728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 01 September 2017

    #Warta : Ada Jejak-jejak Sufi Dalam Diri Jokowi

    Ada tokoh sufi yang juga saya kagumi, meski belum pernah bertemu dengannya, namun wajahnya yang tegas tapi teduh, pesan-pesannya membuat gemetaran para politikus busuk yang ingin menguasai dunia, hingga panah-panah fitnah mengarah padanya tapi tetap saja tak gentar, jutaan pengikutnya tetap solid hingga sampai menjelang ajalnya namanya tetap harum serta diabadikan. 

    Dan menurut informasi teman-teman yang pernah berkunjung maupun yang bermukim disana, bahwa kuburan beliau tak pernah sepi oleh para peziarah hingga kini, antrian panjang sudah menjadi pemandangan biasa, meski mereka disesat-sesatkan hingga dikafir-kafirkan malah semakin banyak peziarah. Karena tentu saja mereka yakin orang-orang yang berjuang ikhlash demi agama, bangsa dan negaranya sesuai perintah Allah tidaklah mati, melainkan senantiasa hidup dan mendapatkan rezeki.

    Beliau telah membuka jalan perlawanan yang tak henti-hentinya pada sikap arogansi negara-negara yang rakus terhadap kehidupan materi. Bahkan Palestina pun dibelanya hanya semata-mata kepeduliaannya pada keadilan yang semestinya tegak, sama dengan Bapak Proklamator Republik Indonesia Ahmad Soekarno yang juga sangat mengutuk penjajahan di atas bumi ini. Tokoh sufi yang satu ini pun sangat menentang penjajahan Zionist terhadap Palestina dan akhirnya telah menyerukan agar setiap jumat terakhir bulan ramadhan selalu meneriakkan anti Zionist atau anti penjajahan, dan mengutuk keras aksi-aksi yang dilakukan oleh sekutu penjajah ini.

    Beberapa waktu yang lalu, Pakdhe Jokowi telah berkunjung ke negara para Mula ini, dan Pakdhe telah bertemu salah seorang murid kesayangan beliau yang mewarisi keilmuan Sang Sufi itu, yaitu Sayyid Ali Khamenei, Grand Leader atau pemimpin tertinggi negara Republik Islam Iran. Kunjungan Presiden kita Pakdhe Jokowi adalah kunjungan yang sangat penting, kerjasama ekonomi yang pastinya saling menguntungkan dan tepat janji, berbeda dengan salah satu negara yang katanya mau investasi sekian trilyun dollar tapi ternyata tidak demikian.

    Nama sang Sufi itu pernah disebut oleh Pak Prabowo ketika lagi masih maraknya Pilkada DKI 2017, dan ada yang ingin menyetarakannya dengan Abib Rizik, wallahualam, namun kalau mau dilihat secara lebih detail tentulah sangat berbeda, sang Sufi ini tidak pernah melarikan diri atau mangkir jika penguasa memanggilnya, apalagi terlibat kasus-kasus yang bikin pusing pala berbie. Sang Sufi ini pembawaannya tenang, segala gerak-geriknya terstruktur, sehingga lawan-lawannya yang ingin mencari celah atau membunuh karakternya sulit menemukan, maka itulah yang beredar hanyalah fitnah yang jelas-jelas tak terbukti, dan cukup mudah menelusuri fitnah-fitnah itu sehingga bisa mematahkannya, jadi sangat beda.

    Sang Sufi yang tutur katanya begitu santun bernama Ayatollah Khomeini, namun lebih terkenal dengan panggilan Imam Khomeini. Beliau telah berwasiat kepada para pengikutnya dengan wasiat-wasiat yang sarat dengan pelajaran serta laku mengkualitaskan diri atau bagaimana berkarakter seorang muslim sejati. Salah satu pointnya mengingatkan saya pada laku Pakdhe yaitu berpuasa, 

    Pakdhe sangat sering puasa, bahkan Hari Arafah ini beliau berpuasa dan kabarnya akan melaksanakan hari raya kurban di Sukabumi, sebuah sikap kesederhanaan yang selalu dijalani Pakdhe meski dirinya sudah menjadi orang nomor satu di negeri ini, Pakdhe tak pernah meninggalkan puasa, cermat melihat situasi politik, sosial, dan budaya yang menjadi kekuatan bangsa ini, kepada fakir miskin dan ulama tetap bergandengan, dan pastinya sangat tegas melawan koruptor.

