728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 22 Agustus 2017

    #Warta : Menyikapi Rencana Pembangunan Gedung Baru DPR dari Sisi yang Berbeda

    Rencana pembangunan gedung baru dan apartemen dewan perwakilan rakyat menuai reaksi negatif. Hasil survei detik.com, menunjukkan 5% senang dan 95% marah yang dilambangkan dalam emotikon. Di luar survei ini saya termasuk pro atas pembangunan gedung baru, namun kontra terhadap pembangunan apartemen.

    Alasan gedung baru menjadi prioritas dewan cukup masuk akal yakni untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan karena gedung lama miring 7 cm dan lift sudah 2 kali jatuh. Alasan kedua yang saya himpun yakni untuk meningkatkan kinerja bila ruang kerja luas dan nyaman.

    Terdapat penilaian negatif terhadap kinerja anggota dewan, terlebih kasus besar korupsi E-KTP yang diduga kuat disutradarai oleh mereka-mereka. Sehingga, hal ini menjadi faktor pemicu posisi kontra lebih dominan dan jauh dibanding yang pro.

    Aset Negara

    Jangan dilupakan baik gedung lama maupun gedung baru yang nantinya terealisasi merupakan aset negara. Itu yang pertama. Karena memang merupakan aset negara, otomatis juga merupakan aset warga negara, termasuk saya dan kita. Mengapa?

    Di warung kopi atau di pertemuan kecil komunitas saya akan memberi pujian kecil bahwa negara kita telah memiliki gedung baru. Artinya, gedung itu perlu kita anggap sebagai sumbangan kita bersama melalui pajak yang diterima oleh negara.

    Harus kita maknai juga bahwa yang namanya aset negara berarti bukanlah milik pribadi anggota dewan periode sekarang. Mereka hanyalah penghuni periodik yang mendapat tempat khusus oleh suara konstituen yang dipercaya karena harapan mereka mungkin bisa terwakilkan.

    Ini suatu pemahaman penting yang bisa saya cermati untuk sedikit mengurangi sikap sinis terhadap mereka yang rakus demi memperkaya diri sendiri. Juga untuk mereka yang benar-benar berintegritas bekerja dan berkarya untuk rakyat.

    Mungkin pembangunan gedung baru nantinya akan menghabiskan anggaran dalam bilangan triliun. Negara, menurut saya, dalam hal ini hanya memfasilitasi anggota dewan dengan mengubah wujud dana menjadi sebuah fisik bangunan. Oleh karenanya, saya tidak perlu beropini negatif atau sampai tarik urat menanggapi rencana tersebut.

    Bagai seorang bayi yang baru lepas asi eksklusif, pemerintah sebagai lembaga eksekutif, mungkin boleh menganggap anggota dewan sebagai lembaga legislatif yang membutuhkan makanan pendamping asi yang cukup dan bergizi tinggi lewat fasilitas baru. Dengan begitu mereka mungkin tidak lagi bernafas sesak di ruang sempit, tidak lagi berbagi kamar mandi, memiliki ruang tamu yang memadai, dan ruang kerja yang nyaman untuknya dan tenaga ahli dan staff.

    Dampak Pembangunan Gedung Baru

    Realisasi atas pembangunan gedung baru DPR 2018 sebenarnya merupakan ancaman sekaligus buah simalakama. Tentulah akan dibuktikan lewat progres kinerja yang akan menjadi turunan kesinambungan keterwakilannya. Misalnya, secara sadar saya akan semakin garang mengkritik dan menuntut hasilnya. Karena terang-terangan mereka berasumsi fasilitas gedung baru akan berdampak pada peningkatkan kinerja.

    Selain itu, bisa juga menjadi buah simalakama. Maksudnya, ketika kinerja menurun otomatis popularitas mereka ikut turun dan kesempatan untuk duduk kembali akan sulit. Masyarakat sudah sangat cerdas dan kritis. Tidak akan cuek terhadap kinerja orang-orang yang duduk di lembaga publik.

    Sekarang saya coba tempatkan kinerja di prioritas kedua. Yang utama bersih dari korupsi. Meski sikap pesimis saya lebih besar, saya patut mengapresiasi mereka yang baik dan jujur yang belum kelihatan di permukaan. Mungkin ada sosok seperti Pak Ahok, sang mantan, yang sempat duduk di komisi II DPR-RI.

    Perilaku koruptif bisa dibilang tontonan sehari-hari saya. Banyak yang sudah dibui, proses dalam persidangan, dan mereka yang masih diburu. Lantas, adakah dampak pembangunan itu nantinya terhadap perilaku bersih dan jujur?

    Sumpah tupoksi DPR bisa jadi acuan. Menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat. Poin ini sebenarnya sangat menohok dan paling menentukan hubungan anggota dewan dengan rakyat, hubungan program dengan pencapaian, dan hubungan gedung lama dan baru.

    Gedung baru diharapkan akan melahirkan buah pikir progresif baru untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. Apalagi gedung itu akan digunakan sebagai ruang kerja dengan perkiraan luas 117 meter persegi. Dan akan lebih banyak menerima tamu akar rumput, bukan didominasi oleh pejabat yang berkepentingan, pengusaha atau kontrakor untuk bagi-bagi proyek.

    Tidak janggal saya katakan nantinya gedung baru DPR adalah untuk dan milik kita bersama. Gedung yang sekarang sudah ujur, dibangun pada tahun 1965 di masa pemerintahan Soekarno. Rencana itu saya sikapi dengan wajar, bukan berarti tutup mata terhadap program prioritas lain yang dicanangkan oleh pemerintah pusat.




    Penulis  :   Ardin Silalahi    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Menyikapi Rencana Pembangunan Gedung Baru DPR dari Sisi yang Berbeda Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top