728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 27 September 2017

    #Warta : 1963 dan 2017: PKI dan FPI Sama-Sama Minta Senjata ke Pemerintah, Kesimpulan?

    Sumber: Penelusuran FB dengan tambahan sendiri..
    Melodrama sebuah film bikinan tentara, Penghianatan G30S/PKI begitu membekas di daging para warga negara Indonesia yang hidup di era 70-an sampai 90-an. Sejak tahun 1984 sampai 1998, film ini setiap tahun diputar di seluruh siaran televisi, setiap tanggal 30 September. Artinya, setidaknya film ini diputar di seluruh Indonesia secara terstruktur, sistematis, dan masif sebanyak empatbelas kali.

    Saya lahir tahun 1989, dan sekitar SD, saya pernah menonton film ini sudah sampai barang lima sampai enam kali. Adegan-adegan yang begitu vulgar harus saya tonton, karena memang konon katanya setiap rumah diwajibkan menonton, karena kabarnya ada orang-orang yang memantau dan memastikan setiap rumah menonton.

    Film tersebut diputar di rumah saya dengan volume yang agak besar, agar tidak perlu orang-orang yang patroli masuk ke rumah. Ini fakta, mungkin untuk ‘merawat tenun kebangsaan’. Eh, maksud saya merawat trauma. Adegan yang mempertontonkan aksi yang sangat vulgar seperti silet wajah, potong alat kelamin, istri yang mandi darah, menjadi sebuah adegan yang mengerikan dan membuat saya begitu trauma. Bahkan sampai sekarang trauma itu membekas.

    Setiap saya melihat muka seseorang yang berdarah, saya langsung teringat dan terekam wajah seorang istri jenderal yang berlumuran darah karena ditembak. Kebencian terhadap PKI sungguh benar-benar nyata dan membakar hati, luka begitu dalam dengan trauma-trauma yang ada, membekas, bahkan sampai sekarang. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, akhirnya penguasa rezim Orde Baru turun juga.

    Setelah lengsernya Soeharto, stigma-stigma tentang kejahatan PKI mulai dibukakan. PKI adalah sebuah partai besar yang dikomandoi oleh seorang bernama Dipa Nusantara Aidit. Bagaimanapun juga, sejarah mencatat bahwa PKI memiliki agenda terselubung yang bertujuan untuk merongrong NKRI. PKI dengan lengan gurita, yakni Harian Rakjat dan Bintang Merah, menguasai tahun 1950. Kader-kader PKI adalah orang-orang yang berada di bawah 30 tahun.

    Artinya mereka adalah partai yang sangat digandrungi kaum muda, dengan kader-kadernya yang masih muda. Pada 1950, anggota PKI hanya 3.000-5.000 orang saja. Namun pada tahun 1954, menjadi 165.000 orang. Bahkan ada yang mencatat bahwa pada tahun 1959, PKI mencapai 1,5 juta anggota. Ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa pada saat itu.

    PKI pada akhirnya harus hancur, karena keinginannya untuk mengubah situasi politik dan ekonomi. Pengaruh pertumbuhan PKI ini tercatat dalam agenda CIA, dan membuat Amerika Serikat menjadi resah.  Mengapa harus ada Amerika yang resah?

    Sederhana, PKI adalah partai yang menolak Konfederasi Maphilindo. Pembentukan tersebut berbuah aksi-aksi pertumpahan darah di Semenanjung Malaysia, bertempur dengan pasukan Inggris dan Australia, yang merupakan sekutu dari Amerika.

    Setelah isu luar negeri, sekarang isu dalam negeri. Popularitas PKI pada saat itu membuat banyak ormas-ormas agama, militer, faksi nasionalis terancam. Maka Amerika dengan cerdasnya menggunakan kelemahan PKI. Apa kelemahan PKI? Apa kesalahannya? Sederhana sekali. Jika kita belajar sejarah, kita tahu bahwa PKI sempat meminta senjata bagi kaum buruh dan petani.

    PKI melakukan infiltrasi ke tubuh pemerintahan Orde Lama, dengan mengusulkan pemberian senjata untuk angkatan ke-5. Kelompok tersebut ingin menuntaskan operasi ‘Ganyang Malaysia’ yang diserukan oleh Soekarno. Namun TNI-AD merasa khawatir karena takut adanya penyelewengan senjata.

    Apakah para pembaca Seword ingat, baru-baru ini ada yang juga ingin meminta senjata? Mereka adalah FPI, front yang meminta senjata untuk memerangi Rohingya. Jadi sudah jelas bukan, siapa yang jadi regenerasi dari PKI?

    Terlepas dari itu, ternyata senjata merupakan salah satu primadona yang terus menerus disukai oleh orang-orang bahkan dari jaman dulu sampai sekarang. Siapa yang memegang senjata, dialah yang menguasai negara. Ini adalah sebuah fakta.

    Maka tidak heran jika hak politik para tentara dan polisi dicabut, demi kestabilan sebuah negara. Bayangkan jika ada oknum-oknum politik yang menggunakan senjata, untuk memenangkan sebuah kontes demokrasi.

    Maka sudah barang pasti bahwa netralitas harus dijunjung tinggi oleh BIN, TNI, dan Polri, semata-mata hanya untuk memfokuskan diri kepada bela negara, bukan bela agama atau politisi. Untung saja agama masih bisa dipeluk. Jangan sampai memeluk kuda, kambing, kerbau, kura-kura, apapun itu.

    Betul kan yang saya katakan?





    Penulis :   Hysebastian    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : 1963 dan 2017: PKI dan FPI Sama-Sama Minta Senjata ke Pemerintah, Kesimpulan? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top