728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 28 September 2017

    #Warta : Dedi Mulyadi Dimintai Mahar Politik Sebanyak 10 Miliar, Skak Mat untuk Zulkifli Hasan!

    Baiklah saya akan menuliskannya untuk Anda!
    Mungkin pembaca ada yang bingung. Mengapa saya mengaitkan ‘ditodongnya’ Dedi Mulyadi dengan Zulkifli Hasan? Nah supaya pembaca bisa memahami alurnya dengan nyaman, silahkan terlebih dahulu anda baca tulisan saya sebelumnya di sini

    Jika sudah, mari kita lanjutkan!

    Dedi Mulyadi, bakal cagub Jawa Barat menyampaikan pengakuan yang mengejutkan. Ia menceritakan bahwa ada seseorang yang menelepon dan mengatakan bahwa ia harus memberikan mahar sebesar 10 Miliar Rupiah agar bisa mendapatkan surat rekomendasi penunjukan sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat dari DPP Partai Golkar. Sungguh gila!

    Hal itu disampaikan oleh Kang Dedi -sapaan akrab Dedi Mulyadi- saat berorasi di kantor DPD Partai Golkar, Jalan Maskumambang, Kota Bandung, Selasa, 26/9/2017 (kompas .com)“
    “Kita menapaki proses konsolidasi politik. Rapat di DPP Kita ikuti. Dari pertama sampai diputuskan (rekomendasi) 1 Agustus 2017, habis itu hilang. Saya sabar. Di tengah-tengah itu saya secara pribadi mengalami kegelisahan karena seringkali ada orang telepon. ‘Pak Dedi siap kan? Kalau enggak tidak akan keluar rekomendasinya’,” ucap Kang Dedi menirukan ucapan si penelepon, Selasa sore.
    “Dengan tegas dia katakan kalau Anda tidak kasih Rp 10 miliar, jangan menyesal Anda tidak dapatkan apa-apa. Saya katakan tidak apa-apa, besok saya tidak jadi apa-apa juga enggak apa-apa,” imbuh Kang Dedi.
    Meskipun demikian, Kang Dedi mengatakan bahwa penelepon bukan berasal dari partai Golkar. Hanya tokoh biasa dari Bogor yang mengaku dekat dengan partai berlambang beringin ini. Tapi bagaimanapun, mensyaratkan mahar sebesar 10 Miliar untuk sebuah surat rekomendasi pengusungan adalah praktik kotor dari seorang politisi.

    Saya sangat mengapresiasi jawaban Kang Dedi kepada penelepon tersebut. Terlihat ia sangat tidak menyukai praktik politik transaksional yang selama ini menjadi salah satu penyebab banyaknya pejabat terkena kasus korupsi. Saya sudah menyinggung mengenai hal ini dalam tulisan yang saya sebutkan di atas.

    Sejauh ini partai Golkar dengan tegas membantah bahwa tidak ada mekanisme seperti itu dalam internal partai. Namun namanya dunia politik itu nyaris tidak ada hal yang tidak mungkin. Bisa saja orang yang menelepon Kang Dedi adalah oknum ‘suruhan’ pihak partai. Untung yang ‘ditodong’ adalah tokoh sekelas Kang Dedi. Bukan mengiyakan begitu saja -dengan tujuan agar bisa diusung partainya dengan cara apa pun-, tapi ia malah menolak mentah-mentah bahkan membocorkan ‘penodongan’ tersebut ke publik.

    Sungguh sebuah keberanian yang luar biasa! Selain itu, hal ini menjadikan kita semua benar-benar bisa melihat bahwa selama ini berlaku yang namanya praktik politik transaksional. Itulah kenapa begitu banyak pejabat yang terjaring OTT KPK karena kasus korupsi. Sebab dengan mahar politik sebanyak itu, maka seorang yang berhasil menduduki sebuah jabatan akan berusaha mengembalikan modal yang dikeluarkan selama proses pencalonan dan kampanye. Dan ini dilakukan dengan cara merampok uang dari kantong-kantong milik negara.

    Belum lagi jika uang yang dipakai untuk mahar dan sebagainya adalah uang dari hasil pinjaman. Maka pejabat tersebut akan berusaha garong sana garong sini untuk bisa membayar hutangnya, entah gimana caranya! Kecuali ia adalah seseorang yang cukup kaya untuk membiayai proses pencalonan, maka ia tidak akan terlalu fokus memikirkan bagaimana caranya supaya bisa balik modal. Itupun dengan catatan orang tersebut memiliki jiwa pengabdian yang sangat tinggi, jika tidak ya sama saja. Yang ada di otaknya cuma uang!

    Skak mat buat Zulkifli Hasan!! Dari satu contoh kisah Kang Dedi ini saja sudah jelas, bahwa banyaknya pejabat yang kena OTT KPK disebabkan karena karakter dan moral mereka. Bukan karena kesalahan dalam sistem penyelenggaraan Pilkada. Jadi jika Zulkifli Hasan mengatakan harus ada kajian atau pembenahan dalam sistem Pilkada, maka ia telah salah besar. Ia benar-benar harus ngopi!

    Berkaca dari kasus penodongan Kang Dedi ini, saya yakin begitu banyak oknum atau partai yang menjadikan budaya ‘wani piro?’ sebagai praktik yang selalu diterapkan dalam proses penjaringan calon yang mereka usung. Hanya saja mereka masih menerima nasib baik, tidak sampai terangkat ke permukaan. Saya bisa mengatakan hal ini karena melihat banyaknya pejabat yang terjaring OTT KPK. Juga banyaknya kasus caleg atau calon kepala daerah yang gagal terpilih dan akhirnya mengalami gangguan jiwa. Penyebabnya sama, tak bisa balik modal atas mahar politik yang terlalu tinggi itu.

    Sepertinya kita harus sepakat dengan cara yang sudah pernah diterapkan oleh mantan Gubernur Ahok. Karena elektabilitas yang tinggi ia tidak perlu mengeluarkan dana kampanye dari uang pribadinya. Ia justru memperolehnya dari sumbangan para pendukung dan relawannya. Sehingga satu-satunya cara untuk ‘balas budi’ kepada ‘para donaturnya’ adalah dengan cara menjalankan tugas jabatannya dengan penuh amanah dan tanggungjawab.

    Tak perlu nggarong, karena donatur tak meminta imbalan apa-apa kecuali menginginkan dipimpin oleh pelayan rakyat yang benar-benar bekerja demi kemajuan daerahnya. Sayang sekali orang seperti Ahok harus dimusuhi dan dikirim penjara karena kasus (yang katanya) penistaan.

    Terlepas dari apa motif oknum yang menodong Kang Dedi, namun dengan menolak memenuhi permintaan penodong, Kang Dedi telah menunjukkan kualitas seorang pelayan rakyat yang dibutuhkan oleh Jawa Barat. Kita berharap semoga Kang Dedi tidak mengalami nasib ‘diahokkan’ juga. Karena selama ini kaum bani angka terlihat melakukan penyerangan terhadap Kang Dedi dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan terhadap mantan gubernur Jakarta itu.

    Terima kasih, salam PBNU!





    Penulis   :    Taufiq Al Blitari    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Dedi Mulyadi Dimintai Mahar Politik Sebanyak 10 Miliar, Skak Mat untuk Zulkifli Hasan! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top