728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 31 Agustus 2017

    #Warta : Novel Versus Aris, Pahlawan dan Brutus Bagi Pihak yang Berlawanan

    Lagi-lagi Novel Baswedan, kerikil yang kerap menerjang KPK, dan terakhir melalui Direktur Penyidiknya yang membangkang pimpinan sendiri untuk hadir di rapat dengan Pansus angket KPK, tidak lepas dari faktor Novel Baswedan.

    Benang merah perseteruan Novel Baswedan, yang bisa kita golongkan sebagai murni internal KPK, dengan Brigjen Polisi Aris Budiman, yang meskipun posisinya sebagai Direktur di KPK, tetapi yang bersangkutan adalah perwira aktif Kepolisian RI, menarik untuk dianalisis.

    Perihal fakta Novel pernah diberikan Surat Peringatan ke-2, yang kemudian dicabut oleh Pimpinan KPK saat itu. Kasus yang memicu SP-2 Novel terkesan disamarkan dalam pembicaraan dengan Pansus tersebut.

    Seolah-olah pemicunya adalah perlawanan Novel atas usulan Dirdik untuk merekrut penyidik dari Polri yang berpangkat Pamen. Sementara yang santer diberitakan, SP-2 berkaitan dengan protes keras Novel atas usulan Aris, agar menunjuk penyidik yang berasal dari Polri sebagai ketua Satgas kasus e-KTP.

    Perbedaan fakta ini terlihat seperti memberi penekanan tertentu kepada Novel. Lebih-lebih setelah itu ada keterangan lain bahwa Novel terlalu powerfull sehingga bisa mempengaruhi kebijakan pimpinan.

    Brigjen Aris sangat kecewa dan marah ketika Novel yang mengatas namakan Wadah Pegawai mengirim surel, dan menuduh dirinya tidak berintegritas.

    Mari kita analisis, apakah tuduhan Novel memiliki unsur kebenaran ? Dengan bersikap memunggungi larangan Pimpinan KPK, dan memilih memenuhi undangan Pansus, Aris dengan sendirinya memberi konfirmasi bahwa memang dia menunjukkan tuduhan Novel itu benar.

    Integritas ini tentu harus dimaknai sebagai lingkup yang memiliki batas, apakah internal institusi tempatnya mengabdi, atau lebih dari itu. Sebagai Direktur dia tentu harus tunduk kepada atasannya, dan bukan kepada pihak luar, apa lagi dia berani menafsirkan sendiri legalitas pansus, yang oleh internal KPK belum disikapi.

    Adapun tentang friksi yang dia ungkapkan terjadi di internal KPK. Hal ini terlihat dipaksakan, karena friksi seperti itu di institusi apa pun pasti selalu terjadi. Bahkan di dalam keluarga inti, friksi itu menjadi makanan sehari-hari.

    Jika semua perselisihan antar unsur di dalam kalangan sendiri, diungkap ke pihak luar, semata-mata menjatuhkan kewibawaan lembaganya, maka integritas yang bersangkutan akan dianggap rendah.

    Pansus tampaknya sangat tahu tentang hal ini, dan sebagaimana trik-trik para politisi, mereka sengaja melakukan manuver untuk menggiring opini publik tentang kelemahan KPK. Mereka seperti ingin menelanjangi KPK dari semua sisi. Dan paling mudah mengungkap sisi kekurangan itu, adalah dengan melalui orang-orang yang bermasalah.

    Sampai batas ini, kita sebagai pemerhati harus secara cermat menilai. Jangan mudah menganggapnya seperti apa yang terlihat di permukaan. Para pihak yang diundang oleh Pansus, mayoritas adalah mereka yang menjadi sasaran bidik KPK. Dari fakta ini, dapat dipastikan mereka akan dengan mudah menyampaikan pendapat mereka versi minusnya KPK. Terlepas apakah mereka kalangan luar atau dari dalam KPK sendiri, termasuk Brigjen Aris Budiman.

    Apakah fakta tentang Novel yang diungkapkan Aris benar adanya ? Bahwa Novel terlalu powerfull, boleh jadi ini mengandung kebenaran, namun harus menjadi catatan, bagaimana proses sehingga dia menjadi powerfull.

    Integritas dan kecerdasan seseorang, lebih-lebih jika potensi itu sangat minim keterkaitannya dengan status dan jabatannya, maka di sinilah kekuatan dia. Novel yang hanya berpangkat Kompol, dan ketika bergabung dengan KPK memperlihatkan kinerja sangat baik, sehingga popularitasnya luas, maka kita pasti sepakat tentang kekuatan yang dia miliki pasti sangat mumpuni.

    Ketika para penyidik internal di KPK memberikan dukungan kepada Novel, tentu karena integritasnya, termasuk karena posisinya sebagai ketua Wadah Pegawai. Tidak mudah untuk mendapat dukungan seperti itu, kecuali karena potensi dirinya memang diakui oleh mereka.

    Kembali kepada Aris Budiman, fakta bahwa yang bersangkutan membangkang pimpinan, tidak bisa dibantah. Kemudian bantahan dirinya tidak bernafsu menjadi objek pemberitaan, tentu tidak setiap orang mampu diberitakan secara luas dan meresponnya dengan pas pula, apalagi karena tujuan hidupnya memang bukan dipusatkan pada popularitas, melainkan kepada hal lain yang mungkin paling menguntungkan dirinya. Jadi hal ini bukanlah menjadi nilai lebih yang melekat pada dirinya.

    Jika dia tidak ingin menjadi objek pemberitaan, bagaimana dengan langkahnya menghadap pansus ? Tentu tidak terhindarkan, akan menjadi pemberitaan luas. Apakah hal ini tidak diperhitungkan ? Atau memang sudah termasuk dalam agenda dia mengambil keuntungan ?


    Penulis :    Ruskandi Anggawiria    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Novel Versus Aris, Pahlawan dan Brutus Bagi Pihak yang Berlawanan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top