728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 31 Agustus 2017

    #Warta : Nyanyian Aris di Depan Pansus Hak Angket DPR, Akankah KPK Memecatnya?

    Singkat saja, aku ingin menuliskannya!

    Jauh sebelumnya, beredar kabar ada sebuah rekaman video yang diputar saat sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Miryam mengungkap bahwa ada sejumlah pegawai KPK, termasuk yang disebut sebagai direktur penyidikan, yang menemui anggota Komisi III DPR.

    Dalam rekaman tersebut juga menyebut Aris bertemu dengan anggota Komisi III DPR sekaligus menerima uang Rp 2 miliar.

    Dalam percakapan itu, Miryam sempat mengatakan ada pejabat di KPK yang mendatangi anggota Komisi III DPR. Pejabat itu meminta uang Rp 2 miliar untuk pengamanan kasus korupsi e-KTP.

    Kepada Novel, Miryam mengaku tak kenal dengan pejabat KPK tersebut. Namun, saat Miryam menunjukan sebuah gambar, Novel sempat menyebut kata ‘oh Pak Direktur’. Belakangan diketahui ternyata itu adalah Direktur Penyidik KPK Aris Budiman.

    Hari ini salah satu stasiun televisi dan beberapa media portal berita berbasis online, mengabarkan bahwa Aris (Direktur Penyidik KPK) menghadiri undangan Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPR terhadap KPK, Selasa 29 Agustus 2017.

    Kehadiran Aris di Pansus Angket KPK karena ingin mengklarifikasi kebenaran percakapan antara Miryam S Haryani dan penyidik KPK Novel Baswedan. Percakapan dalam video saat pemeriksaan Miryam tersebut sempat ditayangkan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.

    Dihadapan Pansus hak angket DPR terhadap KPK, Aris Budiman menyebutkan Novel Baswedan sangat berkuasa di lembaga antirasuah itu. Kedudukan Novel bahkan bisa mengubah kebijakan pimpinan KPK.

    “Saya bilang orang ini terlalu powerfull bisa pengaruhi kebijakan,” kata Aris Budiman saat Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Pansus Hak Angket KPK di DPR RI, Jakarta, Selasa (29/8/2017).

    Saya pribadi memandang, tidak semestinya Aris klarifikasi demikian di depan Pansus hak angket DPR terhadap KPK. Karena Aris adalah bagian dari KPK maka hal ini dapat dibawah dalam ranah internal KPK itu sendiri. Karifikasi yang dilakukan pada kasus yang dituduhkan kepadanya justru memperlihatkan tindakan yang reaksioner dan tampak mengedepankan kepentingan untuk diri sendiri.

    Apalagi diketahui bahwa kehadiran Aris ke Pansus Angket tak mendapat izin dari pimpinan KPK. Sebab, pimpinan KPK masih beranggapan pembentukan Pansus Angket cacat hukum. Bahkan, pimpinan mengizinkan wadah pegawai KPK untuk menguji pembentukan Pansus Angket ke MK.

    Kehadiran Aris di Pansus selain memberikan klarifikasi terhadap dugaan pertemuannya dengan beberapa anggota DPR terkait kasus E-KTP, keterangan Aris juga terlihat menyudutkan Novel Baswedan yang sampai sekarang masih tahap pemulihan pasca diteror (air keras) oleh oknum  yang tak bertanggung jawab.

    Selain itu, Aris juga menyampaikan dan membeberkan kepada Pansus Hak Angket KPK soal friksi di tubuh lembaga antirasuah. Jenderal bintang satu itu membongkar salah satu friksi yang menerpanya terkait dengan penambahan penyidik di KPK.

    Tentang Novel Baswedan sebagai Ketua Wadah Pegawai memang pernah mengirim email yang keras menolak ditambahnya penyidik dari unsur kepolisian karena meragukan integritas penyidik dari kepolisian. Akan tetapi hal ini bukanlah persoalan yang krusial, dan mengenai “penambahan penyidik” seharusnya menjadi urusan internal KPK, bukan pansus, terlebih concern Novel dan Wadah Pegawai sangat beralasan. Urusannya sama Pansus apa?

    Juru Bicara KPK Febri Diansyah tak membantah friksi sebagaimana yang disebut Aris. Menurut dia, hal tersebut merupakan bagian dari dinamika dalam sebuah organisasi.

    “Di KPK sendiri tentu saja ada hubungan-hubungan, ada relasi-relasi kerja antarberbagai unit. Dalam interaksi tersebut tentu ada diskusi dan dinamika sendiri,” kata Febri.

    Peneliti Indonesia Corruption Watch Donal Fariz mengatakan protes dari Novel terhadap Aris merupakan hal biasa dalam sebuah lembaga. Saya pribadi menyepakati apa yang disampaikan Donal. Karena disisi lain Pansus Hak Angket DPR sendiri belum diakui KPK dan cacat hukum. Lah ini Aris malah membangkang, Internal belum mengakui Pansus hak angket, mendapat izin dari pimpinan juga tidak, tapi hadiri undangan pansus dan mendiskreditkan novel serta soal penambahan penyidik dari KPK itu sendiri. Itu sama saja mencemari nama baik institusi, dan profesionalisme sekaligus integritas kelembagaan itu sendiri.

    Ada apa ini? Apakah semua ini juga termasuk skenario pelemahan KPK dari internal? Setelah diserang bertubi-tubi tapi tetap gagah.

    Dalam laman mediaindonesia, juga pernah mengabarkan, bahwa Aris diduga juga pernah menghalangi penetapan tersangka kasus korupsi. Aris Budiman diduga menghalangi penetapan Setya Novanto sebagai tersangka dengan menyatakan keberatan terhadap hasil gelar perkara yang sudah menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka.

    Artinya ada beberapa tindakan Aris yang diduga bertentangan dengan kerja pemberantasan KPK, jadi kalau adanya protes dari internal, itu wajar-wajat saja.

    Begini saja, hemat saya kalau begitu sebaiknya Aris kembali ke institusi kepolisian, dan tentunya kepolisian harus melihat hal ini dengan objektif, jika Aris jelas tidak mengikuti aturan dalam penugasan di KPK, tentunya pemberian sanksi terhadap dirinya harus dilakukan.

    Wah sepertinya KPK dihajar luar dan dalam, entahlah…, Bagaimana menurut pandangan anda? Disisi lain kasus “air keras” yang menimpa Novel, sampai saat ini belum diketahui pelakunya dan otak intelektualnya.



    Penulis :  Losa Terjal      Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Nyanyian Aris di Depan Pansus Hak Angket DPR, Akankah KPK Memecatnya? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top