728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 21 September 2017

    #Warta : Elektalibitas PBB Bertahan di Posisi Terbawah, Kemana Aja Yusril?

    Baru-baru  ini Centre for Strategic And International Studies atau yang disingkat CSIS merilis hasil survey mengenai elektabilitas partai. Lembaga penelitian yang bermarkas di Jakarta tersebut melakukan survey yang dimulai pada tanggal 20-30 Agustus 2017.

    Penelitian ini tidak kurang melibatkan 1.000 responden yang diambil secara acak dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Dan tentunya yang menjadi responden adalah masyarakat yang punya hak pilih.

    Hasil survey menunjukkan, partai dengan tingkat elektabilitas tertinggi diraih oleh PDI Perjuangan yaitu mencapai angka 35,1%. Elektabilitas PDI juga terus menanjak setiap tahunnya, sejak tahun 2014, walau tidak terlalu signifikan. Sebanding dengan elektabilitas presiden Jokowi yang juga terus meningkat.

    Kemudian di posisi ke-2 diduduki oleh partainya Yansen Binti tersangka pembakar sekolah yaitu partai Gerindra. Gerindra berhasil menyalip Golkar (di posisi ke-3) yang pada Pemilu 2014 perolehan suaranya di posisi ke dua.

    Memang partai Golkar saat ini sedang ditimpa banyak prahara. Ketuanya Setya Novanto terlibat kasus korupsi e-KTP dan telah ditetapkan tersangka oleh KPK. Menyandang status tersangka tidak menyurutkan niat Setnov untuk mengundurkan diri. Sehingga image yang terbangun di masyarakat, Golkar adalah partai ketuanya kuroptor. Hal ini yang kemudian membuat masyarakat pindah ke lain hati.

    Selanjutnya disusul berturut-turut oleh Partai Demokrat, PKB, NasDem, PKS, PPP, Perindo kemudian Partai Idaman. Partai yang memiliki tingkat elektabilitas paling rendah atau buncit adalah partai yang dipimpin Yusril Ihza Mahendra yaitu Partai Bulan Bintang, dengan persentase 0,3%.

    Partai Idaman saja yang baru bediri dan citra ketua umumnya (Rhoma Irama) tidak terlalu baik; anaknya pecandu narkoba, terlibat kampanye SARA dan poligami mampu menyalip PBB. Ada apa dengan PBB?

    Melihat dari perjalanannya, PBB mewarnai perpolitikan Indonesia sudah cukup panjang. Partai yang berasaskan Islam ini berdiri pada 17 Juli 1998 atau tepatnya satu bulan sebelum perayaan HUT RI 1998. Sekarang tahun 2017 berarti PBB sudah berusia 19 tahun, sweet nineteen.

    Partai besutan Yusril ini juga telah mengikuti beberapa kali Pemilu yaitu Pemilu 1999, 2004, 2009 dan 2014. Pada Pemilu 1999 PBB berhasil memperoleh 13 kuris di DPR-RI. Kemudian di Pemilu 2004 PBB meraih 11 kursi di DPR. Pada Pemilu 2009 PBB tidak berhasil meraih kursi di DPR karena  memperoleh suara 1,7% atau dibawah ketentuan parliamentary threshold 2,5%. Begitu juga dengan Pemilu di 2014.  Sudah 2 kali Pemilu tidak ada perwakilan dari PBB di parlemen.

    Di Pemilu 2019 mendatang diprediksi nasib PBB akan sama naasnya dengan Pemilu 2009 dan 2014 karena sudah terlihat dari hasil survey CSIS yang tidak lebih unggul dari elektabilitas partai Bang Haji Oma.

    Tinggi rendahnya tingkat elektabilitas partai sangat bergantung pada pimpinan partai. Kalau ketua partai serius mengurus dan memperhatikan partainya tentu tidak akan berada di posisi buncit. Tapi, kalau ketua partai lebih sibuk ngurusi lembaga lain dari pada partainya sendiri jangan harap partai tersebut akan berkembang. Bisa jadi tidak sampai Pemilu 2019 PBB bubar jalan atau tinggal kenangan.

    Porsi ketua PBB (Yusril) mengurusi urusan lain ketimbang partai mungkin 90 berbanding 10. 90 persen ngurusi urusan lain dan cari duit 10 persen ngurusi PBB. Wajar bila kemudian simpatisan PBB pindah haluan ke partai Idaman  yang lebih muda dan fresh walaupun ketuanya tidak lagi fresh.

    Yusril terlalu sibuk membela HTI dari pada membenahi internal PBB. Sebenarnya HTI dan PBB sama, sama-sama organisasi. Namun PBB lebih Pancasilais dari HTI. HTI secara terang-terangan menolak demokrasi dan Pancasila serta ingin membubarkan negara Indonesia dengan menegakkan khilafah. Mungkin karena inilah Yusril membela HTI?

    Seharusnya kader PBB cemburu dengan Yusril karena lebih perhatian kepada organisasi lain dari pada partainya sendiri. Yusril seperti pria yang sudah beristri tapi lebih perhatian kepada istri tetangga. Sangat disayangkan tidak terlihat ada kader PBB yang protes. Adem-adem saja.

    Dan masih banyak lagi kesibukan Yusril yang lain, diantaranya menggugat UU Pemilu, menolak Perpu Ormas dan jadi ahli dalam pembahasan hak angket KPK.  Oh Yusril elektabilitasmu memang tinggi karena sering melakukan pembelaan hukum dan sering muncul di TV, namun tidak dengan PBB. Apakah HTI dan money lebih penting dari pada PBB? Hanya Yusril yang tahu jawabannya.

    Sekian!



    Penulis  :  Fery Padli   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Elektalibitas PBB Bertahan di Posisi Terbawah, Kemana Aja Yusril? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top