728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 16 Agustus 2017

    #Warta : Pentolan OPM Sadar, Jokowi Bapaknya Orang Papua Juga

    Sebuah hadiah bagi negara kesatuan RI menjelang 72 tahun hari kemerdekaan, diperoleh di tanah Papua. Panglima Tentara Pembebasan Nasional – Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) Yapen Timur Kris Nussy alias Corinus Sireri bersama anak buahnya menyerahkan diri pada Selasa (15/8/2017).

    Corinus mengaku baru menyadari bahwa ia dan anak buahnya telah ditipu oleh pihak-pihak kelompok OPM di Papua yang menyatakan perjuangan mereka akan menghasilkan kemerdekaan Papua. “Semua itu hanya tipu-tipu. Perjuangan kami selama 20 tahun tidak menghasilkan apa-apa, malah kami dibenci masyarakat kami sendiri,” katanya.

    Wilayah Papua yang sebagian besar merupakan daerah pegunungan, dengan hutan rimba perawan menaungi sebagian besar teritorialnya, menyebabkan kesulitan yang tinggi untuk menjamahnya.

    Tidak heran, jika TNI di daerah paling timur Indonesia itu, belum sepenuhnya berhasil mengajak saudara sebangsanya kembali ke pangkuan ibu pertiwi, karena mereka dengan alasan tertentu bergerilya di hutan-hutan sebagai tentara separatis melawan pemerintah.

    Bersyukur, belakangan mereka mulai menyadari kekeliruan atas alasan perjuangannya. Satu poin penting bagi pemerintah Presiden Joko Widodo, imbas dari pembangunan yang mulai bergeliat di tanah Papua, termasuk menjamin keseragaman harga-harga kebutuhan pokok dengan wilayah lainnya, tampaknya menjadi salah satu faktor titik balik perlawanan, sehingga membuahkan efek positif, karena selama ini usaha menyadarkan mereka, selalu menemui kendala yang tidak kecil.

    Lebih sebulan sebelumnya, sebanyak 15 orang dari Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) yang selama ini dikenal sebagai militan pendukung Pimpinan TPN-OPM Papua Goliat Tabuni menyatakan diri bergabung dalam NKRI. Selain 15 orang militan TPN-OPM yang mendeklarasikan diri untuk masuk NKRI, ada juga 200-an warga Tingginambut yang selama ini sebagai pendukung Papua Merdeka menyatakan diri untuk ikut NKRI. Deklarasi berlangsung, Sabtu (1/7/2017).

    Untuk menarik lebih banyak anggota OPM yang masih bergerilya di hutan-hutan, perlu upaya pemerintah sebagai lanjutan program-program pro rakyat, khususnya di wilayah tanah Cendrawasih itu. Kiprah pemerintah pusat dengan menggelar infrastruktur dalam skala besar di sana, menjadi momentun sangat tepat sebagai salah satu pendekatan.

    Pendekatan berikutnya, perlu menyediakan fasilitas bekerja bagi mereka yang baru keluar dari perjuangan, agar disamping mereka mampu hidup secara mandiri, juga boleh jadi menjadi daya tarik yang efektif untuk rekan-rekannya yang masih mengangkat senjata. Disamping itu, pembekalan kepada mereka sebaiknya termasuk pemberian wawasan kebangsaan. Dengan demikian mereka akan memiliki rasa cinta tanah air yang kuat dan berakar.

    Atau mungkin pendekatan bagi OPM yang masih aktif, juga melibatkan rekannya yang sudah insyaf agar secara emosional sesama penduduk Papua, menjadi faktor memudahkan negosiasi, meskipun bisa saja justru menghasilkan hal sebaliknya. Maka pilihan untuk menempuh cara ini, harus dihitung dengan sangat matang.

    Ada hal yang menarik dari kisah perjuangan mereka, dimana setelah bertahun-tahun perjuangan mereka, belakangan baru menyadari menjadi korban dari pemimpin mereka. Akibat dari perasaan sebagai korban penipuan pimpinan mereka itu, menjadi bumerang dan melatar belakangi kembalinya mereka ke pangkuan keluarga.

    Beberapa waktu lalu Menko Polhukam, ketika masih dijabat Luhut Binsar Panjaitan menekankan pentingnya memberi amnesti, kepada mereka yang sudah sadar. Disamping pemberian amnesti, lebih jauh Menko Polhukam ingin menempuh jalan dialog dalam mengatasi dan meredam separatisme di tanah Papua.

    Segera setelah turun dari medan perjuangan dan bergabung dengan masyarakat,  penasehat spritual Goliat Tabuni Panglima Tertinggi Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) yang bermarkas di Tingginambut, Puncak Jaya, Papua, bernama Wanis Tabuni, berjanji akan mengajak Goliat untuk turun gunung dan bergabung ke NKRI.

    Dalam satu kesempatan, Gubernur Papua sempat menanggapi adanya pihak yang berada di luar negeri, memprovokasi warga Papua dalam upaya memerdekakan diri.

    Gubernur Papua Lukas Enembe bicara soal kelompok pro Papua Merdeka United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Lukas mengatakan, lebih penting mengurus kesejahteraan rakyat Papua daripada menghabiskan energi memikirkan kelompok tersebut.
    Lukas mengatakan, ULMWP tidak ada urusannya dengan pemerintah daerah Papua. Sebab kelompok itu merupakan gerakan diplomasi di dunia internasional.

    “Itu (ULMWP) bukan urusan kita (Pemda). Itu soal urusannya diplomasi internasional dan ini kan perkaranya ke luar negeri. Tampaknya masalah Papua membutuhkan langkah diplomasi, agar suara yang seolah-olah mengatasnamakan rakyat Papua, yang muncul dari pihak asing dapat diminimalisir, kalaupun tidak bisa dihilangkan.




    Penulis :   Ruskandi Anggawiria   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Pentolan OPM Sadar, Jokowi Bapaknya Orang Papua Juga Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top