728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 16 September 2017

    #Warta : Arab Saudi Tangkapi Imam-imam yang Dianggap Membangkang: Bisakah Nitip Nangkep Imam Caboel?

    Situs Kompas .com menurunkan berita pada Kamis, 14/09/2017 bahwa aparat Arab Saudi telah menangkap lebih dari 20 imam dan kaum intelektual. Mereka ditangkap dalam suatu langkah keras menindak pembangkangan. Membangkang menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) berarti mendurhaka, tidak menurut perintah, menyanggah atau menentang.

    Perlu dicatat bahwa istilah pembangkangan di Arab Saudi dan Indonesia berbeda penafsiran. Di Arab sana, namanya unjuk rasa saja sudah sah dan layak untuk ditahan. Kalau di Indonesia demo anarkhis, teriakan bengis, yang penting baju gamis masih layak nangis untuk mengemis kebebasan. Beda cerita dengan dengan Arab Saudi.

    Simak saja kisah Habib super caboel Rizieq Shihab. Dia aman di Arab Saudi karena tidak pimpin unjuk rasa alias demo. Dia juga tidak menonjolkan keberanian take a beer di Tanah Suci. Foto-foto yang beredar lebih memamerkan pertemuannya dengan politisi-politisi bertitik-titik dari tanah air, semisal Amien Rais dan Fadli Zon. Menurut berita yang beredar, dia pun sedang menjalankan ibadah umrah berkelanjutan seturut teladan SBY waktu jadi presiden, sehingga aman. Soalnya kalau berani demo pastilah ditangkap di Arab sana. Mengingat namanya di Arab, demo atau unjuk rasa bisa berkategori tindakan haram.

    Tidak mengherankan kalau imam terkemuka di Saudi, Salman al-Odah dan Awad al-Qarni termasuk di antara mereka yang dilaporkan ditahan sejak akhir pekan lalu. Sekalipun, dari laman Kompas.com diberitahukan kalau sejauh ini belum ada konfirmasi dari pihak berwenang mengenai kabar tersebut.

    Namun pada Selasa lalu (12/09/2017) media pemerintah mengatakan sekelompok orang yang bertindak atas nama pihak asing yang menentang keamanan kerajaan, ditahan. Sayang bahwa identitas individu-individu itu tidak diungkapkan. Namun demikian sebuah sumber mengatakan, mereka dituduh melakukan aktivitas spionase, dan berhubungan dengan entitas asing, termasuk Ikhwanul Muslimin.

    Ikhwanul Muslimin adalah sebuah gerakan Islam yang dianggap organisasi teroris oleh Arab Saudi. Gerakan yang menjadi pusat perselisihan antara kerajaan dan negara tetangga Qatar. Kalau di Indonesia, berbeda ceritanya. Disinyalir, gerakan Ikhwanul Muslimin ini berhasil bermetaforfosis menjadi partai politik. Sebuah partai dakwah, sangat gamis dan penyayang binatang halal, yaitu sapi yang gemuk-gemuk.

    Kalau Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir hingga memutuskan hubungan dengan Qatar pada Juni lalu, karena keterlibatan Ikwanul Muslimin yang dianggap berbahaya bagi negara-negara tersebut. Pasalnya Qatar mendukung kelompok teroris regional, dalam gerak Ikhwanul Muslimin.

    Tanpa bisa menghindar, Qatar pun mengakui bahwa mereka telah memberikan bantuan kepada gerakan Ikhwanul Muslimin ini. Namun, pihak Qatar tetap membantah kalau dianggap mendanai para teroris yang terkait dengan al-Qaeda atau Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

    Menurut laman BBC.Com seperti dilansir Kompas.com, aktivis HAM yang berbasis di Inggris, Yahya al-Assiri menyebut alasan penahanan Odah di Riyadh pada Sabtu malam karena tidak menyatakan dukungan pada kebijakan Saudi terhadap Qatar. Artinya, Odah menentang kebijakan Saudi yang memusuhi Qatar. Itulah yang jadi penyebab penangkapannya. Hal ini disampaikan Yahya al-Assiri kepada Wall Street Journal.

    Odah, dulunya dikenal karena pandangan keagamaan yang ekstrem. Dia pernah dipenjara dari 1994 hingga1999 karena mendorong perubahan politik. Odah juga dikenal sebagai seorang imam yang populer karena memiliki 14 juta pengikut di Twitter.

    Berbeda dengan Odah, kalau Qarni ditahan di Kota Abha. Ia dilaporkan karena menyerukan supaya Pemerintah Arab Saudi menjalin hubungan yang lebih baik dengan Qatar. Aspirasi itu disuarakan melalui akun Twitter-nya, yang memiliki dua juta pengikut.

    Tidak hanya itu, pada Rabu kemarin, (13/09/2017) para aktivis mengedarkan daftar tokoh-tokoh lain yang diyakini telah ditahan, termasuk beberapa imam, akademisi, presenter televisi dan seorang penyair. Menggelitiknya, seperti dipantau Kompas.com, beberapa dari mereka tidak memiliki hubungan yang jelas dengan pandangan politik Islamis atau sejarah menentang monarki Saudi.

    Harus diakui, Pemerintah Arab Saudi benar-benar tidak main-main terkait dengan stabilitas negaranya. Tidak heran bila Kementerian Dalam Negeri Saudi mendesak warga untuk melaporkan setiap ucapan di media sosial yang mempromosikan “gagasan teroris atau ekstremis”. Hal itu bisa disampaikan melalui sebuah aplikasi ponsel yang diluncurkan tahun lalu.

    Secara terpisah jaksa pun mengingatkan mereka di Twitter bahwa merugikan reputasi atau status negara merupakan kejahatan terorisme. Warga bumi datar Indonesia rupanya harus mencatat hal ini. Merugikan reputasi atau status negara merupakan kejahatan terorisme. Tidak terbayangkan, apa jadinya orang-orang seperti Habib Rizieq, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Ahmad Dhani, Asma Dewi, dan semua kaum sejidatan apabila hal demikian berlaku di Indonesia.

    Aha, mumpung Habib super caboel si Imam Besar FPI, Rizieq Shihab masih di Arab, mengapa tidak dititipkan saja supaya ditangkap di sana? Saatnya jasa penitipan semacam JNE, Tiki, J&T menunjukkan jasanya dengan bekerjasama dengan Pemerintah Arab Saudi. Siapa tahu dapat order penitipan seorang imam besar. Kondang, Cak…


    Penulis :  Setiyadi RXZ    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Arab Saudi Tangkapi Imam-imam yang Dianggap Membangkang: Bisakah Nitip Nangkep Imam Caboel? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top