728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 29 Agustus 2017

    #Warta : Mengalah dari Prabowo di Pilkada DKI, Jokowi Membungkamnya Lewat Kasus Saracen

    Prabowo adalah sosok yang lebih dulu memiliki nama di Indonesia. Dengan status seorang mantan jenderal, Prabowo disebut-sebut sangat layak untuk menjadi presiden menggantikan SBY. Kegagalan di Pilpres 2009 nampaknya tidak membuat Prabowo beruntung di Pilpres 2014. Ambisi Prabowo untuk berkuasa di Indonesia dikalahkan orang baru yang belum genap menjalankan jabatannya sebagai gubernur DKI.

    Rasa malu Prabowo serta kebenciannya kepada Jokowi semakin meluap-luap. Rasa malunya sebenarnya disebabkan oleh pendukungnya sendiri. TV One sebagai media milik Abu Rizal Bakri memberitakan hasil Quick Count yang berbeda dengan media TV yang lain. Prabowo terlalu percaya diri dan meyakini apa yang diberitakan TV One adalah fakta. Prabowo tidak menyadari bahwa apa yang diberitakan oleh TV One hanya untuk menghibur kekalahan Prabowo sekaligus dijadikan alat untuk menggugat hasil Pilpres 2014 ke MK.

    Prabowo belum bisa move on dari kekalahan. Dirinya tidak ingin dianggap kalah dan tidak lebih baik dibanding Jokowi. Pilkada DKI menjadi ajang pembalasan dendam Prabowo kepada Jokowi. Anies-Sandi dijadikan alat untuk memukul Ahok yang notebene dekat dengan Jokowi. Minimal kemenangan Anies-Sandi di Pilkada DKI bisa menaikkan harga diri Prabowo di hadapan Jokowi. Saat itu, Prabowo sesumbar bahwa kemenangan Anies-Sandi akan membuatnya kembali bertarung di Pilpres 2019. Pernyataan Prabowo seperti sebuah ancaman kepada Jokowi yang sebelumnya berhasil mempercundanginya.

    Meskipun Jokowi pada Pilkada DKI bersikap netral, namun sebetulnya sebagai manusia biasa, dirinya pasti punya subjektivitas. Kedekatan dengan Ahok menjadikan alasan Jokowi disebut-sebut mendukung Ahok pada Pilkada DKI. Terlebih, partai Jokowi (PDI P) adalah pengusung Ahok.

    Boleh dikatakan pengaruh Jokowi dikalahkan oleh pengaruh Prabowo. Bisa juga dikatakan bahwa Pilkada DKI membuat kedudukan Jokowi dan Prabowo 0-1 untuk kemenangan Prabowo. Skor ini adalah sejak Jokowi menjadi presiden. Jadi kemenangan Jokowi di Pilpres 2019 tidak masuk hitungan. Tapi sebetulnya, Jokowi tidak kalah. Jokowi hanya mengalah untuk sementara, karena melihat dampak yang ditimbulkan jika dirinya tidak mau mengalah.

    Jokowi membiarkan Ahok dihukum dan kalah semata-mata demi menjaga keutuhan NKRI. Pilihan Jokowi saat itu hanya lah membiarkan Prabowo bangga dan jumawa dengan kemenangan Anies.

    Jokowi kemudian mencoba menguji Prabowo dengan disahkannya presidential threshold 20%. Ujian ini memang sempat membuat Prabowo kalang kabut, melakukan safari politik untuk mengais dukungan. SBY pun menjadi salah satu sosok yang dikunjungi dan dicurhati oleh Prabowo dan kemudian muncul luapan emosi Prabowo dengan mengatakan presidential threshold 20% adalah lelucon politik.

    Disahkannya presidential threshold 20% yang mampu membuat Prabowo ketar-ketir bisa dianalogikan sebagai gol penyeimbang Jokowi yang membuat skor menjadi 1-1. Presidential threshold 20% memang sedikit membuat Prabowo ketar-ketir dan tidak segarang biasanya dalam melontarkan pernyataan. Namun hal itu ternyata belum mampu untuk membungkam Prabowo secara tuntas dan mengembalikan kedudukan menjadi 2-1 untuk Jokowi.

    Semenjak Prabowo merasa bangga dan jumawa Anies-Sandi berhasil memenangkan Pilkada DKI, saya yakin Jokowi sudah memiliki senjata-senjata untuk membungkan Prabowo. Presidential threshold 20% menjadi senjata pertama Jokowi yang mampu menyeimbangkan keadaan.

    Setelah ini, Jokowi mengeluarkan serangan baru yang saya pikir telah berhasil membungkam Prabowo dan mengubah kedudukan menjadi 2-1. Saya yakin Jokowi beserta Kapolri sudah mncium keberadaan Saracen. Namun dengan berbagai pertimbangan, kemungkinan baru sekarang kasus Saracen diungkap ke publik.

    Jokowi tipe petarung yang tidak langsung membunuh musuhnya, namun membunuhnya dengan cara pelan-pelan. Jokowi tidak langsung mengeluarkan bom atom untuk menghancurkan musuhnya, namun secara bertahap dengan mengeluarkan bom-bom yang daya ledaknya lebih kecil.

    Saracen ternyata mampu membungkam Prabowo. Permintaan Jokowi untuk mengusut tuntas dalang Saracen semakin membuat Prabowo bungkam. Sampai saat ini, Prabowo masih bungkam dan tidak berani melontarkan komentar terkait kasus Saracen. Apa sebab?

    Jasriadi selaku ketua Saracen mengaku sebagai simpatiasan Prabowo. Pelaku yang lain, Sri Rahayu juga disebut-sebut sebagai simpatisan Gerindra dan Anies-Sandi. Fakta-fakta ini secara tidak langsung membuat masyarakat mengarahkan dalang dibalik Saracen ke arah Prabowo. Terlebih, Sri Rahayu adalah orang yang selama ini menebar kebencian kepada Jokowi.

    Kemenangan Anies-Sandi juga mulai diragukan oleh masyarakat. Banyak masyarakat yang mulai memahami bahwa kemenangan Anies bukan karena kehebatan Anies, namun karena Ahok menjadi korban Saracen.

    Saya menunggu Prabowo berbicara untuk mengomentari kasus Saracen yang disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan dirinya, Prabowo, dan Anies-Sandi. Bungkamnya Prabowo sampai saat ini bisa menjadi kode-kode unik dan memunculkan beragam persepsi. Apakah diamnya Prabowo adalah strategi untuk lolos dari keterkaitan dengan Saracen? Saya rasa hal itu mungkin saja terjadi.

    Kesimpulannya, Jokowi memang mengalah di Pilkada DKI, namun kemudian berhasil menyamakan kedudukan lewat Presidential threshold 20% dan membalikkan kedudukan dengan kasus Saracen. langkah Jokowi ini adalah ciri bahwa dia adalah lakon. Dalam filosofi Jawa, lakon akan mengalah terlebih dahulu namun kemudian akan membungkam musuhnya dengan sangat telak.





    Penulis : Saefudin Achmad   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Mengalah dari Prabowo di Pilkada DKI, Jokowi Membungkamnya Lewat Kasus Saracen Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top