728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 26 September 2017

    #Warta : Isu PKI dan Lemahnya Tim Komunikasi Presiden

    Menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada adalah sebuah pekerjaan besar dan berat. Menciptakan isu kebangkitan PKI padahal tidak ada, adalah sebuah pekerjaan susah. Dan buruknya, ada orang yang berhasil melakukan itu semua.

    Sebaliknya, isu atau cerita tentang pencapaian pemerintah nampak begitu nyata dan melalui proses panjang. Hasil pekerjaan siang dan malam. Namun kemudian semua itu tenggelam oleh isu-isu yang sengaja dibuat dan dibentuk oleh Saracen dan yang sekelompok dengannya, termasuk pencipta isu PKI adalah bagian dari orang-orang yang sama.

    Isu tentang PKI ini bukan hanya sekali dua kali, tapi berulang ulang. Masyarakat dipaksa membaca berita-berita dari komentar kunyuk. Kita terpaksa membacanya karena komentar kunyuk ada di mana-mana. Dan buruknya, tim komunikasi orde baru ini sudah punya formula dan jaringan yang kuat. Sehingga sekali komentar langsung diliput dan disebar luarkan sercara terstruktur, sistematis dan massif.

    Bagi saya, keberhasilan isu PKI yang dimunculkan dengan maksud menakut-nakuti masyarakat, menciptakan keresahan hingga kerusuhan, secara otomatis adalah kegagalan tim komunikasi Presiden Jokowi. Pemerintah dengan segala perangkat, sumberdaya dan dana yang melimpah, sudah seharusnya punya strategi untuk mengimbangi isu-isu tidak produktif seperti kebangkitan PKI ini, yang sebetulnya tidak pernah ada.

    Mungkin ada yang berpikir bahwa isu PKI ini mudah dibuat karena memang mudah dipahami masyarakat, sebaliknya tentang pencapaian ekonomi, pembangunan, birokrasi dan sebagainya susah dilakukan karena memang berat dan sulit dipahami. Tapi menurut saya itu hanya soal kemasan dan strategi pemasaran saja, tentang bagaimana bahasan yang rumit itu bisa disederhanakan sehingga mudah dipahami.

    Dan masalahnya memang, hampir tidak ada pembuat konten atau cerita tentang apa yang telah dilakukan pemerintah, baik berupa tantangan yang harus dihadapi di lapangan, dari proses hingga penyelesaian. Padahal sebenarnya masyarakat ingin sekali mendengar cerita di belakang layar yang belum ada di media mainstream. Kebijakan, pembangunan dan segala peresmiannya, adalah bagian permukaan yang tidak terlalu menarik. Seharusnya tim komunikasi Presiden yang sering ikut dalam kunjungan atau acara kepresidenan, bisa memberikan cerita yang lebih berwarna dan kreatif.

    Atau tim komunikasi Presiden seharusnya punya goal dari serangkaian narasi yang dibangun. Belajarlah dari oposisi yang berhasil membentuk kelompok propaganda dan memiliki goal: pemerintah anti Islam dan PKI.

    Coba bandingkan dengan tim komuniksai Presiden, apa narasi dan goal mereka? tidak ada. Semua informasi hanya disebar secara formalitas ke media-media. Selesai. Masyarakatpun hanya sekedar tahu, oh di sana dibangun, oh sudah diresmikan dan seterusnya. Tak ada ikatan emosional, tak ada cerita dan catatan perjuangan. Biasa-biasa saja.

    Dan karena biasa-biasa saja inilah kemudian pihak lawan berhasil menguasai opini publik dan memainkannya untuk kepentingan politik. Berapa kali isu PKI digulirkan dan menguasai ruang media kita? Berkali-kali. Kenapa bisa seperti itu? karena memang mereka punya tim, punya formula dan strategi. Bahwa yang muncul seolah hanya satu dua orang, itu pemantik saja. Tapi dasar opini dan isu yang disebarkan, pasti melibatkan banyak orang.

    Orde baru menguasai ruang opini publik meski kalah Pilpres

    Kegagalan kelompok orde baru dalam Pilpres 2014, rupanya tak menghalangi mereka untuk berkuasa dan bersikap semaunya. Mulai dari anak pimpinan DPR yang minta jemput kedutaan, pimpinan DPR yang bertahan meski dipecat partai, sampai puncaknya adalah menakut-nakuti masyarakat dengan PKI dan memaksa masyarakat untuk menontonnya.

    Menciptakan ketakutan adalah pekerjaan paling sering dilakukan oleh rezim orde baru. 13 tahun memutar film PKI, mewajibkannya bahkan untuk anak-anak sekolahan. Mengajak masyarakat menonton film PKI bersama-sama. Dan buruknya, cara-cara seperti itu masih mereka lakukan hingga sekarang dengan pendekatan yang sedikit berbeda.

    Sekarang era demokrasi, mereka tahu bahwa televisi tidak bisa dipaksa menayangkan film PKI seperti yang dilakukan Orde Baru, jadi sekarang hanya menyebar ajakan nonton bersama atau nonton bareng. Menyebarkan pesan ajakan lewat jejaring sosial media secara terstruktur, sistematis dan massif. Menciptakan polemik agar film PKI ditayangkan atau bahkan diwajibkan. Sehingga seorang jenderal sampai masuk dalam perangkap orde baru dengan mewajibkan anak buahnya menonton.

    Cerita-cerita ini bukan rekayasa, itu jelas ada di depan mata kita. Mereka yang tidak berkuasa, gagal di Pilpres lalu, nyatanya berhasil menguasai dan mengendalikan opini publik dengan memainkan isu PKI. Ini luar biasa.

    Produk mereka berupa narasi pemerintah anti Islam, Jokowi tidak jelas orang tuanya, Jokowi takut tes DNA dengan ibunya, Jokowi anak PKI hingga kriminalisasi ulama, adalah bukti nyata bahwa mereka serius dalam bekerja. Ya meskipun kerjaannya adalah menyebar hoax dan kebencian, pada intinya mereka berhasil mencapai cita-citanya.

    Pertanyaanya, saat isu-isu itu dibentuk dan digulirkan, apa yang dilakukan oleh tim komunikasi Presiden? Konten apa yang mereka buat untuk membantah atau melawannya?

    Penangkapan terhadap pembuat fitnah, hanya akan menghentikan fitnah baru sementara waktu. Sementara fitnah yang sudah mereka buat terlanjur masuk ke masyarakat. Yang buruknya begitu dipercayai oleh sebagian orang.

    Selanjutnya, dari semua yang telah dilakukan oleh pemerintah, seperti KIP, KIS, PKH, pembangian sertifikat, pembangunan pos lintas batas negara, pembangunan daerah terpencil dan seterusnya, coba kita pikirkan apa yang paling kita ingat sekarang? jangan jangan hanya kuis dan sepeda Presiden.

    Di era sosial media yang begitu dinamis, saya melihat tim komunikasi Presiden belum mampu beradaptasi dan memanfaatkannya. Sementara pihak lawan sudah sangat kreatif dan atraktif, sekalipun konten yang mereka buat berisi konten hoax dan mengadu domba. Begitulah kura-kura.




    Penulis  :  Alifurrahman    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Isu PKI dan Lemahnya Tim Komunikasi Presiden Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top