728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 26 September 2017

    #Warta : Ilusi Kebangkitan PKI, Politik Adu Domba Amien Rais

    Sejak jagoannya hanya berhasil menduduki posisi “runner up” pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 lalu, Amien Rais tak habis-habisnya melontarkan kritik dan sindiran pedas kepada Jokowi. Bahkan pernyataan-pernyataan yang kerap dilontarkannya di berbagai media tersebut cenderung melecehkan dan menghina.

    Dalam sebuah negara demokrasi, rakyat diberi hak dan kebebasan untuk memberi kritik dan masukan membangun kepada pemerintah. Pemerintah harus pula menerima segala kritik, masukan, dan koreksi yang disampaikan oleh rakyat tersebut sebagai upaya untuk perbaikan dan peningkatkan kinerja pemerintah. Karena pemerintah tidaklah selalu benar dan sangat membutuhkan pengawasan dari rakyat.

    Tetapi ketika pendapat atau kritik yang disampaikan itu tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta yang ada, atau malah memfitnah dan melecehkan seseorang atau kelompok tertentu, hal tersebut merupakan tindakan yang mencederai demokrasi itu sendiri. Sebab berdemokrasi bukan berarti bebas-sebebasnya.

    Bebas berpendapat dengan mengesampingkan etika berpendapat itu sendiri adalah sesuatu yang berbahaya. Bebas menabrak aturan yang berlaku. Bebas berujar tanpa bukti yang jelas. Itu namanya kampungan.

    Amien Rais, mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) yang sudah sepuh tersebut, tidak sepatutnya menyampaikan ujaran-ujaran yang mengadu domba, yang malah menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Sebagai seorang politikus yang sudah sangat senior, mantan pimpinan lembaga tinggi negara, sebagai seorang “mahaguru,” Amien Rais seharusnyalah lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan.

    Akan tetapi, sosok yang turut berperan dalam melahirkan era reformasi itu, ternyata kerap menyampaikan ketidaksetujuannya atas berbagai langkah yang ditempuh pemerintah untuk mewujudkan cita-cita reformasi, yang turut dilahirkannya tersebut. Mantan Ketua MPR-RI tersebut malah berlaku seolah-olah menempatkan diri sebagai musuh reformasi.

    Semakin ke sini, Amien Rais sepertinya semakin tidak “nyambung.” Dahulu, dia begitu dikagumi oleh banyak orang atas keberaniannya berjuang bersama para tokoh reformasi lainnya menumbangkan rezim orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun tersebut. Soeharto yang begitu bengis dan menakutkan itu tidak dihiraukannya. Dia berdiri di posisi terdepan, dan dengan begitu lantangnya, dia menuntut supaya Soeharto turun dari singgasananya.

    Tetapi, Amien Rais tahun 1998 lalu, yang begitu beringas dan berapi-api menghancurkan tirani Soeharto, sepertinya sangat berbeda dengan Amien Rais yang sekarang. Amien Rais yang sekarang telah berubah menjadi Amien Rais yang nampaknya telah kehilangan “akal sehat,” Amien Rais yang pendendam, Amien Rais yang kerap “berhalusinasi,” Amien Rais yang kerap berbicara “semau gue” tanpa memikirkan apa dampak dari yang dia bicarakan tersebut.

    Amien Rais kini sepertinya sedang ilusi atau mungkin dengan “sengaja” berilusi untuk menarik perhatian banyak orang, atau mungkin untuk mengacaukan keamanan dan kenyamanan masyarakat. Dengan demikian, dia akan dengan mudah menuai hasil dari kekisruhan dan kekacauan tersebut. Dia “memancing di air keruh.”

    Amien Rais kini sedang berilusi tentang kebangkitan PKI. Sejak kekalahan calon presiden dukungannya itu, sudah tidak tahu lagi berapa kali Amien Rais berbicara tentang kemunculan kembali PKI di Indonesia. Dalam berbagai pertemuan, baik di kampus-kampus atau pun di tempat-tempat lainnya, Amien Rais tidak lupa untuk membicarakan “kekhawatirannya” tersebut: kebangkitan PKI di Indonesia.

    Menurutnya, bahwa kebangkitan PKI yang sangat terstruktur dan terorganisasi yang saat ini sedang muncul di berbagai kota di Indonesia, tidak terlepas dari campur tangan pemerintah. Dia menyebut bahwa ada beberapa pejabat yang saat ini menduduki berbagai posisi yang cukup strategis di pemerintahan menjadi motor penggerak kebangkitan PKI di Indonesia.

    Para pejabat negara tersebut, menurutnya turut memfasilitasi serta memberi ruang yang cukup terbuka serta berbagai kemudahan kepada mereka yang diduga penganut paham komunis, yang menurutnya saat ini sedang merapatkan barisan. Dia menduga bahwa pemerintah memang dengan sengaja menutup-nutupi kemunculan ideologi komunis tersebut di Indonesia.

    Kita tidak tahu entah pemerintah yang mana yang dimaksud oleh Amien Rais. Karena pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, sudah dengan begitu gamblangnya mengatakan bahwa tidak benar bahwa PKI sedang bangkit kembali di Indonesia. Bahkan Jokowi dengan tegas menyatakan, bahwa bagi siapa saja yang melihat adanya tanda-tanda kebangkitan komunisme di Indonesia supaya digebuk saja.

    Tidak hanya sekali Jokowi menyampaikan pernyataan “gebuk” tersebut. Berulang kali ia menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun ruang bagi mereka yang ingin memunculkan kembali PKI, yang keberadaannya di Indonesia telah secara tegas dilarang. Namun, jika memang ada, Jokowi secara berulang-ulang berkata, “Saat ini juga pasti digebuk.”

