besar".

    Mental positif mengalir di dada. Saya tidak ingin selamanya membuat mereka tertawa. Fokus pada solusi, saya menghentikan semua drama.

    Dan proses tidak pernah menghianati hasil. Setahap demi setahap saya bangkit dan memulai kembali bangunan yang dulu hancur. Saya berhasil. Dan tertawa paling akhir.

    Ketika akhirnya - setelah sekian tahun - bertemu teman-teman yang dulu pernah mendoktrinasi, saya melihat mereka tidak lebih baik hidupnya. Saya tahu kenapa. Mereka sibuk melihat orang lain, sebagai benteng untuk melindungi kelemahan dirinya.

    Tersadar kembali bahwa saya masih di GKI, sebagai pembicara. Saya ambil microphone dan mulai berbicara..

    "Konsep mayoritas dan minoritas sejatinya hanyalah propaganda. Mereka membangun konsep bahwa mereka mayoritas, melalui parameter agama. Itu supaya mereka terlihat kuat dan berwibawa. Padahal mereka rapuh dan manja..

    Yang jadi masalah besar adalah ketika kita akhirnya tercipta seperti apa yang mereka ciptakan pada kita. Kita menjadi minoritas sesuai pikiran mereka. Kita sendiri yang mengkotakkan diri dalam sudut sempit yang mereka bangun untuk kita.

    Padahal jelas, sebagai warga negara, kita punya hak dan kewajiban yang sama. Di hadapan hukum, kita semua sama.

    Masak kita di tahun 2017 -tahun tehnologi ini- kalah dengan para pemuda di tahun 1928 - dari semua suku, ras dan agama - yang mendeklarasikan satu nusa dan satu bangsa?". Semua terdiam. Mungkin sudah lama mereka terkungkung dalam keminoritasannya.

    Kekalahan mental ini menjadikan banyak orang eksklusif, bergaul hanya dengan kelompoknya. Membentuk kelompok-kelompok kecil yang mudah ditindas, diintimidasi bahkan oleh sebuah propaganda. Kuseruput secangkir kopi di depan yang disediakan oleh panitia.

    "Tidak boleh ada sekarang ini - siapapun itu - yang menggunakan parameter agama dalam kehidupan bernegara. Semua sama, sama-sama anak bangsa.

    Kalahkan diri sendiri dulu, bahwa saya dan anda bukan orang kalah, bukan mayoritas dan minoritas dalam hal bernegara. Bangun dulu mental positif di dalam dada. Jika kita saja kalah dengan diri sendiri, bagaimana bisa mengalahkan orang lain yang menindas kita ?

    Bangun kerjasama sosial dengan berbagai kalangan. Bangun jaringan-jaringan tanpa melihat golongan. Viralkan dalam bentuk gambar apa yang sudah dilakukan..."
    Sudah sore, sudah waktunya kututup pembicaraan ini.

    "Propaganda lawan dengan propaganda. Tempuh jalur hukum siapapun yang mencoba menindas kita. Jangan takut dengan hasilnya, tapi takutlah dengan fakta bahwa kita sama sekali tidak pernah berusaha..."


    Aku merasakan aura positif mulai merasuk di dada.


    Sumber :   DennySiregar .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Kami Yang Minoritas Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top