728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 01 September 2017

    #Warta : Jonru Dilaporkan ke Polisi, Aksi Bela Jonru #SaveJonru

    31 Agustus 2017 kemarin, pengacara bernama Muannas Alaidid melaporkan penulis Jon Riah Ukur Ginting alias Jonru Ginting ke polisi atas dugaan hate speech, dan meminta Menkominfo Rudiantara memblokir semua akun media sosial Jonru yang dinilai sering mengunggah postingan bernada SARA.
    https://twitter.com/muannas_alaidid/status/903260050877067264?

    Seperti yang kita ketahui bahwa, Muannas adalah salah seorang pengacara yang tergabung dalam Komunitas Advokat Kotak Badja, salah satu kelompok pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Muannas juga kemarin melaporkan Buni Yani sebagai terlapor kasus ujaran kebencian dan sampai saat ini disetiap hari selasa masih selalu hadir mengawal dan mengantar para saksi dalam sidang perkara Buni Yani.

    Jonru kini dilaporkan perkara Hate Speech melalui media elektronik. Seperti yang kita ketahui selama ini Jonru kerap melakukan framing opini menyesatkan kepada followernya dengan menyatakan fitnah-fitnah yang kadang ditujukan kepada pak Jokowi atau Ahok.

    Seperti mempertanyakan asal usul ibunda pak Jokowi, atau menyebut pak Jokowi sebagai Budi Widodo. Kalau mau lihat daftar lengkap fitnah Jonru mungkin bisa cek langsung website kaskus berikut ini https://m.kaskus .co.id/thread/5479acb81a9975d3508b4578/klarifikasi-panastak-ini-daftar-fitnah-jonru/

    Sebagai lucu-lucuan, beredar screenshot google seperti berikut yang menunjukan kalau “tukang fitnah” adalah Jonru

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono yang dikonfirmasi membenarkan soal laporan ini. Menurut Argo, kasus ini masih dalam tahap penyelidikan.
    Tukang Fitnah Jonru

    Kita ketahui bersama secara live tanpa proses editing, Jonru dalam Talkshow ILC mengkonfirmasi bahwa tulisan framming terhadap ibunda Jokowi adalah benar dia menuliskan itu, namun dia tidak merasa apa yang ia tulis adalah menghina. Pembahasan detail lengkap mengenai hal ini silahkan langsung saja menuju link berikut

    Pak Polisi Tolong Usut “Orang” ini (Jonru)

    Sekarang, pokok pembahasan kita pada opini kali ini adalah terkait bagaimana nanti dalam waktu kedepan akan ada “Aksi Bela Jonru”

    Tentunya tidak mungkin orang sekaliber Jonru yang memiliki follower 1 470 285 dan masuk ranking 232 se Indonesia yang memiliki jumlah follower terbanyak akan diam saja tanpa melakukan pembelaan atau perlawanan balik

    https://www.socialbakers .com/statistics/facebook/pages/total/indonesia/page-20-24/
    Kalau pada sebelumnya ada cerita “Aksi Bela Buni Yani” dengan hastag #SaveBuniYani, maka tentunya kali ini dalam tema Aksi Bela Jonru, akan ada hastag #SaveJonru atau #JonruTidakTakut

    Darimanakah Dana Jonru Nantinya?

    Berbicara soal Buni Yani, dalam proses baik memanggil pengacara yang bernama Aldwin Rahadian, akomodasi koalisi Bang Japar, serta konsumsi supporter yang hadir diluar area sidang tiap selasa itu tentunya membutuhkan biaya yang besar.

    Dalam proses pengurusan berkas saja semasa jadinya Buni Yani sebagai tersangka pada tahun 2016 silam, hingga awal mula sidang perdananya, dikabarkan bahwa Buni Yani sudah habis hampir 1 Miliar. Sejak kehabisan dana, dan Buni Yani yang sudah tidak mampu lagi menafkahi keluarganya karena sudah tidak bekerja, dia mencoba untuk serabutan dimulai dari berdakwah, serta jualan Mug untuk mencari tambahan dana.

    Buni Yani yang sudah kehabisan dana itu pada akhirnya membuat tim penggalangan donasi untuknya, yang dikabarkan banyak donatur berterbangan yang membantu Buni Yani untuk tetap terus dapat menjalani sidang, dengan hastag #CoinBuniYani

    Berkaca pada kasus Buni Yani, tentunya Jonru juga membutuhkan biaya, bedanya Jonru mungkin sudah berpengalaman menggais pundi-pundi rupiah yang ia telan pribadi sebanyak hampir 30% dari dana donasi rakyat yang sebenarnya bukan ditujukan untuk Jonru, melainkan fakir miskin atau yatim piatu, dsb.