    Begitupun ketika pemerintah membubarkan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada bulan Juli lalu karena dianggap melanggar Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). HTI dianggap tidak setuju dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, serta tidak setuju dengan UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan ingin mengganti NKRI menjadi sebuah negara khilafah. Atas berbagai pelanggaran tersebut, HTI akhirnya dibubarkan oleh pemerintah.

    Atas sikap tegas pemerintah tersebut, Amien Rais berang. Dia menganggap bahwa pemerintah telah bertindak semena-mena terhadap keberadaan ormas di Indonesia. Dia menganggap bahwa pemerintah sudah keterlaluan atas pembubaran HTI yang menurutnya bahwa HTI hanya berbeda secara prinsip, dan menurutnya itu adalah sebuah kewajaran di sebuah negara demokrasi.

    Amien Rais bahkan menuduh bahwa pemerintah lebih memilih membubarkan HTI yang menurutnya tidak membahayakan bagi bangsa dan negara, dari pada PKI yang sudah ada di depan mata. Dia menganggap bahwa pemerintah dengan sadar telah mengembangkan paham komunis di Indonesia, yang dianggapnya telah mengakibatkan negara dalam keadaan kacau dan keliru.

    Dan pada bulan September ini, Amien Rais semakin gencar menyuarakan kebangkitan PKI tersebut. Tingkat ilusi yang sedang “diidapnya” sepertinya semakin tinggi. Seakan tidak lelah, dia terus-menerus menyuarakan tentang bahaya kemunculan kembali partai berlogo palu arit tersebut.

    Bahkan ketika seminar tentang “Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/1966” yang rencananya akan dilaksanakan di LBH Jakarta, pada Sabtu 16 September lalu yang berakhir dengan kericuhan tersebut, Amien Rais menjadi orang yang sangat keras menentangnya. Dia menganggap bahwa pelaksanaan seminar tersebut merupakan salah satu upaya untuk membangkitkan kembali PKI.

    Saya bukan dalam posisi membela atau tidak terhadap pelaksanaan seminar tersebut. Namun, sedikit agak aneh memang, ketika ada sekumpulan anak muda, dengan cara mereka sendiri, berupaya untuk meluruskan sejarah G 30S yang hingga kini masih penuh dengan misteri itu, dibubarkan paksa hanya karena alasan yang kurang masuk akal: kebangkitan kembali komunisme.

    Apakah upaya pelurusan sejarah G 30S dianggap sebagai upaya menghidupkan kembali PKI yang sudah lama terkubur di negeri ini? Terlalun naif rasanya.

    Pun terhadap pemuataran film G 30S/PKI yang pada tahun ini kembali digalakkan setelah berpuluh tahun tidak diputar, Amien Rais juga sepertinya agak sedikit “lebay” menanggapinya. Pemutaran film yang menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat tersebut, mendapat dukungan penuh dari Amien Rais. Bahkan dia menyebut bahwa bagi siapa saja yang tidak setuju terhadap pemutaran film tersebut adalah seorang PKI.

    Sungguh sebuah cara menyimpulkan yang sangat cetek dan terkesan barbar. Seseorang pasti mempunyai alasan untuk tidak menonton film tersebut. Seseorang juga pasti mempunyai alasan untuk menonton film yang digarap tahun 1984 tersebut. Rakyat diberi kebebasan untuk memilih, tanpa saling mencurigai antara yang menonton dan yang tidak. Karena kita hidup di alam demokrasi.

    Wacana Presiden Jokowi untuk memproduksi kembali film Pengkhianatan G 30S/PKI yang lebih kekinian, oleh Amien Rais dicurigai sebagai upaya terselubung pemerintah membangkitkan kembali PKI. Dia menganggap bahwa pembuatan kembali film tersebut adalah sebuah tindakan berbahaya yang hanya akan memberikan angin segar terhadap kemunculan kembali PKI.

    Dan puncak dari segala ilusi Amien Rais adalah akan dilaksanakannya “Aksi 299” pada 29 September nanti. Acara ini bertujuan untuk menolak Perppu Ormas dan kebangkitan PKI. Amien Rais yang merupakan Pembina Presidium Alumni 212 tersebut, turut diundang sebagai tamu kehormatan. Amien Rais akan didaulat untuk menyampaikan orasi pada aksi “tiga angka” tersebut.

    Sejak aksi bertajuk tiga angka tersebut digelar untuk pertama kalinya tahun 2016 lalu, mulai dari aksi 411, 212, 313, 505, hingga 169 pada tanggal 16 September lalu, Amien Rais konsisten untuk hadir. Dan menurut panitia aksi, bahwa Amien Rais akan hadir pada Aksi 299 nanti. Dia akan hadir untuk menyampaikan berbagai keresahannya, ilusinya, dan petuah-petuah kepada seluruh peserta aksi.

    Oh, Amien Rais. Berhentilah berilusi. Berhentilah menyampaikan ujaran kebencian. Berhentilah mengadu domba. Rakyat sudah pintar. Rakyat sudah tidak lagi mudah dibodohi. Berhentilah menyebut bahwa PKI sedang bangkit. Sekali lagi, itu hanya ilusi belaka. Tidak ada tempat bagi PKI di negeri ini. Percayalah!



    Penulis :   Hermanto Purba    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Ilusi Kebangkitan PKI, Politik Adu Domba Amien Rais Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top