728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 16 Agustus 2017

    #Warta : Perempuan Boleh S3, Tapi Nikahnya Setelah S1


    Beberapa hari yang lalu, dari facebook mbak Linda saya melihat ada suatu bahasan yang cukup menarik untuk saya bahas di Seword. Ini tentang perempuan dan pernikahan.

    Bahasan ini bermula dari ketersinggungan seseorang tentang meme dalam gambar ilustrasi artikel ini. Kondisi sosial budaya kenusantaraan, dimana perempuan kerap dikejar-kejar ketika baru saja lulus SMA dan sarjana, namun kemudian si perempuan harus balik mengejar lelaki ketika sudah lulus S3.

    Dalam budaya sosial kenusantaraan, pertanyaan “kapan menikah” adalah pertanyaan basa-basi paling sering ditanyakan. Di sisi lain hal ini sangat menyebalkan bagi anak-anak muda yang belum memiliki pasangan. Terlebih jika yang bersangkutan baru saja putus cinta. Rasanya kita ingin memaki dan menjahit mulut si penanya. Saya juga pernah merasakannya.

    Frekuensi pertanyaan “kapan menikah” pasti jauh lebih sering diterima oleh perempuan, dan akan selalu terasa menyakitkan kalau kalian tidak bisa menjawabnya dengan tegas dan jelas tentang “kapannya.” Sudahlah, akui saja.

    Dalam sudut pandang yang positif, pertanyaan “kapan menikah” sebenarnya adalah motivasi. Motivasi agar kita bisa segera menikah, motivasi agar kita berani untuk membuka hati dan berbagi kehidupan. Mengapa saya bisa beranggapan seperti itu? Karena saya pun menikah setelah mendapat pertanyaan-pertanyaan serupa.

    Bagi saya, pertanyaan “kapan menikah” bisa berarti sebagai pengingat bahwa kodrat kita sebagai manusia dan sebagai muslim adalah memiliki keturunan. Guna memperbanyak jumlah ummat Islam di bumi, agar memberi manfaat kepada seluruh alam, rahmatan lil alamien.

    Pernikahan adalah ajaran Rasulullah agar kita bisa menjaga diri dari perbuatan maksiat. Selain itu, dalam Alquran sudah dijelaskan bahwa Allah sudah menciptakan istri-istri untuk kita agar kita merasa nyaman, mawadah wa rahmah. Sehingga seharusnya pertanyaan “kapan menikah” adalah pertanyaan yang sama seperti pertanyaan ibadah lainnya, bisa disebut setara dengan “kapan haji?”

    Haji dan menikah memiliki term and condition yang mirip, dilakukan ketika kita sudah mampu untuk melaksanakannya. Hukumnya bisa sunnah, dan malah jadi wajib jika memang sudah mampu.

    Sebaiknya perempuan menikah setelah lulus S1 apa S3?

    Dalam ajaran Islam, sebenarnya tidak ada catatan khusus tentang kapan sebaiknya kita menikah. Sebab saat Alquran diturunkan dan Nabi Muhammad mendapat amanah menyebarkan ajaran Islam, saat itu belum ada istilah S1 ataupun S3. Tidak juga dijelaskan tentang umur atau usia terbaiknya. Artinya kita bebas untuk menikah di usia berapapun asalkan sudah baligh atau dewasa.

    Jika melihat pada sejarah Nabi, beliau menikah dengan Khadijah, perempuan yang jauh lebih tua darinya. Tetapi setelah Khadijah wafat, Nabi menikah dengan Aisyah, perempuan yang jauh lebih muda darinya. Sementara istri-istri setelah Aisyah adalah janda-janda dari sahabat yang wafat di medan perang.

    Dari sejarah ini, seharusnya dapat disimpulkan bahwa seorang lelaki bisa saja menikah dengan perempuan yang lebih tua, tetapi juga bisa menikah dengan yang lebih muda. Lelaki bisa menikah lebih dari satu, jika memang dibutuhkan, seperti para janda di jaman nabi yang butuh perlindungan. Bukan malah mengejar perawan saat istri pertama masih hidup sehat walafiat.

    Jadi, tidak masalah perempuan memilih untuk menjadi seperti Aisyah yang menikah di usia muda, atau seperti Khadijah yang menikah di usia 40an. Kalian bebas untuk menikah setelah lulus S1 ataupun S3.