    Seberapa besar duit yang bakal Jonru habiskan dalam kasus ini tentunya akan sangat kita nantikan, karena pasti Foundation-Foundation yang di-dirikan Jonru itu, akan dengan giat untuk menggalang dana demi kepentingan penyelamatan Jonru dari kasus yang ada.

    Timing Tepat

    Serangan kepada kubu anti pemerintah saat ini bisa dikategorikan sangat baik, pasalnya mereka sepertinya sedang kehabisan dana dan belum balik modal.

    Kalau berkaca pada sang “operator”  dibalik layar yang sudah menggelontorkan entah berapa miliar atau mungkin triliun, untuk ongkos Pilkada jakarta dengan demo berjilid-jilid tiap episode itu, belum lagi membiayai Rizieq sang orator di Arab Saudi yang tinggal di Hotel Mewah itu selama hampir 4 bulan lebih dari sekarang. Tentunya semua hitungan ini ada untung ruginya.

    Tidak mungkin duit datang dari langit, duit hasil korupsipun mungkin kian menipis, keberpihakan Hary Tanoe ke pro Jokowi bisa disinyalir karena beliau juga sudah tidak mau rugi lagi, atau dimanfaatkan medianya untuk kepentingan yang tidak menguntungkan.

    Karena sudah banyak dana yang keluar, kini akhirnya mereka gugur satu persatu, dimulai dari Saracen. Kubu yang Terstruktur, Sistematis dan Masif ini sekarang bisa dilihat anggotanya sudah kabur melarikan diri, dan bahkan merekapun kini tidak diakui oleh kalangan yang mendirikannnya.
    Pionir-pionir fitnah yang bekerja dilapangan satu persatu pun sudah banyak diciduk, sekarang giliran Jonru. Dengan begini pihak yang tersisa tentunya mungkin hanya dari three musketeer yang kerap mencuitkan status legendarisnya ditwitter itu.

    Indonesia mulai menemukan titik harapan untuk bebas dari fitnah, hasut dan hoax. Mari kita kawal terus agar tidak ada dana Bancakan untuk pengelembungan dana sang operator yang sudah kian menipis ini.Sebelum saya memulai artikel ini, perkenankan saya mengucapkan “Selamat Berkurban” bagi segenap pembaca yang merayakan Idul Adha, dari saya dan keluarga yang merupakan penganut Katolik Roma di negara kita bersama ini. Mohon maaf lahir dan bathin. “Bila kita tidak bersaudara dalam iman, setidaknya kita bersaudara dalam kemanusiaan” (Imam Ali bin Abi Tholib)

    ____________________________________&&&_____________________________________________

    Jokowi, Presiden yang Sangat Peduli pada Keutuhan NKRI

    Saya ingin memulai artikel ini dengan sebuah pertanyaan yang muncul dari postingan seseorang di lini massanya. Orang itu mengatakan kurang lebih begini, “Di zaman presiden sebelumnya, ketika ada warga negara yang mengata-ngatai presiden yang sedang menjabat, biasa-biasa saja. Sekarang kok sedikit-sedikit ditangkap, sedikit-sedikit dipolisikan”.

    Maka, baiklah, sebelum berlangkah lebih lanjut sebaiknya kita harus meluruskan beberapa hal.

    Pertama, harus dipertegas dulu, presiden siapa saja yang pernah dikata-katai terus memilih bergeming atas perkataan yang menimpanya dari warga? Saya harus jujur mengakui bahwa teramat sulit bagi saya mencari sumber valid untuk mengatakan bahwa presiden sebelumnya pernah dikata-katai oleh warganya. Lebih sulit lagi menemukan bahwa sang presiden tidak terusik oleh perkataan warganya tersebut. Perkataan yang saya maksudkan di sini adalah perkataan yang tidak mengenakkan karena hendak menyesuaikan diri dengan opini yang hendak dibangun oleh orang yang aku kutip perkataannya di awal tulisan ini tadi.

