728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 03 September 2017

    #Warta : Alumni 212 Kutuk Keras Genosida Rohingya, Lupa Sudah “Genosida” Ahok??

    Kurang elok dan tepat rasanya, orang yang tangannya kotor terhadap suatu dosa atau kesalahan, menuntut seseorang untuk tidak melakukan dosa atau kesalahan tersebut. Bahkan dengan sangat lantangnya mengutuk keras perbuatan tersebut tanpa sadar bahwa dirinya melakukan hal yang sama.

    Apalagi pada akhirnya yang terjadi bukan lagi secara objektif menilai suatu masalah melainkan membabibuta mengutuk tanpa disadari hal yang terpenting adalah bercermin terlebih dahulu. Karena itu, sangat penting untuk orang-orang yang berbuat tersebut bertobat dulu dan berubah baru bisa mengomentari dan bahkan memberikan sebuah solusi.

    Karena memang benar kata orang, teladan lebih keras bersuara daripada perkataan. Ketika kita berkata tetapi kita juga melakukan hal yang sebaliknya atau ketika kita mengutuk keras sebuah perbuatan tetapi kita melakukannya, maka kata yang pantas disematkan kepada kita adalah munafik.

    Dan itulah yang terjadi ketika sebuah organisasi bernama alumni 212 bersuara lantang terkait peristiwa atau krisis etnis Rohingya di Myanmar. Mereka yang merasa tersentuh kemudian dengan semangatnya berteriak lantang mengutuk keras atas tindakan pemerintahan Myanmar kepada etnis Rohingya.

    Selain mengutuk keras, Presidium Alumni 212 melalui ketuanya, Slamet Ma’arif, juga meminta supaya ASEAN memberikan sanksi tegas kepada Myanmar. Bukan hanya ASEAN, Slamet juga meminta kepada PBB ntuk mengeluarkan resolusi pelanggaran HAM berat serta embargo kepada Myanmar.

    Hebat bukan Presidium alumni 212 ini. Kehebatan yang membuat saya dan mungkin banyak dari kita merasa mual dan mau muntah. Mengapa rasanya sangat memuakkan?? Ada dua hal yang menurut saya permintaan ini menjadi sangat memuakkan.

    Yang pertama (1) adalah siapa dan punya kedudukan apa Presidium alumni 212 menyampaikanj permintaannya kepada ASEAN bahkan ke PBB?? Legitimasi apa yang membuat mereka ini merasa punya hak?? Kalau sebagai warga negara Indonesia, maka tuntutan seperti ini tidaklah tepat disampaikan.

    Kalau menyampaikannya sebagai warga negara Indonesia, maka hal yang bisa dilakukan adalah mendesak pemerintah untuk segera melakukan tindakan cepat kepada pemerintahan Myanmar. Tetapi bukan juga dengan tindakan mengusir Dubes Myanmar dan menarik Dubes Indonesia. Kalau itu yang dilakukan, Myanmar bakal cuekin Indonesia.

    Myanmar tentu saja tidak takut kalau Indonesia mengusir Dubes mereka dan menarik Dubes Indonesia. Myanmar tidak akan rugi dan bangkrut bahkan tertekan dengan tindakan itu. Malah kita jadi tidak punya hak apapun terlibat dalam penyelesaian konflik tersebut.

    Hal ini sama seperti konflik Israel dan Palestina dimana kita tidak bisa berbuat banyak karena tidak punya hubungan diplomatis dengan Israel. Pada akhirnya hanya mengandalkan negara-negara lain untuk melakukan diplomasi dan tekanan kepada Israel. Indonesia?? Yah cuman menyatakan seruan saja.

    Alasan kedua (2) adalah apakah alumni 212 tidak sadar kalau mereka adalah pelaku “genosida” kepada kaum minoritas di Indonesia?? Lupa bagaimana mereka yang membuat aksi yang menurut klaim sendiri ada 7 juta orang demi memenjarakan hak-hak kebebasan Ahok?? Miris rasanya kalau seorang Ahok harus “digenosida” dengan cara-cara seperti itu.

    Berbicara tentang minoritas dengan alasan apapun tidak boleh dibantai (genosida) tetapi dengan alasan apapun dan dibuat-buat malah melakukan “pembantaian” kepada seorang minoritas. Itu jelas-jelas namanya munafik kelas dewa. Apalagi “pembantaian” tersebut bukan hanya dilakukan kepada Ahok tetapi juga kepada mayat para pendukung Ahok.

    Apa yang disampaikan oleh Presidium alumni 212 tersebut tidaklah salah sebenarnya, tetapi menjadi sangat tidak tepat karena yang menyampaikannya adalah mereka yang tidak melindungi hak-hak minoritas di negerinya sendiri. Bahkan juga ikut mengancam sesama muslim yang mendukung minoritas. Lalu apakah pantas mereka bicara tentang krisis Rohingya??

    Pada akhirnya apa yang dinyatakan dan diminta oleh presidium alumni 212 ini hanyalah menjadi sebuah aksi kemunafikan tanpa sebuah keteladanan yang nyata. Pernyataannya menjadi tidak punya kekuatan apa-apa, bahkan yang mendengar menjadi muak dan mau muntah. Apalagi ujung-ujungnya adalah meminta donasi yang nantinya dipotong sekian persen.

    Jadi, alangkah baiknya para pelaku “genosida” hak-hak minoritas ini diam saja dan tidak usah ikut berkoar-koar. Mending instropeksi diri dan bertobat untuk lebih memperhatikan hak-hak minoritas di Indonesia. Niscaya akan ada masanya kehadiran presidium alumni 212 akan lebih didengar. Tetapi apakah mereka memang mau membela minoritas??

    Saya sangsinya, mereka ini mau membela sesuatu hanya yang punya peluang dapat bantuan donasi uang.  Mudah-mudahan dugaan saya ini salah.

    Salam Munafik.




    Penulis :  Palti Hutabarat       Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Alumni 212 Kutuk Keras Genosida Rohingya, Lupa Sudah “Genosida” Ahok?? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top