728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 26 September 2017

    #Warta : Berniat Berbagi Pengalaman, Kader Gerindra Ini Malah Mempermalukan Dirinya

    Baiklah saya akan menuliskannya untuk anda!
    Slovakia baru-baru ini menjadi destinasi kunjungan kerja dari para anggota dewan yang terhormat, DPR RI. Menurut berita yang saya kutip di sini, ada banyak hal yang dibicarakan antara Delegasi Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI dengan Parlemen Slovakia. Diantaranya adalah tentang sistem parlemen dan bagaimana peran parlemen dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan kehidupan berbangsa dan bernegara bisa berjalan lancar dan informatif.

    Dalam pertemuan tersebut, Ketua Delegasi GKSB DPRI RI – Slovakia Sri Meliyana, juga sempat “berbagi pengalaman” tentang kehidupan antar umat beragama serta hubungan antara mayoritas dan minoritas di Indonesia. Yang mana kondusifnya kedua hal ini merupakan syarat mutlak yang diperlukan dalam upaya menjaga keutuhan dan kedaulatan suatu negara. Terutama negara seperti Indonesia yang multi suku, agama, ras dan golongan.

        “Mayoritas umat Islam di Indonesia melindungi minoritas. Toleransi antar umat beragama di Indonesia pun berjalan dengan sangat baik sehingga menjaga persatuan dan kesatuan di Indonesia,” ucap Sri Meliyana.

    Terus terang saya mengapresiasi sikap Politisi Gerindra asal dapil Sumatera Selatan itu yang mau berbagi cerita tentang kondisi di Indonesia kepada Parlemen negara lain. Dengan begitu, Pemerintah Slovakia akan merasa “tenang” menjalin kerjasama dengan Indonesia mengingat kondisinya seperti cerita Meli, panggilan akrab Sri Meliyana. Pada gilirannya Pemerintah Slovakia akan mendorong investornya untuk menyerbu Indonesia, tentu ini hal yang sangat baik.

    Tapi sayang sekali, Meli tidak berterus terang dengan situasi sebenarnya yang ada di dalam negeri. Saya tak tahu dimana ia menjalani kehidupan sehari-harinya, hingga ia lupa atau sengaja melupakan kondisi iklim demokrasi di Indonesi. Atau mungkin Meli memang tak tahu atau pura-pura tidak tahu, saya juga tak mengerti.

    Memang benar sekali, mayoritas umat Islam di Indonesia melindungi minoritas. Namun satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah adanya kelompok minoritas (yang mengatasnamakan) Islam yang justru selalu membuat kekacauan dan juga melakukan intimidasi terhadap kelompok lain. Tindakan mereka berakibat pada timbulnya citra negatif umat/kelompok minoritas terhadap Islam. Bahkan lebih parah, muncul pandangan bahwa mentang-mentang mayoritas, Islam itu suka menindas kaum minoritas (terutama non muslim).Sungguh saya merasa malu menyaksikan kelakuan saudara-saudara muslim saya itu!

    Kita tentu masih ingat bagaimana demo berjilid-jilid dengan peserta yang (katanya) mencapai 7 juta orang di salah satu serialnya. Jika dihitung, jumlah sebanyak itu -asalkan klaim itu valid- hanyalah sebagian kecil dari mayoritas umat Islam di Indonesia. Namun dengan diiringi pekik takbir, mereka mengaku mewakili umat Islam. Ironinya hal itu disertai dengan tindak anarkis, intimidasi, ancaman lengserkan Jokowi hingga teriak gantung, bunuh dan seterusnya.

    Kemudian ancaman tidak disholati jenazahnya jika tak mau mendukung salah satu paslon, belum lagi khothbah provokatif oleh ngustad sumbu pendek dan pengusiran Gubernur Djarot yang sama-sama muslim dari sebuah Masjid. Juga adanya pembakaran Gereja, sabotase patung, sampai yang terakhir adalah pembubaran sekolah kebaktian oleh pelaku yang membawa gergaji. Seperti inikah yang dinamakan toleransi?

    Itu semua hanyalah sebagian kecil dari tindakan bar-bar dari para cecunguk penjahat demokrasi dan perusak toleransi di Indonesia. Dan pelakunya adalah kelompok minoritas Islam -lebih tepatnya kaum bani angka yang mengatasnamakan Islam. Belum lagi tidak jelasnya tingkah laku para anggota dewan raja nyinyir yang sepak terjangnya jauh dari upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan mengatasnamakan suara rakyat, mereka juga selalu mengkritisi secara membabi buta apapun yang dilakukan Pemerintah.

    Bu Dewan yang (seharusnya) terhormat, kenapa hal ini tidak anda ceritakan secara jujur di hadapan parlemen Slovakia? Ini fakta yang tak bisa dibantah lho. Namanya berbagi pengalaman itu haruslah yang sesuai fakta Bu. Bukan hanya menceritakan satu sisi saja. Ibarat sekeping uang koin, mayoritas umat Islam melindungi minoritas adalah satu sisi. Sedangkan kelakuan bani angka yang bar-bar itu adalah sisi lain yang tak bisa dipisahkan. Biar informatif kan harusnya disampaikan secara utuh.

    Oh saya tahu, Meli tidak menceritakan secara keseluruhan karena kebetulan bani angka ini berafiliasi dengan partai yang menaunginya. Jadi ia tak mau mengambil resiko “ditamp*r” oleh junjungannya. Ya kalau mau cari aman, tak usah bahas hal itu tapi diskusikan aja hal lain. Kan masih banyak tuh, bisa soal kuda, sapi, kerbau dan lain-lain. Iya tho?? Daripada begini, beraninya setengah-setengah aja pakek dibawa ke Slovakia segala. Malu sendiri kan jadinya?!

    Namun tak diceritakan pun semua tahu, bahwa polemik dan kericuhan di Indonesia akhir-akhir ini bukan berasal dari kelompok mayoritas yang menindas minoritas. Semuanya justru datang dari para minoritas kurang piknik yang kagetan dan menggunakan segala cara untuk meraih ambisi busuknya.

    Entahlah seperti apa sistem kaderisasi yang dipakai di Partai besutan Pak Capres yang selalu gagal ini. Fakta yang kita lihat, kader-kader dan pendukungnya banyak yang nyleneh. Mereka selalu saja menampilkan dagelan-dagelan yang tak ada lucunya sama sekali. Atau mungkin karena pengaruh pemimpin partainya ya? Pemimpin yang tak bisa membedakan antara pencitraan dan kerja nyata.
    Terima kasih, salam PBNU!



    Penulis  : Taufiq Al Blitari   Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Berniat Berbagi Pengalaman, Kader Gerindra Ini Malah Mempermalukan Dirinya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top