728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 01 September 2017

    #Warta : Jonru Jadi Terlapor, Akankah Dia Termehek-mehek Seperti Buni Yani?

    Orang bilang, kata bisa jadi do’a. Dan itu yang saya lihat dari seorang Jonru Ginting. Baru kemaren dia berteriak bahwa dirinya tidak takut dipolisikan. And Jonru, your wish is granted! Untung dia tidak bilang, “Silahkan penjarakan saya!”. Bagaimana jika Allah langsung bilang, “Kun fayakun!”, jadi, maka jadilah!

    Sekilas Tentang Siapa Jonru Ginting

    Bernama asli Jon Riah Ukur atau dia singkat menjadi JonRU. Jadi inget Cah Lotong yang kasih nama anaknya Jonatan yang artinya broJOl kareNA kemaceTAN. Bapaknya Jonru lagi mikirin apa ya, kok bisa anak dikasih nama UKUR :). Lahir di Kabanjahe, Karo, Sumatra Utara tanggal 7 Desember 1970. Menikah dengan Hendra Yulianti pada tahun 2003 dan dikaruniai 3 orang anak. Untung bukan Hendra Yulianto. Tahun 2009, Jonru menjadi Juara Tahunan (Super Blog) Internet Sehat Blog Award 2009. Kok bisa ya sekarang blog dia jadi sakit?

    Selama Pilpres 2014, Jonru aktif mengkritisi (baca: menghujat) capres Joko Widodo dan mendukung Prabowo. Ia mendeskripsikan Prabowo sebagai sosok yang ramah, membumi, apa adanya, dan sangat santai, namun di sisi lain, ia juga mengakui kelebihan Jokowi yang dianggapnya mau bekerja. Ia juga menyatakan suatu saat ingin bertemu Jokowi. Kalau bertemu dia mau ngomong apa sama Jokowi setelah semua ejekan yang dia tebarkan atau akan berdalih bahwa itu hanya “Dalam rangka Pilpres” ?

    Kontroversi yang dimilikinya adalah nama Jonru dimasukan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang membuat seolah nama Jonru menjadi lema (entry) dalam kamus besar bahasa Indonesia yang berarti “memfitnah atau menjelekkan nama orang lain”. Ini hasil dari keisengan pengguna media sosial bernama Rivan Heriyadi dan Ahmad Sahal yang kemudian dia laporkan ke polisi sebagai sebuah tindakan pencemaran nama baik.

    Padahal biasanya, sebuah nama diangkat menjadi kata kerja itu karena dilihat dari aktivitas yang begitu sering dilakukan oleh si pemilik nama. Sama seperti kata “Diahokkan” yang berasal dari nama Ahok yang artinya dipenjarakan karena fitnahan. Entah diindahkan atau tidak laporannya Jonru atas Rivan Heriyadi dan Ahmad Sahal ini, yang pasti, saya tidak menemukan berita lanjutannya. Mungkin Polisi juga bingung ya, karena begitu menelusuri bukti-bukti, eh semua tulisan Jonru memang hanya bisa disimpulkan dengan kata lema, yang artinya memfitnah atau menjelekkan nama orang lain. Sama dengan kata “tedjo” yang artinya ‘ngga jelas’.

    P a n d a n g a n

    Kalau saya melihat kebelakang, bahwa Jonru pernah melaporkan 2 orang pengguna media sosial atas kasus pencemaran nama baik dimana namanya diartikan menfitnah, Sepertinya, peristiwa ini justru akan mendukung laporan yang dilakukan oleh Muannas Al Aidid. Karena, pada saat Jonru berusaha mempolisikan 2 orang tadi dengan tuduhan pencemaran nama baik, Polisii justru menemukan fakta bahwa penggunaan nama dia sebagai sinonim kata ”fitnah” sulit dipisahkan dari sikap Jonru terhadap Joko Widodo.

    Mahkamah Konstitusi menyimpulkan bahwa nama baik dan kehormatan seseorang patut dilindungi oleh hukum yang berlaku, sehingga Pasal 27 ayat (3) UU ITE tidak melanggar nilai-nilai demokrasi, hak azasi manusia, dan prinsip-prinsip negara hukum.