    Perkataan yang saya kutip di atas tadi bila kita melakukan tinjauan kritis sedikit terhadapnya, maka kita akan menemukan bahwa seolah-olah aksi penangkapan atau pemolisian beberapa oknum yang terjadi belakangan ini di zaman Jokowi menjabat sebagai presiden kita adalah sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak terjadi pada era kepemimpinan sebelum-sebelumnya. Ini artinya opini yang hendak dibangun orang itu adalah bahwa aksi penangkapan yang terjadi belakangan ini merupakan sesuatu yang tidak perlu karena pada era sebelumnya tidak ada aksi seperti begitu.

    Terhadap opini yang hendak dia bangun ini, karena sulitnya saya mendapatkan bukti valid terhadap pernyataannya tentang era sebelumnya yang ketiadaan aksi penangkapan atas dugaan hatespeech dan semacamnya, saya anggap saja karena pada saat itu UU ITE belum ditetapkan. Atau bisa juga karena tidak ada media yang memberitakannya. Jadi, ya wajar kalau terkesan bahwa pada era pemerintahan sebelum Jokowi seolah presiden yang lagi menjabat tidak terusik oleh perkataan warganya yang tergolong menghina.

    Kedua, penangkapan dan pemolisian terhadap beberapa oknum atau organisasi belakangan ini, bukanlah aksi pembungkaman rezim terhadap warganya yang kritis. Penangkapan dilakukan atas alasan dugaan penghinaan. Di sini kita harus paham bahwa antara mengritik dan menghina itu sangat berbeda.

    Bahwa dalam kenyataannya, sebuah penghinaan bisa merupakan sebuah kritikan itu benar. Tapi tidak sebaliknya bahwa semua kritik adalah penghinaan. Kritik toh bisa disampaikan dengan bahasa yang santun, bahasa yang tidak membuat yang dikritik jadi merasa direndahkan. Kecakapan berkomunikasi publik berperan penting di sini. Sebuah kritik yang maksudnya mengingatkan dan membangun yang dikritik apabila disampaikan dengan bahasa bernuansa olokan dan ejekan, itu amat merendahkan. Itu penghinaan. Sebaliknya, bila disampaikan dengan bahasa yang santun, itu menempatkan yang dikritik sebagai orang yang tetap patut mendapatkan penghormatan dari sang pengritik. Jadi ya… memang perlu itu yang namanya kecakapan berkomunikasi (publik).

    Jangankan sebagai Presiden, sebagai Jelata pun Jokowi Pasti Bereaksi

    Setelah memahami poin-poin di atas, mari kita berlangkah menuju ke pokok persoalan. Terhadap ini, pertanyaan besarnya adalah apakah aksi penangkapan dan pemolisian yang terjadi belakangan ini ada motiv politis demi mengamankan posisi Jokowi menuju pencalonan kembali jadi presiden di tahun 2019?

    Jawabannya adalah tidak sama sekali. Saya bisa memastikan itu karena Jokowi bukan sekali dua kali ini saja dihina-hina. Sejak awal pencalonannya sebagai Gubernur DKI saja berbagai fitnah, hujatan, penghinaan dan ejekan kerap menerpanya. Lalu, kenapa baru sekarang orang-orang yang menghinanya satu per satu ditangkapi?

    Itu tidak lain karena pelajaran yang didapat dari seputaran Pilkada DKI memberikan bangsa ini sesuatu yang amat sangat berharga. Sebab, sebagaimana yang kita ketahui bersama, di tengah teriknya sengatan kepentingan pencalonan beberapa oknum di Pilkada DKI kemarin, negeri ini nyaris bubar seketika, hancur berkeping-keping terbagikan ke dalam beberapa negara pecahan.

    Ah…, yang benar saja? Lebay ah! Begitu mungkin benak sebagian pembaca bereaksi atas pernyataan saya barusan. Saya memakluminya karena memang kemarin itu tidak ada yang sampai benar-benar memroklamirkan berdirinya Republik Papua, Republik Minahasa, Republik Bali dan Republik Flobamorasta. Iya, kan nyaris saya bilang.

    Sadarkah Anda, siapa sosok di seputar peristiwa itu kemarin yang berjasa membuat negeri ini tetap tegak berdiri sebagai NKRI hingga detik ini? AHOK! Kenapa? Ahok kalau saja memiliki jiwa kerdil, atau politisi yang lebih mementingkan dirinya sendiri, bubar beneran republik ini kemarin. Beruntung, dia dengan legawa menerima kekalahan meskipun ada beberapa temuan kecurangan dari kubu sebelah dikantongi dia dan segenap relawannya. Terlebih lagi, dia bisa mudah saja menggerakkan massa pendukungnya kemarin untuk bertindak anarkis atas putusan hakim pengadilan yang bahkan oleh jaksa yang menyidangkannya saja dirasa berlebihan. Coba bayangkan apabila Ahok kayak si raja togel yang jagoan main keroyokan tapi begitu disasar polisi terkait dugaan “skandal kebun pisang” lari lintang-pukang ke luar negeri tak pulang-pulang hingga detik ini itu?

