728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 29 Agustus 2017

    #Warta : Strategi Jokowi Mempertahankan Medan Pertempuran

    Selamat malam para Batfans….

    Kenapa Mayweather menang? Karena dia bertarung dihabitatnya. McGregor adalah petarung MMA yang terbiasa bertarung menggunakan tangan, kaki, dan takedown. Jumlah ronde pun berbeda antara MMA dan tinju. Melihat ini saja Om Batman udah bisa menebak hasilnya jadi gak merasa perlu menonton, keren banget yah Om Batman! Jelas pertandingan itu hanya bisnis hiburan saja dan mereka sukses menyedot banyak uang dari pertarungan tersebut.

    Setelah kekalahan Ahok ada dua hal penting yang dapat dipelajari. Pertama di Indonesia kinerja baik bisa tidak ada artinya dan kedua, penyebar kebencian sangat berbahaya. Penyebaran kebencian yang masif dan terorganisir membuat medan pertempuran tidak cocok bagi calon pemimpin yang mengandalkan kinerja dan kejujuran. Ahok dipaksa bertarung diatas ring dengan aturan yang tidak sesuai dengan habitatnya. Maka jika Jokowi ingin menang, medan pertempuran harus dibuat sesuai dengan gaya tempur Jokowi, yaitu medan tempur yang mengandalkan kinerja dan kejujuran.

    Menjelang Pilpres 2019 serangan terhadap Jokowi mulai gencar dilancarkan lawan-lawannya. Lima tahun dibawah Jokowi membuat keuangan mereka makin seret, apalagi kalau sampai nambah lima tahun celakanya pula bini muda uring-uringan pengen mobil baru. Maka Jokowi harus cukup sampai 2019 saja, begitu harapan mereka. Caranya? Paksa Jokowi bertarung di ring yang bukan habitatnya, maka isu PKI, anti Islam, dan sejenisnya dengan masif diluncurkan. Sebarkan kebencian, buat masyarakat menjadi membenci Jokowi, saking bencinya mereka enggan melihat hasil kerja Jokowi. Begitulah kebencian bekerja, seperti orang yang baru saja dicampakkan oleh pacarnya, sakit hati yang teramat sangat membuatnya sangat benci kepada si mantan. Apalagi gak lama setelah itu si mantan akan segera menikah dengan lelaki lain…..teganya kau Raisa!

    Ok….lanjut…

    Kita bisa bagi serangan kepada Jokowi menjadi dua kelompok. Pertama kelompok ‘isu sok pinter’ dan kedua kelompok ‘isu hoax banget deh’. Ngasih namanya kok jelek bener yah….mungkin karena bikinnya malem-malem, maklum Batman.

    Kelompok ‘isu sok pinter’ ini biasanya isu yang dilempar seolah-olah cerdas tapi sebenarnya goblok. Contohnya soal hutang, isu yang tiba-tiba membuat banyak orang merasa lebih ahli soal keuangan daripada menteri keuangan sendiri. Lah, mereka ini jangankan jadi menteri, jadi bendahara Osis aja belum pernah kok sok tau soal keuangan. Ngeredit motor aja belum lunas sok-sok’an teriak soal hutang luar negeri, mending pikirin aja tuh cara bayar cicilan motor supaya gak diambil lising.

    Isu jenis ini sering kali ditanggapi oleh jajaran para menteri Jokowi, seperti ketika Sri Mulyani menjelaskan soal hutang. Langkah yang tepat karena ahlinya langsung yang menanggapi isu tersebut. Cara ini membuat mereka seperti mahasiswa yang jarang kuliah karena kerjanya demo melulu tapi sok-sok’an menyanggah seorang Profesor di ruang kuliah. Udah sok tau salah pula, diketawain satu kelas deh jadinya. Hahaha.

    Kelompok ‘isu hoax banget deh’, kalau ini para Batfans pasti tau lah. Contohnya ya isu Jokowi anak PKI, serbuan tenaga kerja China, dan sejenisnya. Pokoknya bohong, pakai foto editan atau foto kadaluarsa biar makin meyakinkan. Termasuk meme-meme dengan gambar kualitas jelek yang dibikin pakai HP buatan China.

    Isu jenis ini lebih berbahaya dan sulit di netralisir. Isu bermuatan kebencian memang menjalar dengan cepat. Apalagi banyak masyarakat Indonesia yang sakit hati karena cuman bisa liat jagoannya si jones bermain jadi presiden-presidenan.

    Jenis ‘isu hoax banget deh’ ini yang dijadikan senjata utama untuk mengubah medan pertempuran. Masyarakat dijejali dengan berita-berita bohong penuh kebencian hingga mereka melupakan kinerja para calon pemimpin. Cara ini akan semakin ampuh jika ditunjang dengan demo yang pesertanya cukup banyak. Jika ini terjadi maka medan pertempuran saat kampanye jadi medan penuh kebencian, persis saat Pilkada kemarin.

    Dan menariknya Jokowi tahu hal tersebut jadi yang dia lakukan adalah menjaga medan tempurnya dengan mengacaukan dulu para provokator lapangannya. Mereka tidak ditangkap karena kalau ditangkap justru jadi momentum baru bagi lawan-lawannya. Jokowi menggunakan senjata yang mereka tidak bisa gunakan, yaitu dengan membuka borok-borok mereka sehingga banyak pendukungnya kehilangan kepercayaan, terutama mereka yang hanya ikut-ikutan.