    Tetapi jika merujuk kepada kampanye dari BKKBN, usia minimal untuk menikah adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi lelaki. Hal ini diambil berdasarkan ilmu kesehatan, secara biologis dan psikologis, umur ideal yang matang bagi wanita adalah 20-25 tahun dan 25-30 tahun bagi lelaki. Sehingga dalam masa usia ini dianggap usia paling baik untuk berumah tangga. Dan dari teori ini, seharusnya bisa kita simpulkan bahwa beda usia ideal dalam pernikahan sekitar 4-10 tahun lebih muda yang perempuan.

    Lelaki lebih suka yang muda

    Di jaman selfie seperti sekarang ini, saya beranggapan bahwa lelaki lebih suka perempuan yang lebih muda. Hampir semua orang yang saya kenal, mereka menikah dengan lelaki yang lebih tua. Saya sendiri juga menikahi seorang perempuan yang 5 tahun lebih muda.

    Sehingga dengan kenyataan ini, muncul lelucon bahwa lelaki adalah makhluk paling konsisten di muka bumi. Karena dari usia 20an sampai 50an, lelaki selalu tertarik dengan perempuan yang muda dan cantik.

    Salah satu teori pembenaran dari selera daun muda ini adalah kenyataan bahwa perempuan memasuki masa rawan hamil di usia 35 tahun. Menurut dokter spesialis kandungan, Didi Danukusumo, setelah usia 35 tahun kesuburan perempuan menurun dan juga ada ancaman kepada ibu dan hasil kehamilannya (bayi). Ibunya beresiko hipertensi, diabetes sampai kematian. Sementara janinnnya beresiko keguguran, kelainan kromosom dan kematian.

    Bagaimanapun semua ibu-ibu berpotensi meninggal saat bersalin atau janinnya berpotensi keguguran. Namun di usia 35 tahunan, resiko dan potensi tersebut jadi jauh lebih tinggi.

    Sehingga dengan alasan inilah kemudian lelaki akan lebih memilih perempuan muda. Karena pasti tidak akan mudah bagi kita jika harus menikahi perempuan di atas 30an. Sebab jika menangani yang hamil di usia muda saja perlu perhatian ekstra, apalagi yang di usia rawan hamil?

    Selain itu, mengasuh anak bukanlah pekerjaan mudah. Butuh stamina yang kuat, harus siap siaga siang dan malam. Dan secara medis, tubuh manusia mengalami penurunan stamina seiring dengan bertambahnya usia.

    Di luar alasan-alasan teoritis tersebut, lelaki suka visual yang menarik. Yang masih kencang dan belum keriput. Masih energik. Sampai alasan agar perempuan lebih hormat dan nurut. Sebab akan sangat sulit sekali untuk hormat dan nurut jika perempuannya lebih tua.

    Perempuan boleh S3, tapi nikahnya setelah S1


    Dari catatan fakta sosial serta teori psikologis dan medis, menurut saya sebaiknya perempuan menikah setelah S1. Dengan rentang usia 21-25 tahun.

    Bahwa kalian ingin berkarir, ingin berpendidikan, ingin mengejar prestasi dan lain sebagainya, itu boleh-boleh saja. Tetapi jangan sampai semua cita-cita prestisius itu menjadi alasan penghalang kalian menunda pernikahan.

    Bagaimanapun saya hormat kepada perempuan yang punya prestasi gemilang, pendidikan tinggi dan karir yang cemerlang. Tetapi jangan sampai apa yang kalian capai dan akan lakukan ke depan, sekaligus menganggap bahwa menjadi ibu rumah tangga sesegera mungkin itu bukan suatu pilihan yang baik.

    Kalau nanti setelah menikah dan memiliki anak kalian ingin lanjut S3, berkarir dan sebagainya, silahkan saja. Saya punya beberapa teman yang baru melanjutkan pendidikannya setelah memiliki beberapa orang anak. Dan saya pikir kalian juga akan lebih sering menemukan mahasiswa S3 yang sudah menikah dibanding yang masih jomblo.

    Karena memang melanjutkan S3 setelah menikah dan tua itu tidak beresiko tinggi pada kesehatan. Berbeda dengan melahirkan dan mengasuh anak yang membutuhkan stamina kuat dan usia muda agar janinnya tumbuh dengan baik. Untuk itu idealnya memang menikahlah selagi muda, seusia baru lulus S1.

    Terakhir, sebagai penutup, saya ingin mengutip pernyataan istri saya beberapa hari yang lalu “Tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang perempuan selain hamil, melahirkan, menyusui dan mengasuh anaknya dengan tenang.”

    Begitulah kura-kura.


    Penulis :   Alifurrahman   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Perempuan Boleh S3, Tapi Nikahnya Setelah S1 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top