728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 28 Agustus 2017

    #Warta : Soal Saracen Prabowo dan SBY Bungkam, Membongkar Kekuatan yang Perangi Jokowi

    Saracen terkuak, Prabowo dan SBY diam bungkam seribu bahasa, tidak merasa jengah. Padahal Saracen memroduksi kata, meme, narasi, hoax, berita palsu, dan fitnah, yang mengancam keutuhan NKRI, dan bertujuan memecah-belah. Publik lelah. Rakyat jengah. Energi bangsa hilang terlalu banyak tercurah, musnah. Soal Ahok mereka berteriak-teriak kesetanan menuntut keadilan dengan pongah. Soal kasus chat porno Rizieq, mereka diam bersimpuh menerapkan standard ganda, sifat SBY dan Prabowo yang tidak pernah berubah.

    Bagi orang waras, tak ada kata selain kata gundah. Politikus semprul bermain dengan segala nafsu jadah. Tujuan mereka jelas demi nafsu kekuasaan kaum sumbu pendek, pengkhianat bangsa, penjahat politik, koruptor, teroris, Islam radikal, yang selalu gelisah.

    Menguliti Saracen adalah sebagian dari gambaran kekuatan (baca: kelemahan) Prabowo – dan kongsi anehnya – si SBY yang selalu jiwanya tak terpuasi, gundah. Saracen adalah gerakan dan sindikat kaki tangan para politikus cerdas yang memanfaatkan dan dimanfaatkan secara simbiosis mutualisma, yang bergerak tanpa kenal lelah, apalagi menyerah.

    Uang Berlimpah

    Kekuatan uang yang dimiliki oleh Prabowo dan SBY hampir tidak terbatas, dengan angka yang tentu sangat wah. Kroni SBY dan Prabowo secara bersama-sama menguasai hampir seluruh denyut nadi kekuatan ekonomi yang menyebar tidak hanya di Jakarta, namun juga di seluruh daerah.

    Keluarga Prabowo dan adiknya, Hashim Djodjohadikusumo, merupakan keluarga dengan nilai kekayaan sangat melimpah. Diperkirakan kekayaan keluarga ini mencapai puluhan miliaran dollar, yang setiap tahun selalu bertambah. Isu tentang hutang perusahaan mereka tidak pernah benar-benar terbukti secara sah.

    Uang berlimpah ini masih lebih banyak lagi karena SBY selama 10 tahun berhasil membangun kroni politik dan bisnis yang digawangi si rambut putih, Hatta Rajasa, dengan Reza Chalid si mafia migas yang bersimaharajalela di semua bisnis dan ranah. Tak kurang selama puluhan tahun diperkirakan KKN di Petral dan industri migas, merugikan Negara dalam jumlah angka sebesar 3,000 triliun, dalam rupiah.

    Kekuatan uang ini masih terus ditambah. Jusuf Kalla dan kelompok Golkar, ARB, keluarga Cendana, para cukong dan taipan, HT yang sedikit kehilangan arah dan darah, adalah jaminan mutu kekuatan yang tak  bisa dianggap remeh-temeh dan dengan mata sebelah.

    Bergabungnya para saudagar itu semakin menguatkan kekuatan aliansi berdasarkan kepentingan ambisi, kekuasaan, yang ujungnya uang, duit, dan dollar serta rupiah. Tidaklah mereka mengenal selain kepentingan pribadi, golongan, partai, keluarga dan trah.

    Kepentingan negara buat mereka hanya hiasan dan tipuan intrik yang bunyinya indah. Slogan kampanye TV ala SBY seperti Katakan Tidak Pada Korupsi, yang maknanya sebenarnya, Ayo Korupsi Agar Hidup Mewah!