    Mungkin sekarang Jonru sedang sibuk menghapus semua postingan-postingan dia yang bernyawa penghinaan dan fitnah terhadap Presiden Indonesia. Saya saja yang tidak memiliki latar belakang hukum, ketika membaca tulisan-tulisan Jonru lalu menghubungkannya dengan pasal 27 ayat 3 UU ITE dan pasal 310 ayat 1 KUHP, saya bisa mengatakan, “Wah pasalnya sudah masuk ini!”

    pasal 27 ayat (3)  UU ITE

    Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

    Pasal 310 ayat (1) KUHP

    Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

    Apalagi Jonru menspesialiskan diri sebagai penghina Jokowi, Presiden Indonesia yang dengan tanpa Undang-Undang pun wajib dijaga kehormatannya oleh seluruh bangsa Indonesia karena Presiden adalah Simbol Negara. Hanya orang yang sakit jiwa yang menyamakan kedudukkan Presiden dengan rakyat biasa. Dilihat dari sudut pandang manapun, tetap sama bahwa menjaga nama baik Presiden, di dalam maupun di luar negeri menjadi kewajiban tak tertulis bagi seluruh rakyat Indonesia, karena ini menyangkut martabat bangsa.

    Sulit kita untuk berpikir bahwa mungkin Jonru memiliki kelainan jiwa. Seseorang disebut memiliki kelainan jiwa atau hobi menghujat orang lain, harusnya tidak menghujat hanya pada satu nama. Orang yang memiliki kelainan jiwa seperti itu, dikehidupan kesehariannya, biasanya dikucilkan atau dijauhi para tetangga dan masyarakat. Mereka akan selalu menghindarinya karena takut menjadi korban penghinaan. Hal seperti ini, tidak terlihat pada diri Jonru. Jonru dengan segala penghinaan dan fitnahnya terhadap Jokowi junstru malah diagungkan oleh sebagian orang bahkan oleh beberapa tokoh dan pejabat negara. Artinya, Jonru adalah seorang yang sehat lahir batin dan dengan kesadarannya dia melakukan fitnahan terhadap Presiden Indonesia.

    Jonru memang pantas untuk dipolisikan! Dan kalau selama ini Jonru dengan angkuhnya merasa tidak pernah terciduk oleh polisi, ini karena kebesaran hati Jokowi dan pendukungnya yang tidak mau membuang waktu mereka untuk mempolisikan Jonru. Namun kali ini, waktu untuk berangkuh ria sudah selesai. Menghadapi Pilpres 2019, seluruh bangsa Indonesia ingin melihat perhelatan akbar ini dengan semangat persaingan yang sehat tanpa saling menghujat antar kubu capres yang akan bertarung dengan ketat.

    Akankah Jonru Termehek-mehek Seperti Buni Yani?

    Saya jadi ingat kesombongan Buni Yani waktu menfitnah Ahok. Selama dia dikelilingi pendukungnya, mulai dari para kampret sampai pentolan-pentolan FPI, Buni Yani berkoar layaknya orang suci. Begitu proses peradilan dimulai, Buni Yani merengek sejadi-jadinya, meminta belas kasihan dengan alasan anak istri dan statusnya yang jadi pengangguran.

    Selama ini Jonru lupa bahwa dia memiliki 3 anak dan istri yang tidak akan pernah lepas dari sepak terjangnya menghina Jokowi. Iya kalau Jonru berumur panjang bisa menjelaskan dan si anak bisa menerima penjelasan kenapa ayahnya sangat membenci Presiden Jokowi. Ingat, segala jejak kita di media sosial semuanya terrekam. Data itu akan tersimpan sampai kapanpun sebab sudah di kloning, digandakan, disebar ke berbagai media. Begitu anak Jonru tumbuh remaja dan dewasa, serta tidak sepakat dengan apa yang didebatkan sang ayah, apa yang akan terjadi kemudian?

    Dan sungguh menjadi aib yang berkepanjangan dan dikenang oleh anak-anak dan keluarga bahwa ayah mereka dipolisikan dan logika dangkal saya mengatakan, mungkin si anak istri akan menyesal karena mereka tahu dibiayai dan dibesarkan dengan uang haram. Uang dari hasil menfitnah orang.

    Kalau Jonru ingat nasib anak dan istrinya di masa depan, akankah dia termehek-mehek memohon pengampunan seperti apa yang pernah Buni Yani Lakukan? Kita semua, termasuk Bapak Presiden Jokowi akan mengatakan, “Kami maafkan semua kesalahanmu, namun hukum tetap berjalan!”

    Bukan begitu kawan?



    Penulis :  Erika Ebener    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Jonru Jadi Terlapor, Akankah Dia Termehek-mehek Seperti Buni Yani? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top