728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 23 Agustus 2017

    #Warta : Yuk, Buat Travel Umroh dan Haji

    Beberapa tahun lalu, ada seorang kenalan saya, sebut saja Bunga, yang saya tahu beliau mengalami kondisi keuangan yang cukup parah, hutang sana sini akibat tertipu sehingga beliau menjadi sangat kurus akibat stress. Setelah sekitar satu sampai 2 tahun tidak kontak, ada kabar dari seorang kerabat mengenai Bunga, yang membuat saya sangat terkejut, karena kerabat saya mengatakan hidup si Bunga sudah berubah 180 derajat, bergelimpangan harta, mobil mewah ada 5, rumah mewah dan seterusnya.

    Kok bisa dalam waktu singkat hidupnya begitu berubah? Sempat terbersit dalam pikiran saya mungkinkah dia jagain lilin setiap malam? hehhe… Ternyata, menurut kerabat saya, si Bunga ini menjalankan suatu bisnis perjalanan Umroh dan Haji.

    Setelah mendengar bisnisnya, saya hanya berkomentar “Oh…” saja, karena saya sangat asing dengan bisnis perjalanan, terlebih Umroh dan Haji, apalagi tertarik berkecimpung dengan bisnis tersebut. Setelah itu ya lewat begitu saja kabarnya.



    First Travel

    Belakangan santer diberitakan tentang kasus First Travel, biro perjalanan Umroh dan Haji yang begitu menyita perhatian publik. Jujur, saya tidak mengenal siapa yang punya yang katanya terkenal seorang sosialita, tetapi karena sangat santer diberitakan, jadi mau tidak mau saya ikuti kasusnya seperti apa.

    Ternyata menarik sekali dengan bisnis travel, khususnya travel Umroh dan Haji ini. Bagaimana tidak? Bisnis ini permintaannya banyak sekali, terutama bagi negara Indonesia dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun bukan negara Islam.

    Bagi bisnis apapun yang permintaannya banyak, tetapi supply-nya sedikit, menimbulkan suatu peluang untuk permainan harga, bisa juga berujung kepada monopoli (dan korupsi). Khusus bisnis travel umroh dan haji, permintaan yang banyak ini dan bisa berulang untuk Umroh, sedangkan persediaan, terutama pada akomodasi, dan transportasi yang terbatas ini, tentunya tidak luput dari efek yang ditimbulkan dari keterangan di atas.

    Mengapa Biro Perjalanan Umroh dan Haji?

    Seperti yang dijelaskan di atas, permintaannya banyak, sedangkan persediaannya terbatas. Berbeda dengan biro perjalanan umum, misalkan perjalanan ke Eropa, Asia atau kemana pun, yang daftar dua puluh orang misalnya, ya yang berangkat dua puluh orang itu.

    Begitu juga biro perjalanan rohani seperti ke Israel ataupun ke Lourdes, yang daftar dan yang berangkat jumlahnya sama, langsung berangkat tanpa menunggu kuota. Peluang monopoli ataupun skema ponzi pada biro perjalanan umum praktis tidak bisa dilaksanakan dengan alasan ini.

    Kasus First Travel ini membuka mata kita semua, setidaknya saya, bahwa bisnis ini sangat menjanjikan. Bayangkan saja, hitungan kasarnya untuk sementara ini yang baru ketahuan sekitar 70 ribu pendaftar, dan semuanya sudah bayar lunas, yang diberangkatkan hanya 14 ribu, yaitu sekitar 20% dari total.

    Kalau mau dihitung, 70 ribu dikali Rp 15 juta yaitu sekitar 1 triliun rupiah! Sangat fantastis angka ini. Yang diberangkatkan 14 ribu dikali Rp 15 juta yaitu sekitar 210 miliar rupiah. Terdapat selisih sekitar 800-an miliar rupiah. Lalu dikemanakan uangnya? Diapakankah uang jemaah yang belum berhasil diberangkatkan pada biro perjalanan itu?

    Lalu saya teringat dengan kenalan saya si Bunga tadi. Mungkin inilah penjelasannya mengapa hidup si Bunga bisa berubah 180 derajat. Oh iya, si Bunga tidak ada hubungannya dengan First Travel yaaa.

    First Travel ini dapat mengumpulkan dana begitu banyak dalam waktu 6 bulan saja menurut keterangan pers hari ini. Bayangkan! Dalam waktu yang sangat singkat! Sangat masuk akal si Bunga hidupnya bisa berubah dalam waktu yang sangat singkat juga.

    Terlepas dari First Travel yang juga ternyata punya hutang dari provider tiket, VISA dan hotel di Arab, anggap saja yang diberangkatkan itu sudah bayar lunas, selisih 800-an miliar kalau ditaruh di bank saja, dengan suku bunga katakanlah 6% setahun, menghasilkan bunga sebesar 48 miliar rupiah atau 4 miliar rupiah per bulan. Angka ini sudah jauh lebih cukup untuk menjalankan bisnis travel yang legal, tanpa menggunakan skema ponzi. Fantastis bukan?