    Maka dalam bingar kampanye politik, pilkada, pilpres 2014,pilkada DKI Jakarta 2017, tidak ada berita tentang kekurangan dana, atau pengumpulan dana kampanye, yang membuat pendukung mereka lemah atau gelisah. Bagi mereka, uang tidak dan bukan masalah. Uang menjadi kekuatan yang dianggap oleh mereka tak akan bisa membuat mereka kalah.

    Dengan bejibunnya dollar dan rupiah, maka kampanye terfokus kepada strategi dan adu kekuatan, hampir tidak mengenal kata lemah, tidak membicarakan rupiah. Mereka dan para pendukung mereka tampil dengan kepercayaan tinggi dan yakin menang, tidak ada kata dan pesimisme akan kalah.

    Strategi Pecah Belah

    Strategi politik yang dipilih oleh Prabowo dan SBY identik, sama dan searah. Bagi mereka tujuan menghalalkan segala cara, tentang cara, tak ada cara yang salah. Salah satunya adalah dengan mengusung politik identitas Islam yang salah kaprah.

    Warna strategi politik itu dipraktikkan sejak kampanye Pilgub DKI 2012. Rhoma Irama dan partai agama PKS memulai dengan kampanye di masjid-masjid dengan isu SARA yang melimpah. Media sosial penuh berisi ujaran kebencian, hoax, fitnah yang bisa membuat orang  muntah.

    Embrio politik identitas Islam ini gagal dimenangkan oleh si wani piro Hidayat Nur Wahid dan Fauzi Bowo, karena Gerindra dan PDIP mendukung Jokowi-Ahok, membuang FPI dan Islam radikal yang hanya dipeluk oleh partai agama PKS, dengan Islam moderat pun terpecah.

    Pilpres 2014 adalah gambaran nyata betapa politik identitas Islam didorong untuk menjadi alat kampanye yang lumrah, karena takut kalah. Caranya, Prabowo dan SBY saling mendukung, menyudutkan Jokowi dengan segala macam suara sumbang tentang Islam-nya Jokowi, juga kebencian, hoax, sampai menerbitkan Obor Rakyat, yang berisi fitnah.

    Kelicikan SBY bagi Prabowo Jadi Berkah

    SBY pun adalah aktor licik politik identitas Islam untuk memecah-belah. Caranya, SBY menyatakan diri tidak  berpihak dan partainya menjadi partai penyeimbang, ada di tengah-tengah. Ini sikap penuh muslihat, alat bagi SBY untuk bertindak semaunya dan bermanuver dari dua arah.

    Sikap paling menonjol kelicikan SBY ini adalah menjadi inisiator pemilihan kepala daerah, gubernur, bupati, walikota, dipilih oleh DPRD di daerah. Harapannya, dengan hanya para anggota DPRD yang menentukan pemimpin daerah, maka kemenangan KMP dalam pilkada menjadi begitu mudah.

    Selain itu tentu publik ingat abuse of power SBY dengan UU MD3 yang menjadi alat menyingkirkan PDIP sebagai pemenang pemilu hingga gagal menempati kursi pimpinan parlemen dan MPR, meskipun sebuah.

    Ini adalah awal politik pecah-belah dengan strategi SBY ada di tengah-tengah. Sesungguhnya omongan SBY tentang partai penyeimbang itu hanyalah sampah. Dia selalu memihak, bersikap banci, dan selalu mencari-cari celah.

    Puncak polarisasi politik itu, dengan posisi pro Jokowi dan pro Prabowo, dengan kompor dan provokasi SBY, terjadi di Pilkada DKI 2017 yang begitu keras dan berdarah-darah. Penyebabnya adalah Prabowo dan SBY serta pendukung mereka frustasi akibat Pilpres 2014, Prahara kalah.

    Kekalahan Prahara adalah kegagalan SBY memiliki kroni Hatta Rajasa, besannya – karena Prabowo-Hatta kalah. Jelas SBY mendendam dan bersumpah tak akan lagi kalah. Semua strategi dan cara akan ditempuh untuk menang, meskipun berdarah-darah.

