728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 23 September 2017

    #Warta : Gerindra Blunder: 1 Jari Prabowo Menujuk ke Jokowi, Tetapi 3 Jari yang Terlipat Menunjuk Arah Dirinya Sendiri

    Pepetah lama mengajarkan kita bahwa mulutmu harimaumu, seharusnya itu perlu untuk ditimbang oleh Prabowo, tetapi semua itu terlambat sudah dan telah berlalu. Ucapan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat berorasi dalam Aksi Bela Rohingya 169 di depan Patung Kuda, Sabtu, 16 September 2017  lalu, mendapat kritik dari berbagai pihak. Mereka meminta Prabowo tidak menjadikan Rohingnya sebagai alat politik.

    Sontak ucapan tersebut ramai jadi perbincangan akar rumput sampai petinggi partai politik, Sekjen Golkar yang juga mantan aktivis PMII Idrus Marham mengaku geram dengan pernyataan Prabowo tersebut bahkan ia menilai bahwa kritik  prabowo tidak pada tempatnya. Tak sampai disitu, Idrus juga heran dengan sikap Prabowo yang justru terkesan hanya berbicara, bahkan ia berharap agar Prabowo seharusnya meniru gebrakan Jokowi dalam persoalan Rohingya.

    Kritik yang sama juga datang dari Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Johnny G Plate, menilai langkah pemerintah untuk membantu Rohingya itu bukanlah pencitraan. Justru, dia menilai Prabowo memanfaatkan krisis Rohingya sebagai alat berpolitik.

    Dua pesawat Hercules C-130 dan A 1316 sudah diterbangkan dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta. Dua pesawat itu membawa bantuan kemanusiaan Indonesia untuk para pengungsi di Rakhine, Myanmar. Hal tersebut sudah menjadi bukti bahwa Jokowi tak main-main dengan persoalan Rohingya yang justru main-main adalah orasi dan aksi yang tak jelas efeknya.

    Mungkin mereka menutup mata dengan bantuan kemanusiaan yang diberikan berupa makanan tambahan untuk balita dan ibu hamil, paket makanan siap saji, tenda, selimut, tangki air serta kain sarung.

    Tak hanya itu, Pemerintah Indonesia melihat bahwa ancaman berbagai penyakit bisa saja datang kapan saja pada pengungsi Rohingya sehingga  Kementerian Kesehatan memberikan bantuan berupa satu ton paket obat-obatan untuk para pengungsi. Tercatat pada  18 September 2017, total bantuan kemanusiaan sebesar 74 ton telah tiba di Bandara Internasional Shah Amanat, Bangladesh. Sementara pihak lain asik nyinyir sana-sini memanfaatkan persoalan kemanusiaan untuk kepentingan politik busuk.

    Pasukan politik Prabowo mulai panik, lihat saja bagaimana Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria hingga Andre Rosiade mulai membuat benteng pertahanan diberbagai media dengan menepis fakta dari orasi kemanusian tetapi berbau politik tersebut.

    Ahmad Riza mengatakan sang Ketua Umum Prabowo Subianto tak bermaksud menyerang pemerintah dengan memolitisasi isu Rohingya. Nah, disini yang ingin saya pertanyakan apa maksud Prabowo dengan ucapan yang tak masuk akal tersebut. Justru sikap petinggi partai Gerindra ini menandakan mereka blunder dan panik sebab masyarakat tentu paham tindakan apa yang sudah dilakukan pemerintah terkait Rohingya.

    Sudahlah Pak Ahmad Riza, terlepas dari pencitraan atau tidak tak usalah munafik, justru yang teriak ‘pencitraan’ itu justru sedangan menciptakan ‘pencitraan’ itu sendiri, intinya  orang yang suka teriak ‘pencitraan’ itu lupa, pura-pura lupa, atau memang sudah payah nalarnya, mereka bisa saja tak sadar bahwa kecenderungan melakukan profiling atau pencitraan adalah watak dasar manusia, sehingga saya yang rakyat jelata hingga Prabowo politikus papan atas bahkan Jokowi,kita semua punya potensi untuk melakukan pencitraan.

    Saya terkadang berpikir kenapa tidak sekalian mereka mengatakan bahwa bantuan makanan tambahan untuk balita dan ibu hamil, paket makanan siap saji, tenda, selimut, tangki air serta kain sarung itu semua agar warga Rohingya memilih Jokowi jadi Presiden untuk proide depan.

    Jika Jokwi pencitraan maka Jokowi adalah Presiden pencitraan yang bermanfaat ketimbang sekadar teriak sana-sini entah efeknya apa, kalau hanya teriak semua bisa Pak, adik saya bahkan tetangga saya pun bisa teriak ‘bela Rohingya’,  apabila Pak Prabowo hendak memberikan masukan alangkah  etisnya dan elegannya jika Pak Prabowo mikir terlebih dahulu tempatnya dimana dan apakah tepat masukan atau kritikan itu jangan sampai malah terkesan menunjuk orang lain maka jari telunjuknya menghadap ke orang ditunjuk sementara jari jempolnya mengarah pada diri sendiri.
    Anehnya lagi Andre Rosiade yang masih saja berkoar-koar di media, bahkan hari ini tak sengaja saya membaca berita di Kompas .com Rosiade masih saja menganngkat isu ucapan tersebut tidak ada hubungan sama pemerintah dan ucapan Prabowo dianggap disalahpahami, loh lalu yang dimaksud pencitraan itu siapa?Anak SD juga paham janganlah gunakan logika dan paradigma beda terjemahan emangnya situ punya defenisi sendiri soal pencitraan.
    Memang benar bahwa menyalahkan orang sangat mudah dilakukan dari pada mengoreksi dan mengintropeksi diri sendiri, soal Rohingya seharusnya Prabowo belajar dari Jokowi sebab satu jari Pak Prabowo menunjuk ke Jokowi “pencitraan” tetapi tiga jari yang terlipat diam-diam menunjuk ke arah Pak Prabowo sendiri.




    Penulis :  Adira Andriani   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Gerindra Blunder: 1 Jari Prabowo Menujuk ke Jokowi, Tetapi 3 Jari yang Terlipat Menunjuk Arah Dirinya Sendiri Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top