    Saya jadi ingat cerita seseorang yang disuruh memata-matai Jokowi untuk dicari kelemahannya. Tapi akhirnya ia menyerah karena setelah berbulan-bulan menguntit Jokowi ia tidak bisa menemukan celah yang bisa diserang. Menurut saya itulah yang menyebabkan Pak Jokowi mampu bertindak tegas dan berani menghadapi tekanan-tekanan, karena ia tidak mempunyai borok yang bisa diserang. Bayangkan kalau Pak Jokowi punya borok misalnya Jokowi diduga terlibat pada suatu aksi kerusuhan tahun 90an, bisa habis dia ditekan oleh partai pendukungnya sendiri.

    Ahok berkorban dengan tidak mengajukan banding sehingga suasana menjadi tenang kembali. Isu-isu baru mulai bergulir, Ahok mulai dilupakan lawan. Dengan terukur Jokowi sedikit demi sedikit mendesak lawannya, perlahan-lahan melucuti kekuatan mereka satu persatu. Seperti pasangan pengantin di malam pertama, dibuka dulu bajunya….kemudian buka bawahannya, lalu buka……Ok cukup, nanti lama-lama jadi kayak Enny Arrow.

    Satu persatu borok-boroknya lawan dibongkar, sampai-sampai ada yang putar haluan saking ketakutannya. Dulu menyerang kini berbalik mendukung padahal sebagian besar rakyat Indonesia sangat hafal dengan mars partainya seperti anak-anak yang sangat hafal lagu Despacito.

    Masih ingat cerita Ahok tentang kejamnya Jokowi? Jokowi akan membiarkan kodok berenang di air dingin hingga kodoknya tenang lalu pelan-pelan airnya dipanaskan hingga si kodok mati? Nah ini yang terjadi sekarang. Permainan yang cantik dan kejam, lawan tidak sadar sedang direbus pelan-pelan.

    Ketika lawan sudah terdesak dan mereka bingung dan cemas. Lalu berikutnya senjata utama mereka mulai dibongkar. Sindikat penyebar kebencian yang sudah satu tahun dipantau oleh kepolisian dibuka dan mulai dicyduk satu persatu. Lawan-lawan Jokowi hanya bisa terdiam, Waduh ketahuan! Begitu pikiran mereka. Hanya sedikit yang bersuara seperti si ADP itu pun hanya berani colek-colek pakai twitter.

    Terbongkarnya Saracen membuat situasi menjadi aneh, biasanya si ‘janji jalan kaki’ selalu cerewet menanggapi hal beginian tapi sekarang diem…mingkem…apa karena beredar kabar di twitter bahwa ada pembentukan pasukan siber?

    Si penjual seprei yang terusir dulu dia kurang bersuara karena sibuk ngumpulin donasi, sekarang sibuk memuntahkan jurus andalan ‘putar balik fakta level 10!’, menuduh Saracen adalah pendukung Jokowi sendiri. Lah jelas-jelas salah satu yang ditangkep adalah si SRN pendukung Prabowo. Ada tuh fotonya memakai jaket kulit dengan tulisan dibelakangnya “Barisan Tim Setia Prabowo”, yang menurut saya lebih tepat tulisan tersebut diganti menjadi “Tim Barisan Sakit Hati”.

    Ada yang ngancem ngajak perang segala kalau ditangkep polisi. Lah siapa yang nangkep? Itu Pak Polisi cuman manggil sebagai saksi, mau nanya “Eh, kenapa nama lo  ada disini yah?” Ya jawab aja, kok udah panik gitu sih. Kayaknya bakal berangkat umrah deh bentar lagi, silahkan daftar di First Travel terdekat yah…

    Air sudah mendidih sepertinya dan kodok-kodok pun mulai melompat panik, bahkan ada yang saling gigit.

    Satu persatu anggota Saracen ditangkap dan sedikit-sedikit mulai bernyanyi, merdu sekali. Publik perlahan-lahan mulai tersadar, puzzle-puzzle mulai tersusun dalam benak masyarakat Indonesia.

    Kuncinya sudah dipegang, kini dengan tegas Pakde Jokowi meminta agar kepolisian mengusut tuntas kasus Saracen ini. Ia meminta agar pendana Saracen diusut, Mendagri juga meminta agar paslon Pilkada yang menggunakan jasa Saracen didiskualifikasi. Kalau satu sindikat seperti Saracen terungkap maka sangat mungkin sindikat lainnya pun akan menyusul dalam waktu dekat, dan entah siapa yang akan terseret.

    Hasilnya? Saya berani bertaruh bahwa dalam waktu dekat ada yang mendadak Jokower, seperti kata si pemabok kafein yang kemarin ditolak 7 juta manusia di Riau karena ngajak minum kopi bareng, “Semua akan Jokower pada waktunya”, begitu dia bilang.

    Selain itu yang terpenting adalah keinginan Jokowi agar Pilkada dan Pilpres nanti berjalan dengan bersih bisa terwujud. Jokowi ingin agar masyarakat menilai para calon pemimpinnya dari rekam jejak, prestasi, dan kinerja bukan karena ketakutan tidak akan disholatkan mayatnya.

    Jika medan pertempurannnya seperti itu maka pertarungan akan berjalan seperti pertandingan Mayweather lawan Mc Gregor. Layaknya Mayweather, Jokowi akan bertarung di medan tempur yang sesuai dengan dirinya. Pertarungan yang bersih dimana para kandidat akan saling bertarung melalui program, rekam jejak dan kinerjanya. Ditunjang dengan tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi, maka besar kemungkinan Jokowi akan memenangkan pertempuran untuk kedua kalinya. Dahsyat memang Presiden kita yang keren ini, tapi Om Batman tetap lebih keren….

    Begitulah kelelawar



    Penulis :   Gusti Yusuf    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Strategi Jokowi Mempertahankan Medan Pertempuran Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top