    Gandeng Islam Radikal

    Frustasi akibat kalah di Pilpres 2014, dan kehancuran koalisi Prabowo bernama KMT – akibat membelotnya Golkar ke Jokowi – membuat SBY dan Prabowo menengok dan menggandeng Islam radikal dan ormas lain agar tidak kalah. Ini juga buah kelicikan SBY yang sudah menanamkan kekuatan Islam radikal seperti HTI, FPI, FUI dan lainnya yang suatu saat bisa digunakan untuk berkiprah.

    Momentum itu muncul di Pilkada DKI 2017 yang penuh dengan kampanye hoax, isu SARA, mayat dan ayat, serta fitnah. SBY dan Prabowo lebih gembira lagi karena kasus Ahok membuat Jusuf Kalla, ARB, Bude Titiek, dan bahkan Om Tommy, dan kalangan Islam garis keras, bersatu padu menggempur Ahok dengan segala cara baik, buruk, legal, atau pun sah. Semua cara ditempuh tanpa kenal lelah.

    Selain itu, tidak hanya partai agama PKS saja yang melakukan pengaderan melalui majelis taklim dan masjid-masjid, SBY pun membuat majelis taklim Demokrat, dengan dana luar biasa besar, untuk membangun kesetiaan di berbagai provinsi dan wilayah. Ini memberikan kekuatan basis pendukung fanatik bagi Demokrat – dan pada gilirannya aliansi dengan Prabowo dianggap akan kokoh dan tak akan goyah.

    (Pasca kemenangan Islam radikal di DKI 2017, bahaya politik identitas Islam ini pernah disampaikan secara langsung oleh one of the Operators kepada Prabowo, karena bahaya bagi NKRI bisa terpecah-belah. Peringatan itu tampaknya tidak digubris karena dia beranggapan Islam radikal adalah trend politik yang sedang naik daun dan menjadi berkah.

    Peringatan sebagai sesama politikus yang sama-sama paham, bahwa merangkul Islam radikal akan sulit kembali membuang mereka ketika kepentingan sudah diraih dengan susah payah. Islam radikal akan menjadi benalu bagi yang memerintah. Prabowo abai terhadap peringatan ini karena merasa kemenangan Pilkada DKI adalah jalan menuju kemenangan Pilpres 2019 yang tinggal selangkah.)

    Militansi Koalisi Pendukung

    Prabowo dan SBY didukung oleh para pendukung yang fanatik, sumbu pendek, militan, gigih tanpa kenal menyerah. Para simpatisan Prabowo dengan Gerindra, pendomplengan wani piro ala partai agama PKS, menawarkan loyalitas yang tak pernah patah. Mereka membutakan diri mereka dengan segala informasi yang mereka cerna dan kunyah.

    Hanya informasi penuh intrik dari kelompok merekalah yang dianggap benar, sahih, dan sah. Berita benar dari selain sumber mereka dianggap sampah. Itulah sebabnya untuk memecah dan memengaruhi sikap politik dan menjauhkan polarisasi dua kubu, mustahil atau sangatlah susah.

    Berbekal militansi itu, maka diperlukan corong strategis untuk selalu memelihara pendukung selama 5 tahun, sejak mereka kalah, sampai 2019 nanti dengan tekad bulat tak mau kalah. Untuk itu Fadli Zon dan Fahri Hamzah dipasang untuk berkoar dengan cara nyinyir terhadap Jokowi dan prestasi Jokowi, semua hal dan pencapainnya dianggap sebagai sampah. Dengan cara demikian, imej, kesan yang terpatri adalah Jokowi tidak layak memerintah.

    Saracen dan Media Sosial Pemecah Belah

    Salah satu strategi paling efektif untuk memertahankan status quo dukungan adalah dengan cara politik identitas yang memang memecah-belah. Untuk memertahankan status quo tersebut, maka Parbowo menyewa media strategist bernama Noudhy Valdryno, Robb Allyn, hingga Denny JA, dan Eep Saefullah Fatah.