    Saya jamin, negara sudah pasti chaos kemarin. Ujung-ujungnya adalah mereka yang tersakiti oleh kaum penolak kebhinekaan beramai-ramai memroklamasikan diri terpisah dari NKRI serentak menjadi negara berkedaulatan sendiri.

    Ahok, Sosok Kunci Tetap Tegaknya NKRI Pasca Pilkada DKI Kemarin

    Oke, kita kembali ke topik! Ahok kalah itu karena banyaknya fitnahan, banyakanya hujatan, banyaknya hatespeech dan ancaman nyata terhadap para pendukungnya kemarin di Pilkada DKI. Kenapa? Karena survey membuktikan, tingkat keterpuasan publik atas pelayanan Ahok di periode sebelumnya di atas 72%, ‘kan tidak masuk di akal kalau kemudian malah kalah dalam pemilukada untuk kepentingan periode berikutnya dia menjabat.

    Akibat banyaknya hujatan, hinaan, fitnahan hingga ancaman yang diterima warga yang hendak memilih Ahok pun terpaksa mengalihkan dukungannya ke sebelah. Ya, akhirnya Ahok-Djarot kalah deh….

    See? Ternyata hoax, fitnahan, hujatan hingga ancaman itu efektif melenggangkan seseorang ke panggung kekuasaan. Sekarang, bisakah Anda membayangkan apa yang akan terjadi di tahun 2018 mendatang saat 50% penduduk Indonesia serentak menyelenggarakan pemilukada di Jawa? Bila di setiap propinsi yang akan berpemilukada itu ada satu saja kubu yang memainkan pola kotor seperti di DKI yang lalu itu, akan kayak apakah negara ini? Iya kalau kubu yang dirugikan adalah orang-orang yang selevel Ahok semuanya. Jika sama-sama kotor integritasnya, apa yang akan terjadi? Saya membayangkan kengerian yang teramat sangat.

    Nah, guna mengantisipasi itulah makanya, orang-orang yang menggunakan media sosialnya secara tidak bertanggung jawab perlu diambil tindakan tegas dari sekarang.  Itu adalah kesadaran yang melatari tegasnya Jokowi memerintahkan aparat berwajib untuk bertindak tegas terhadap para netizen sejenis Jonru, MCA (Moeslem Cyber Army) dan Saracen Group beserta jaringannya. Bila lini massa bersih dari postingan-postingan provokatif maka ketakutan kita akan kengerian yang bakal terjadi di seputaran pilkada serentak di Jawa tahun depan itu sedikit terobati.

    Jadi? Kesimpulan finalnya adalah Jokowi, bahkan kalau beliau bukan presiden pun, beliau akan tetap meminta kepolisian untuk bertindak tegas terhadap para penyebar hoax, hinaan dan hujatan di media sosial. Kenapa saya sedemikian yakinnya tentang itu? Tidak lain karena Pakdhe adalah sosok yang amat peduli akan keutuhan republik tercinta ini, sebagaimana dia wujudkan dalam berbagai gebrakan pembangunan infrastruktur yang merata di seluruh pelosok negeri, terutama kawasan timur Indonesia yang mana pada era kepemimpinan sebelumnya sering dianaktirikan. Jokowi adalah sosok pemimpin yang berhasil membuat jiwa patriotisme menggelegak dalam diri para pecinta NKRI yang meski berbhineka latar, tidak menjadikan itu sebagai sebuah penghalang dalam merajut persaudaraan dan silaturahmi lintas latar segenap anak bangsa sebagaimana
    saya dan segenap penulis seword lainnya juga wujudkan dalam kebersamaan kami. Adakah Anda, pembaca, juga memiliki kesimpulan yang sama?

    Jika iya, maka mari kita bersama-sama dengan Pakdhe Jokowi menjaga republik ini dari parasit-parasit demokrasi dan kebhinekaan kita sebangsa. Mari kita ganyang mereka dengan cara kita masing-masing agar cucu kita kelak akan tetap senegara dengan kita, kakek-nenek mereka.
    Yuk!





    Penulis :  Bani     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Jonru Dilaporkan ke Polisi, Aksi Bela Jonru #SaveJonru Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top