728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 30 September 2017

    #Warta : (Dongeng) Papa Sinterklaas dan Si Pemberantas Korupsi

    Beberapa jam terakhir ini, banyak broadcast berisi “29 September 2017 ditetapkan sebagai hari kesaktian Papa.” Tentu saja ini hanya bercanda, meskipun sedikit ada benarnya. Hehe

    Seperti yang kita ketahui bersama, Papa tersandung kasus baru, yakni korupsi. Namun seperti yang sudah saya prediksi sebelumnya, Papa akan kembali lolos dari status tersangkanya. Dan ya, terbukti kemarin sudah ditetapkan kemenangan Papa dalam sidang praperadilan.

    Sebenarnya, bukan hanya sekarang saja si pemberantas korupsi itu kalah dalam prapreadilan. Dulu saat ada calon Kapolri yang diajukan ke DPR, pernah tiba-tiba dijadikan tersangka oleh si pemberantas korupsi. Di dalam prapreadilan, calon Kapolri tersebut menang dan status tersangka nya dinyatakan tidak sah.

    Banyak orang beropini membela si pemberantas korupsi layaknya malaikat yang terlepas dari dosa dan salah. Namun kenyataannya sama-sama kita ketahui, sang pimpinan pemberantas korupsi ternyata punya dendam pribadi. Dendam karena dirinya batal jadi Cawapres, digagalkan oleh informasi intelijen dan internal partai perjuangan. Sehingga sang pimpinan melakukan sebuah manuver politik, mempertaruhkan demokrasi dan keutuhan NKRI. Karena jika Presiden Indonesia salah dalam ambil keputusan, negara kita mungkin sudah punya Presiden baru saat ini.

    Lalu apa yang bisa dilakukan oleh si pemberantas korupsi kepada orang yang telah dijadikan tersangka dan namanya terlanjur buruk? Tidak ada. Si calon Kapolri itu akhirnya gagal jadi Kapolri meskipun status tersangkanya sudah tidak sah. Bahkan, sampai sekarang banyak orang menganggap dia koruptor, atau minimal dinilai negatif.

    Memang kita tidak akan pernah benar-benar tahu apakah mereka bersalah atau tidak, tapi jika melihat alasan dendam pribadi sang pimpinan pemberantas korupsi terhadap partai perjuangan, setidaknya ini bisa jadi alasan untuk menilai bahwa mereka bukan malaikat. Mereka sama-sama manusia dengan segala kepentingan dan nafsunya.

    Meskipun sama-sama menang di praperadilan, tentu saja kasus si Calon Kapolri dan Papa adalah dua skenario yang berbeda. Jika dalam kasus si Calon Kapolri itu terdapat unsur dendam pribadi, sebaliknya dalam kasus Papa saya dengar ada unsur telah dibayar. Meskipun tentu saja sebagian masyarakat kita tak akan pernah percaya dengan hal itu. Sebab si pemberantas korupsi dinilai suci dan bebas dari kepentingan atau nafsu duniawi. Hehe

    Anggap saja ini dongeng untuk kita-kita para penggemar kura-kura, tak perlu dianggap serius…

    Di dalam percaturan politik tanah air, Papa dikenal sebagai Sinterklaas. Papa selalu berhasil membuat semua orang bahagia dengan kado-kadonya. Sehingga tidak ada yang bisa membenci Papa, sekalipun beda pandangan politik dan agama. Inilah kenapa Papa yang sempat tersandung kasus MintaSaham dan mundur dari kursi pimpinan padepokan kura-kura, hanya dalam beberapa bulan bisa kembali diterima sebagai pimpinan tanpa ada sedikitpun protes dari 575 anggota di dalamnya.

    Papa selalu bisa diterima oleh lawan atau kawannya, sebab Papa selalu punya kado untuk siapapun.

    Suatu hari Papa terkena kasus korupsi. Namanya diberitakan di banyak media nasional. Melihat ada kemungkinan Papa benar-benar tersandung kasus dan mengakhiri karir politiknya, maka dilakukanlah ritual bagi-bagi kado untuk semuanya tanpa terkecuali. Papa belajar dari kasus MintaSaham yang terlanjur offside karena rekaman pembicaraannya dibuka ke publik. Tentu saja Papa tak mau hal seperti ini terulang lagi dan publik menilai Papa negatif.

    Setelah Papa keliling dengan kado sinterklaas nya, rupanya si pemberantas korupsi malah menetapkannya sebagai tersangka. Papa yang masih lelah jalan-jalan sontak murka. Kemarahannya menjadi-jadi ketika yang mendorong status tersangka terhadapnya adalah orang yang baru saja diberi kado paling istimewa, VVIP dan berkomitmen aman damai.

    Orang bilang, Papa tak pernah semarah itu kepada orang lain. Dan karena sudah lepas kendali, maka disiramlah penerima kado VVIP tersebut dengan air kobokan. “Nggak tahu diri, di depan bilang iya-iya, terima kado mau, tapi tetap jadiin gue tersangka, juangkrek!” begitulah kira-kira kata Papa.

    Si penerima kado itupun hanya bisa pasang tampang melas dan didzolimi, memainkan berita-berita sentimen agama. Silahkan saja googling, dengan keyword simbol agama seperti masjid, mengaji atau bermanfaat, pasti langsung muncul beberapa beritanya. Si penerima kado itu memposisikan dirinya didzolimi, dianiaya, sambil menyebut bahwa dirinya tahu dalang dari penyerangan terhadap dirinya.

    Publik pun ikut terbawa suasana dan memberi dukungan lewat petisi atau aksi. Sebagian memaklumi kenapa dalang atau nama-nama yang dirahasiakan tersebut tidak diungkap ke publik, karena nanti bisa mati atau diserang lagi. Tapi saya hanya diam saja melihat semua drama yang coba dipaksakan oleh masing-masing pelakon. Sempat juga bergumam “ya tahulah, wong anunya anu. Dan dianya juga anu. Ya anu lah…”

    Di lain cerita, Papa kemudian sadar bahwa kemarahannya tidak akan ada gunanya. Yang harus dia lakukan adalah membuat skenario penyelesaian manis seperti kasus MintaSaham. Sehingga orang-orang bisa kembali menerimanya sebagai Papa yang terhormat.

    Skenarionya pun sukses. Kemarin, secara resmi Papa terbebas dari status tersangka, sehingga masker oksigen bisa langsung dilepas dan kembali jalan-jalan membawa kado Sinterklaas. Sedikit lagi media akan lupa tentang kasusnya. Dianggap selesai, final dan mengikat seperti saat Papa terbebas dari kasus MintaSaham. Haha

    Catatan: bagaimanapun ini hanya dongeng. Jika ada kemiripan tokoh, itu hanya kebetulan yang tidak terstruktur.
    Begitulah kura-kura.




    Penulis  :  Alifurrahman   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : (Dongeng) Papa Sinterklaas dan Si Pemberantas Korupsi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top