    Ini baru satu biro perjalanan Umroh dan Haji yang terungkap. Bagaimana dengan biro perjalanan umroh dan haji lainnya? Bukan berarti semua biro perjalanan Umroh dan Haji yang lain ini menggunakan cara yang sama dengan First Travel. Namun yang ditekankan di sini, diapakankah dana jemaah yang belum dapat diberangkatkan? Akan sangat menggoda dana sebesar itu tidak digunakan untuk kepentingan pribadi.

    Menggelikan

    Yang menggelikan dalam kasus ini, pemilik First Travel ketika ditanya dikemanakan dana jemaah tersebut mendadak amnesia! Sepertinya menderita short term memory loss mirip Dori dalam film Finding Nemo! Di rekening bank yang berhasil diidentifikasi hanya tersisa 2,8 juta rupiah saja.

    Namun begitu ada sumber mengatakan ada aset yang ditemukan, baru pemilik First Travel mengatakan “Oh iya, saya lupa”. Persis Dory! Apakah benar, punya aset dengan nilai yang besar bisa lupa? Saya tidak yakin…

    Lebih menggelikan lagi korbannya. Dalam wawancara di radio Sindo yang saya dengar, salah satu korban berharap keajaiban, dan meminta bantuan dari pemerintah untuk menolong korban. Menolong dalam hal apa? Tendensinya, korban tersebut berharap agar pemerintah memberangkatkan para korban penipuan First Travel untuk Umroh.

    Lah, apakah ini korban penipuan First Travel ini disamakan dengan korban bencana alam sehingga pemerintah harus turun tangan? Apabila pemerintah ikut membantu, artinya pemerintah juga ikutan tertipu dengan First Travel dong?

    Lantas, dana dari kantong mana yang diharapkan untuk membantu korban First Travel ini? Dana dari pajak? Artinya, pajak yang kita semua, termasuk Anda dan saya, bayar kepada pemerintah untuk membangun negara ini digunakan untuk membantu para korban First Travel? Jadi secara langsung, seluruh wajib pajak di Indonesia ikutan tertipu First Travel kalau para korban mengharapkan pemerintah membantu.

    Kalau diambil dari kantong dana haji, artinya ada sebagian orang yang tidak dapat diberangkatkan juga alias tertipu secara tidak langsung oleh First Travel. Ujung-ujungnya, dana haji akan mirip seperti skema ponzi karena ada dana yang hilang dan untuk menutupi itu, dana segar dari calon jemaah yang baru digunakan untuk calon jemaah yang duluan. Jadi, tertipu berjemaah.

    Sepertinya bangsa Indonesia sedang sakit. Logika-nya jadi terbalik-balik. Yang menipu adalah First Travel, tetapi yang harus menanggung adalah pemerintah. Ini sangat luar biasa! Marilah kita berhenti sejenak, dan menarik nafas dalam-dalam untuk dapat berpikir dengan jernih tanpa bias agama ataupun politik.

    Lantas, apa itu skema ponzi?

    Skema ponzi ini adalah sebut saja permainan pohon uang. Para anggota awal akan mendapatkan manfaatnya secara langsung dengan tujuan menarik minat serta promosi sehingga anggotanya menjadi lebih yakin.

    Selanjutnya, setelah dana mengalir deras, sebagian besar dana tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi, sedangkan anggota yang duluan mendapatkan manfaat dari dana anggota baru yang masuk. Gali lobang tutup lobang, demikian seterusnya.

    Skema ini menjadi masalah apabila tidak ada atau sedikit sekali anggota baru yang masuk, terlebih dananya sudah habis digunakan tidak semestinya alias kepentingan pribadi.

    Skema ini bukan hal baru. Yang paling terkenal adalah kasus di Amerika, seorang yang terpandang bernama Bernard Murdoch pada tahun 2000-an menggunakan skema ini untuk menipu para artis Hollywood dengan bungkus investasi bodong.

    Ketika itu, kerugian dari investasi Murdoch mencapai US$ 18 miliar, kalau dengan kurs tahun 2009 (Rp 8000) sekitar 144 triliun rupiah. Murdoch dihukum 150 tahun ditanggung renteng dengan keluarganya serta semua aset disita alias dimiskinkan.

    Bagaimana dengan pemilik First Travel? Netizen banyak yang berkomentar untuk dimaafkan saja dan diiklaskan! Hebat sekali negeri ini, sangat pemaaf apabila saudara seiman.

    Nah balik lagi ke skema ponzi. Bentuknya bisa beraneka ragam. Beberapa tahun lalu pun sempat dihebohkan dengan kaburnya pemilik investasi emas GTI asal Malaysia yang meraup dana triliunan rupiah dengan mudah, dikuatkan oleh sertifikat halal dari MUI, yang kemudian dibantah oleh MUI. Namun baru kali ini, saya mengenal skema ponzi dengan bentuk biro perjalanan Umroh dan Haji.

    Jadi, bagaimana? Tertarik buka biro perjalanan Umroh dan Haji?

    Semoga kasus ini menjadi pembelajaran bagi kita semua agar lebih berhati-hati dalam menempatkan uang kita, apapun tujuannya.

    Demikian kura-kura.


    Penulis :  Clarte Everett ST, MInfSci, CFP   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Yuk, Buat Travel Umroh dan Haji Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top