728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 27 September 2017

    #Warta : Aksi 299 Sarat Politis, Mau Berapa Kali Habisin Uang Negara?

    Sebelum saya mulai, jangan ambil kesimpulan kalau saya mendukung PKI. Aksi yang digagas alumni 212 (duh kok mereka lagi, apa tak ada yang lain, bosan bro) akan menyasar gedung MPR untuk menyuarakan penghapusan UU Ormas dan penolakan terhadap kebangkitan PKI. Bukan berarti saya dukung PKI, saya menolak PKI, tapi tidak setuju dengan aksi ini.

    Jadi tolong bedakan dengan jelas, jangan disamakan. Beberapa pihak sudah berpendapat kalau aksi 299 sarat dengab kepentingan politik pihak tertentu. Memang nampak jelas kok. Pertama, apa urusannya alumni 212 menggagas aksi beginian? Bukankah alumni 212 biasanya fokus ke aksi bela agama, sekarang kok malah lari ke penolakan terhadap kebangkitan PKI?

    Yang kedua, isu kebangkitan PKI. Saya sebelumnya sudah memberikan sebuah analogi yang bagus di artikel sebelumnya. Kalau seorang kriminal saja harus diam-diam dalam beraksi, mengapa PKI harus begitu bodoh menciptakan suasana hingar bingar nan meriah? Bukankah seharusnya diam-diam kalau mau bangkit? Kalau bikin suasana heboh begini, malah gampang dihancurin, layu sebelum mekar.

    Jadi isu kebangkitan PKI menurut saya hanyalah ilusi yang diciptakan untuk menciptakan kesan kalau PKI itu nyata. Dengan gaung penolakan terhadap PKI melalui aksi 299, mereka ingin menyampaikan kalau PKI sudah ada. Padahal kalau diminta buktinya, paling bakal ngeles sana sini tak karuan. Mereka terus menyuarakan ini dengan harapan lama-lama ini menjadi kebenaran yang dipercayai masyarakat. Lagian sungguh heran kenapa tiap ada aksi 299, selalu saja ada alumni 212?

    Hampir semua isu akan dijadikan demo dalam bentuk aksi 3 angka oleh kelompok ini. Jangan salahkan orang kalau kelompok ini dicap tukang demo, tukang bikin aksi. Ada isu apa pun, pasti bikin aksi. Sungguh berlebihan. Mereka tak pernah berpikir berapa biaya yang harus dikeluarkan negara buat ngawal aksi beginian. Saya rasa tak pernah terpikirkan oleh mereka sedetik pun. Mereka hanya tahu teriak dan koar-koar.

    Sungguh tak terhitung sudah berapa kali mereka mengadakan aksi dan kalikan saja dengan pengeluaran negara untuk melakukan pengawalan. Kabarnya aksi ini akan dikawal 20000 aparat. Totalkan sendiri deh. Mereka hanya bisa habiskan duit negara. Tahunya cuma demo, tapi tak bisa berkontribusi. Kalau memang hebat, dan yakin PKI telah bangkit, cari bukti akurat dan bantu pemerintah. Jangan cuma omdo, karena koar-koar takkan menyelesaikan masalah. Apalagi koar-koar di jalan, malah merugikan pengguna jalan.

    Bahkan ketua SETARA institute, Hendardi mengatakan kalau aksi 299 ini adalah gerakan politik, bukan gerakan dakwah apalagi jihad. Selain itu mobilisasi massa secara terus-menerus akan berdampak pada biaya pengamanan dan pengawalan aksi serta mengganggu iklim investasi karena aksi model beginian lebih condong menyebarkan kecemasan. Misalnya menyebarkan isu PKI, padahal simpang siur bukan?

    Poin penting lain yang disampaikan adalah demonstrasi untuk mencapai tujuan politik sebagaimana dilakukan oleh kelompok 212 adalah cara politik konvensional dalam meraih tujuan politik dan kekuasaan tanpa kerja keras, dan tidak mencerdaskan publik. Pada akhirnya gerakan ini sesungguhnya ditujukan untuk melemahkan kepemimpinan Jokowi dan secara bersamaan membuka peluang kandidat lain mulus melenggang ke tampuk kekuasaan dengan dukungan emosional pemilih yang telah dikonsolidasikan, melalui isu-isu irrasional dan aksi-aksi yang mengatasnamakan agama.

    Sebuah pernyataan yang sangat tepat. I couldn’t agree more. Mereka yang memakai cara rendahan seperti ini adalah pengecut. Tapi mau bagaimana lagi, mereka telah melihat hasilnya saat menumbangkan Ahok. Mereka ketagihan bahkan hingga kesurupan. Mereka mulai ngidam dan kebelet ingin mengulangi kesuksesan yang sama dengan cara yang sama.

    Mereka gunakan cara ini untuk meraih tujuan politik. Memangnya mereka peduli dengan stabilitas negara dan perekonomian? Omong kosong. Nafsunya sudah di ubun-ubun, mana sempat mikirin orang lain. Yang penting ambisi tercapai, persetan dengan yang lain. Atas nama politik, aksi pun dilakukan. Coba bayangkan kenapa kasus First Travel tidak dijadikan aksi 3 angka?

    Masuk akal tidak kalau isu tersebut tak berkaitan dengan politik, makanya tak melakukan demo besar-besar meski puluhan ribu orang jadi yang jadi korban? Tak ada kaitan dengan politik, sehingga tak bisa serang pemerintah, akhirnya tak perlu adakan demo. Begitukah? Sungguh luar biasa.

    Kebalikannya, isu yang tak jelas, isu yang bisa diselesaikan tanpa demo malah dijadikan alat aksi dalam skala bombastis. Ucapan Ahok yang keseleo dan menyinggung ayat suci, langsung didemo dengan kekuatan 7 juta orang, berjilid-jilid. Hebat. Saat isu First Travel, ke mana 7 juta orang itu ngumpet? Dan anehnya isu Rohingya yang notabene masalah luar juga diimpor ke sini dan dibikin aksi. Dan isu kebangkitan PKI yang tidak berdasar, pun dibuat aksi. Kalau bukan sarat politik, apalagi?

    Saya hanya berharap masyarakat cerdas dan mampu melihat di balik ini semua. Tapi sayang, tak semua bisa seperti itu. Apalagi gerombolan sumbu pendek, pasrah saja deh.

    Bagaimana menurut Anda?


    Penulis   :   Xhardy   Sumber  :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Aksi 299 Sarat Politis, Mau Berapa Kali Habisin Uang Negara? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top