    Kemenangan Anies Sandi pun tak bisa lepas dari peran para media strategist yang bekerja keras tak mengenal lelah. Hal ini masih didukung oleh pasukan cyber army warga partai agama PKS dan juga sebagian dari kalangan cyber dari ormas, misalnya HTI, FPI, FUI, GNPF MUI, dan sebagian Muhammadiyah. Fenomena penyebaran informasi bersatunya partai agama PKS yang Ikhawanul Muslimin dan ormas lain yang salafi tampak aneh dan tidak lumrah.

    Saking hebatnya pendanaan, kekuatan kohesif antar partai, sebaran berita fitnah yang mewabah, hingga pemanfaatan kelemahan strategi lawan, membuat kejumawaan Prabowo dan SBY membuncah. Secara blatant dan terang-terangan aliansi mereka itu muncul ke permukaan, diketahui oleh publik, ketika pancingan testing the water Jokowi termakan secara mentah-mentah.

    Itulah UU Pilpres 2019 dan Perppu Ormas yang menghancurkan harapan kelanjutan kemenangan strategi Pilkada DKI 2017 membuat mimpi mereka musnah. Jelas mereka protes keras, jengkel, kesal, darah mendidih, dan gundah. Maka tuduhan terhadap Presiden Jokowi sebagai abuse of power pun disampaikan dengan nada kesal dan penuh amarah.

    Kini, segala tabiat strategi politik yang demikian mengerikan – dengan kampanye penuh kebencian dan memecah-belah – pelan namun pasti terbuka dari berbagai arah. Perlawanan silent majority yang mendukung penuh Polri, TNI, dan Presiden Jokowi untuk melawan gerakan penghancuran terhadap NKRI, dan pemerintahan Jokowi yang sah.

    Dukungan rakyat itu menjadi modal spirit ketegasan bersama melawan Islam radikal, koruptor, teroris, mafia, dan politikus bromocorah.  Salah satu hasil paling spektakuler – namun bisa menjadi boomerang jika tindakan tegas tidak dilakukan – adalah dibukanya kedok Saracen produsen dan penyebar hoax, meme, narasi, cerita, dan fitnah.

    Tenggelamnya Kiprah Politik

    Melihat aliansi kekuatan Prabowo dan SBY seperti itu maka jelas relawan dan pendukung Jokowi dibuat khawatir, takut, bahkan gundah. Kasus yang pernah digarap, dan mereka berhasil seperti Pilkada DKI Jakarta, membuktikan kekuatan mereka yang begitu mighty, bersemangat, kuat dan tampak mustahil kalah.

    (Kupasan kekuatan aliansi Prabowo dan SBY ini hanya sebagian kecil dari excerpt matriks peta kekuatan yang berhasil didata dan disampaikan sederhana agar bisa dipahami dengan mudah. Paparan ini belum membandingkan strategi Jokowi dengan aliansi pengeroyokan Prabowo dan SBY yang tampak kokoh namun sebenarnya rentan roboh. Ini semua tergantung kemampuan adu strategi tim Jokowi dan Prabowo-SBY yang bagi orang awam menebaknya pun begitu susah.)

    Namun, dengan dibongkarnya Saracen terkait pendanaan, kepengurusan, keterlibatan mafia, koruptor, teroris, pengkhianat negara, kalangan partai, pengusaha hitam,politikus sampah, maka dapat dipastikan menjadi awal tersingkirnya praktek politik yang diprakkan politik seperti Prabowo dan SBY, yang tinggal menunggu perintah dari Atas, perintah dan titah. Salam bahagia ala saya, ah sudahlah.



    Penulis :  Ninoy Karundeng    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Soal Saracen Prabowo dan SBY Bungkam, Membongkar Kekuatan yang Perangi Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top