    Berikut wasiat sebelum Imam Khomeini meninggal dan telah dipraktekkan oleh para pengikutnya :
    1. Sedapat-dapatnya berpuasalah setiap hari Senin dan Kamis
    2. Salatlah 5 waktu tepat pada waktunya dan berusahalah sholat tahajjud
    3. Kurangilah waktu tidur dan perbanyak membaca Al-Quran
    4. Perhatikanlah sungguh-sungguh janjimu
    5. Berinfaklah kepada fakir miskin
    6. Hindarilah tempat-tempat maksiat
    7. Hindarilah rempat-tempat pesta pora dan janganlah mengadakannya
    8. Jangan banyak berbicara dan seringlah berdoa, khususnya pada hari Selasa
    9. Berpakaian secara sederhana
    10. Berolahragalah (senam, lari jarak jauh, mendaki gunung dll)
    11. Banyak-banyaklah menelaah berbagai buku
    12. Belajarlah ilmu teknik yang dibutuhkan banyak negara Islam
    13. Belajarlah ilmu tajwid dan bahasa Arab, serta pahamilah
    14. Lupakanlah pekerjaan-pekerjaan baikmu dan ingatlah dosa-dosamu yang lalu
    15. Pandanglah fakir miskin dari segi material dan ulama dari segi spiritual
    16. Ikuti perkembangan umat Islam
    Langkah-langkah sufi memang berbahaya ketika telah terjun ke dunia politik, segala resiko pasti telah diperhitungkannya, ia bergerak dengan kalkulasi namun tak lupa dengan untaian-untaian doa yang selalu mengiringinya. Pakdhe dengan ciri khasnya yang santai tapi kalau urusan serius seperti ormas yang berbahaya itu juga sangat tegas, mungkin beberapa rivalnya mengira ia lemah, karena itulah ada yang mendoakannya dengan doa yang tak pantas dan menyinggung masalah fisik, tapi beliau tetap tenang, ia tahu betul kalau terlalu reaksionis itu tidak mencerminkan sikap kesatria, 

    Pakdhe tahu mana yang prioritas terlebih dahulu agar urutan tujuan mulia negara ini semakin nyata.
    Sufi sejati pastilah telah selesai dengan dirinya, sementara yang sok-sok religius terus saja resah, merasa agamanya telah dirampas, karena itulah sering teriak-teriak dengan kata-kata penistaan, padahal ia sendiri bingung bagaimana cara beragama dan membela agama itu, boro-boro, ia sendiri harus dibela dari tindakan yang mengedepankan sifat hewani dalam diri. Idul Adha adalah pelajaran atau simbol atau moment menyembelih sifat binatang dari dalam diri, agar mampu berkiprah membentuk bangsa yang bermartabat, bukan bangsa yang senantiasa melakukan korupsi berjamaah.

    Banyak tokoh-tokoh besar termasuk Nabi Muhammad SAW yang menerima banyak kecaman di masanya, tapi beliau tetap tegar, karena sebenarnya apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW adalah berdasarkan kemauan Allah SWT, jika Muhammad melempar sesungguhnya yang melempar itu adalah Allah SWT, dan untuk mencapai hal seperti ini, ego dan sifat-sifat kebinatangan itu disembelih dari dalam diri, sehingga tak ada lagi hijab yang menghalangi antara dia dan DIA (ALLAH SWT).

    Dan bisa saja, arah keberhasilan Jokowi dalam memimpin negara ini adalah hasil dari kontemplasi dirinya sejak dulu hingga kini dalam ranah spiritual, yang dengan itu ia bisa selesai atau meletakkan egonya pada titik zero atau nol. Memang perjalanan yang dibawa Jokowi belumlah final, karena perjuangan itu takkan pernah final selama hidup di dunia ini, namun kita lihat bagaimana beliau dengan kesederhanaannya serta emphati juga kerja kerasnya menjadi barometer begitu dengan gamblangnya melakukan semua manuver-manuver politik, sampai-sampai para rivalnya bingung dibuatnya dan bahkan gigit jari, dan pastinya kebingungan dengan cara apa lagi mau menjatuhkannya, fitnah PKI pun lambat laun menjadi hal yang sangat membosankan dan sangat jelas fitnahnya.

    Amat sulit memang jika orang yang mau dijatuhkan itu telah menyerahkan dirinya kepada Allah, beliau hanya memegang amanat dan menjaganya sebaik-baiknya, sungguh pekerjaan-pekerjaan pemimpin sejatinya haruslah dari kalangan spiritual atau bisa disebut sufi, Seperti Imam Khomeini adalah tokoh sufi yang telah meruntuhkan dinasti kerajaan yang berusia ribuan tahun, tanpa senjata ataupun lobi-lobi dengan negara adikuasa, karena baginya kekuasaan mutlak itu hanya ada pada Allah SWT. Berbuat demi berfungsi diri  sebagai manusia yang menghamba hanya pada Allah SWT, bukan pada fulus ataupun pada nafsu.

    Jika Pakdhe sempat membaca tulisan ini, dan terkesan agak berlebihan, saya buru-buru minta maaf, maafin ya Pakdhe. Dan selamat hari raya idul adha, semoga para bandit-bandit di negara ini segera dituntaskan, atau minimal mereka itu cepat-cepat bersih-bersih dan ikutan menyembelih sifat kebinatangan dari dirinya, sehingga negara ini menjadi negara yang peduli pada rakyatnya yang sering ditimpa kemiskinan, baik kemiskinan karena dimiskinkan maupun kemiskinan karena bermental materialisme yang tak pernah cukup dengan limpahan materi.

    Mmhhh…andaikan saya adalah bangsat itu, apakah saya berani?, jika saya ingin jadi sufi, mungkin saya berani melakukannya dan membongkar semua persenkongkolan apapun resikonya, tapi itu adalah pilihan, mau menjadi pengikut sapi eh binatang, atau masuk dalam barisan sufi.





    Penulis :  Daeng     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Ada Jejak-jejak Sufi Dalam Diri Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top